Perang Hari Ke-5, Kamboja Tuduh Thailand Gunakan Senjata Kimia

Senin, 28 Juli 2025 - 09:45 WIB
loading...
Perang Hari Ke-5, Kamboja...
Kamboja tuduh Thailand gunakan senjata kimia dalam perang yang telah memasuki hari kelima pada Senin (28/7/2025). Foto/The Aviationist
A A A
PHNOM PENH - Perang Thailand-Kamboja masih berlanjut dan memasuki hari kelima pada hari Senin (28/7/2025). Phnom Penh menuduh Bangkok telah meluncurkan serangan dengan menggunakan senjata kimia.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Kamboja Letnan Jenderal Maly Socheata, dalam konferensi pers, mengatakan bahwa pasukan Thailand melancarkan serangan terhadap Ta Moan Thom dan Ta Krabei dari pukul 03.00 hingga 05.00 pagi ini, meskipun Perdana Menteri Kamboja Hun Manet dan Penjabat Perdana Menteri Thailand Phumtham Wechayachai telah memperingatkan untuk menghentikan serangan.

“Dalam upaya untuk menguasai Wat Keo Kiri Svarak dan mengintensifkan medan perang di wilayah Chub Koki dan Thmor Don, pasukan Thailand melancarkan serangan terhadap Chub Koki, Thmor Don, Veal Intry, Samaki, Ta Thav, dan An Ses, dengan serangan besar-besaran yang dimulai pukul 03.10 dan berlanjut hingga pukul 05.07 pada tanggal 28 Juli,” ujarnya.

Baca Juga: Kamboja Marah Thailand Terus Tembaki Kuil Preah Vihear

“Namun, pasukan Kamboja tetap teguh pada pendiriannya, berjuang dengan tekad yang tak tergoyahkan dan mengorbankan nyawa mereka tanpa ragu dalam menghadapi agresi Thailand," paparnya, yang dilansir Khmer Times.

Socheata juga mengatakan bahwa pasukan Thailand telah menggunakan jet tempur untuk melakukan serangan senjata kimia berupa gas beracun di wilayah seperti An Ses dan Phnom Kmoach. Serangan seperti itu terjadi sejak kemarin.

Lebih lanjut, Socheata mengecam dan menolak tuduhan baru dari militer Thailand, yang mengeklaim bahwa pasukan Kamboja menembakkan rudal jarak jauh PHL-03 buatan China ke wilayah Thailand.

Menurutnya, klaim tersebut sebagai tidak berdasar, menyesatkan, dan jahat, menggambarkannya sebagai rekayasa yang disengaja untuk membenarkan serangan Thailand yang semakin brutal dan tidak manusiawi di wilayah Kamboja.

"Tuduhan-tuduhan ini tidak hanya tidak berdasar tetapi juga mencerminkan upaya terencana oleh militer Thailand yang menginvasi untuk mengalihkan kesalahan kepada Kamboja," kata jenderal tersebut.

"Strategi mereka adalah menciptakan narasi palsu untuk membenarkan agresi militer ilegal mereka sambil mencoba menggambarkan Kamboja sebagai provokator," paparnya.

Militer Thailand belum berkomentar atas tuduhan penggunaan senjata kimia dalam perang melawan Kamboja. Sebelumnya Thailand mengecam Kamboja atas peluncuran roket BM-21 yang menghantam wilayah sipil di distrik Kantharalak, provinsi Si Sa Ket, yang mengakibatkan satu orang tewas dan satu orang luka-luka.

Sekitar pukul 17.00 pada hari Minggu, wakil juru bicara militer Kerajaan Thailand Kolonel Richcha Suksuwanon melaporkan bahwa sebuah roket BM-21 telah mendarat di Sao Thong Chai, yang menyebabkan kerusakan pada rumah-rumah penduduk.

Insiden tersebut mengakibatkan dua warga setempat terdampak, yakni Somsri Lapboon (59) tewas akibat pecahan peluru dan Jai Tarnnamthiang (48) mengalami cedera kepala akibat pecahan peluru.

Richcha mencatat bahwa kedua korban adalah sukarelawan penjaga desa yang membantu pengawasan perbatasan selama ketegangan yang sedang berlangsung.

Militer mengecam penggunaan persenjataan tingkat medan perang oleh Kamboja terhadap warga sipil yang tidak terlibat dalam konflik. Hingga saat ini, total 14 warga sipil Thailand dilaporkan tewas akibat permusuhan yang terus berlanjut di sepanjang perbatasan Thailand-Kamboja.

Thailand dan Kamboja Berunding Damai


Sementara itu, para pemimpin Thailand dan Kamboja akan menghadiri perundingan mediasi di Malaysia pada hari Senin mengenai perang perbatasan yang mematikan.

Kedua pihak masih saling menuduh telah melancarkan serangan artileri baru di wilayah yang disengketakan.

Perundingan dijadwalkan akan dimulai pukul 15.00 waktu setempat pada hari ini, dengan penjabat Perdana Menteri Phumtham Wechayachai memimpin tim negosiasi Thailand, menurut pernyataan pemerintah Thailand pada Minggu malam, sebagaimana dikutip Reuters.

Malaysia, yang memimpin forum kerja sama regional ASEAN, telah memberi tahu pemerintah Thailand bahwa Perdana Menteri Kamboja Hun Manet juga akan menghadiri perundingan tersebut, imbuh pernyataan tersebut.

Ketegangan antara Thailand dan Kamboja telah meningkat sejak pembunuhan seorang tentara Kamboja pada akhir Mei dalam pertempuran singkat di perbatasan. Pasukan perbatasan di kedua belah pihak diperkuat di tengah krisis diplomatik yang membawa pemerintahan koalisi Thailand yang rapuh ke ambang kehancuran.

Permusuhan kembali terjadi pada hari Kamis dan, hanya dalam empat hari, meningkat menjadi pertempuran terburuk antara kedua negara tetangga di Asia Tenggara tersebut dalam lebih dari satu dekade.

Jumlah korban tewas telah meningkat menjadi lebih dari 30 orang, termasuk 14 warga sipil di Thailand dan delapan di Kamboja, sementara pihak berwenang melaporkan bahwa lebih dari 200.000 orang telah dievakuasi dari daerah perbatasan.

Perundingan hari Senin terjadi setelah Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim pekan lalu mengusulkan gencatan senjata, dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada hari Sabtu bahwa kedua pemimpin telah sepakat untuk mengupayakan gencatan senjata.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tembak Jatuh Helkopter...
Tembak Jatuh Helkopter Apache AS, Ini Pesan yang Hendak Disampaikan Iran
5 Fakta Krisis Timur...
5 Fakta Krisis Timur Tengah Membara, Apache Ditembak Jatuh hingga 3 Negara Arab Dirudal Iran
Citra Satelit Tunjukkan...
Citra Satelit Tunjukkan Kehancuran di Pangkalan Udara Israel Akibat Serangan Iran
Pakar Militer Klaim...
Pakar Militer Klaim Iran Ingin Memulihkan Daya Tolak Terhadap Serangan AS
4 Alasan Iran Kembali...
4 Alasan Iran Kembali Gempur Israel, Ingin Tunjukkan Solidaritas ke Hizbullah
Iran Hentikan Serangan...
Iran Hentikan Serangan Balasan yang Menyakitkan ke Israel
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
Trump Peringatkan Netanyahu:...
Trump Peringatkan Netanyahu: Anda Akan Sendirian jika Terus Serang Iran
Trump Tuduh Iran Mengulur...
Trump Tuduh Iran Mengulur Waktu Kesepakatan Damai: Mereka Harus Bayar Mahal!
Rekomendasi
Puncak Musim Kemarau...
Puncak Musim Kemarau Agustus 2026, BMKG Ingatkan Dampak El Nino
DUNLOP Hadirkan SmartCare...
DUNLOP Hadirkan SmartCare Warranty, Solusi Tenang Pengguna Ban BLUE RESPONSE TG
Pengacara Roy Suryo:...
Pengacara Roy Suryo: Polisi dan Jaksa Ragu-ragu di Kasus Ijazah Jokowi
Berita Terkini
Trump: 49 Rudal Tomahawk...
Trump: 49 Rudal Tomahawk Gempur Iran, AS Akan Bombardir Habis-habisan
Iran Balas Bombardir...
Iran Balas Bombardir 18 Target Militer AS, Termasuk Sistem Rudal Patriot
Sistem Rudal Iran Tembaki...
Sistem Rudal Iran Tembaki Jet Tempur F-16 AS
AS Menyerang Lagi, Iran...
AS Menyerang Lagi, Iran Tutup Total Selat Hormuz
AS Bombardir Iran 2...
AS Bombardir Iran 2 Hari Berturut-turut saat Harga Minyak Melonjak
Tembak Jatuh Helkopter...
Tembak Jatuh Helkopter Apache AS, Ini Pesan yang Hendak Disampaikan Iran
Infografis
5 Titik Rawan Perang...
5 Titik Rawan Perang Dunia III pada Tahun 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved