Perbandingan Kekuatan Militer Irak vs Iran: Dulu Musuh, Kini Tertinggal Jauh
Senin, 04 Agustus 2025 - 13:19 WIB
loading...
A
A
A
Iran memiliki kekuatan laut tidak simetris di Teluk Persia dengan strategi "swarm attack" menggunakan kapal kecil cepat dan rudal anti-kapal.
♦Irak tidak memiliki senjata pemusnah massal sejak 2003 dan lebih mengandalkan kerja sama militer dengan Amerika Serikat dan NATO.
♦Iran diduga memiliki program rudal dengan potensi nuklir, walau belum memiliki hulu ledak. Negara ini memiliki jaringan aliansi milisi Syiah di Irak, Suriah, Yaman, dan Lebanon.
♦Irak hampir tidak ada industri pertahanan strategis pascainvasi AS 2003.
♦Iran mampu memproduksi jet tempur, tank, drone, rudal balistik, dan peralatan tempur ringan.
♦Irak: Pasca-ISIS, sebagian besar aktivitasnya berfokus pada kontra-terorisme dan operasi internal.
♦Iran: Terlibat aktif dalam perang proksi di Suriah, Yaman, dan Irak sendiri; sangat berpengalaman dalam asimetri dan perang hibrida. Iran juga baru-baru ini terlibat perang 12 hari melawan Israel.
Jika Perang Iran-Irak di tahun 1980-an berlangsung dalam situasi relatif seimbang, maka pada 2025, peta kekuatan berubah drastis. Iran telah menjelma menjadi kekuatan militer regional dengan pengaruh strategis lintas batas, sementara Irak masih dalam tahap rekonstruksi dan konsolidasi keamanan internal.
Keseimbangan kekuatan antara dua bekas musuh bebuyutan ini kini bergeser tajam. Irak yang dulu digdaya di bawah Saddam Hussein, kini hanya menjadi aktor militer sekunder. Sebaliknya, Iran yang dulu hampir kolaps pasca-revolusi, kini tampil sebagai pemain dominan Timur Tengah—baik lewat kekuatan konvensional, rudal, maupun perang proksi.
Sumber:Global Firepower 2025 dan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI).
7. Kemampuan Nonkonvensional dan Aliansi
♦Irak tidak memiliki senjata pemusnah massal sejak 2003 dan lebih mengandalkan kerja sama militer dengan Amerika Serikat dan NATO.
♦Iran diduga memiliki program rudal dengan potensi nuklir, walau belum memiliki hulu ledak. Negara ini memiliki jaringan aliansi milisi Syiah di Irak, Suriah, Yaman, dan Lebanon.
8. Kemampuan Produksi Senjata Dalam Negeri
♦Irak hampir tidak ada industri pertahanan strategis pascainvasi AS 2003.
♦Iran mampu memproduksi jet tempur, tank, drone, rudal balistik, dan peralatan tempur ringan.
9. Aktivitas Militer dan Pengalaman Tempur
♦Irak: Pasca-ISIS, sebagian besar aktivitasnya berfokus pada kontra-terorisme dan operasi internal.
♦Iran: Terlibat aktif dalam perang proksi di Suriah, Yaman, dan Irak sendiri; sangat berpengalaman dalam asimetri dan perang hibrida. Iran juga baru-baru ini terlibat perang 12 hari melawan Israel.
Jika Perang Iran-Irak di tahun 1980-an berlangsung dalam situasi relatif seimbang, maka pada 2025, peta kekuatan berubah drastis. Iran telah menjelma menjadi kekuatan militer regional dengan pengaruh strategis lintas batas, sementara Irak masih dalam tahap rekonstruksi dan konsolidasi keamanan internal.
Keseimbangan kekuatan antara dua bekas musuh bebuyutan ini kini bergeser tajam. Irak yang dulu digdaya di bawah Saddam Hussein, kini hanya menjadi aktor militer sekunder. Sebaliknya, Iran yang dulu hampir kolaps pasca-revolusi, kini tampil sebagai pemain dominan Timur Tengah—baik lewat kekuatan konvensional, rudal, maupun perang proksi.
Sumber:Global Firepower 2025 dan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI).
(mas)
Lihat Juga :