Thaksin: Biarkan Militer Thailand Selesai Misi Mereka

Senin, 28 Juli 2025 - 02:20 WIB
loading...
Thaksin: Biarkan Militer...
Mantan PM Thailand Thaksin Shinawatra tegaskan biarkan militer selesaikan misinya. Foto/X/@ThaiEnquirer
A A A
BANGKOK - Mantan Perdana Menteri (PM) Thailand Thaksin Shinawatra membantah perseteruan keluarga sebagai penyebab konflik perbatasan Thailand-Kamboja. Dia mengatakan militer harus diberi kebebasan untuk "menyelesaikan misi mereka" sebelum perundingan dapat dilakukan.

Berbicara dalam kunjungan ke Ubon Ratchathani untuk mendukung warga sipil yang mengungsi akibat bentrokan, Thaksin menegaskan bahwa bentrokan mematikan baru-baru ini antara pasukan Thailand dan Kamboja tidak disebabkan oleh perselisihan pribadi antar keluarga politik, seperti yang banyak dispekulasikan.

Ia merujuk pada keretakan yang tampak jelas antara keluarganya dan keluarga mantan Perdana Menteri Kamboja Hun Sen, yang berkobar setelah rekaman audio yang bocor di mana Perdana Menteri Paetongtarn Shinawatra terdengar memohon kepada Hun Sen, mengatakan bahwa ia akan melakukan apa pun demi penghentian konflik.

Thaksin, yang genap berusia 76 tahun pada hari Sabtu, menolak klaim adanya campur tangan politik dan mengatakan operasi militer harus berjalan secara profesional dan independen.

"Saya menyangkal ini adalah konflik antara dua keluarga. Tidak pernah ada perselisihan pribadi," ujarnya, dilansir Bangkok Post.

Baca Juga: Kamboja Tuding Thailand Intensifkan Serangan dan Ciptakan Disinformasi

"Insiden ini bermula dari ketidakpuasan Kamboja terhadap Thailand. Kami tidak melakukan apa pun untuk memprovokasi hal ini."

Meskipun beberapa pemerintah asing telah menawarkan untuk menengahi — di antaranya Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dalam kapasitasnya sebagai ketua ASEAN — Thailand yakin masalah ini dapat diselesaikan secara bilateral, kata Thaksin.

"Jika Kamboja ingin berdialog, kami akan berdialog. Tetapi kami tidak membutuhkan perantara kecuali benar-benar diperlukan," kata Thaksin.

"Biarkan angkatan bersenjata menyelesaikan misi mereka. Ini adalah operasi militer, dan meskipun beberapa pihak telah menyerukan gencatan senjata, sekarang bukanlah waktu yang tepat. Misi ini belum berakhir."

Thaksin, yang dianggap sebagai pemimpin de facto Partai Pheu Thai yang berkuasa, telah meningkatkan profilnya selama dua minggu terakhir di saat pemerintahan yang secara nominal dipimpin oleh putrinya tampak tanpa pemimpin dan terombang-ambing.

Paetongtarn telah diskors dari jabatan perdana menteri sambil menunggu putusan Mahkamah Konstitusi mengenai apakah penanganannya terhadap panggilan telepon dengan Hun Sen merupakan pelanggaran etika.

Para kritikus mengatakan Thaksin secara teratur mencampuri urusan pemerintahan meskipun bukan anggota partai. Hal itu akan menjadi pelanggaran hukum, jika terbukti.

Saat mengunjungi para pengungsi di kotamadya Det Udom, Thaksin mengatakan tujuannya adalah untuk menghibur mereka yang mengungsi akibat konflik.

Momen menegangkan terjadi di kantor kecamatan ketika seorang perempuan setempat yang diidentifikasi sebagai Miew menghampiri Thaksin dan berteriak: "Kalau kamu teman, kenapa kamu biarkan temanmu membunuh orang Thailand?"

Miew mengatakan ia memiliki kerabat yang mengungsi dari distrik Kantharalak di Si Sa Ket dan menyalahkan Thaksin karena tidak mencegah konflik, meskipun hubungannya dengan Hun Sen sudah lama terjalin.

"Dia tidak membantu rakyat Thailand, hanya keluarganya sendiri. Kami telah ditelantarkan. Saya datang ke sini bukan berharap dia bertanggung jawab — dia tidak pernah mendengarkan orang-orang seperti kami."

Ia kemudian mengatakan kepada wartawan dalam bahasa Inggris bahwa ia bersedih atas penderitaan sesama warga dan menuduh Thaksin berpihak pada Kamboja. "Kalau dia masih mendukung Hun Sen, perang tidak akan berakhir. Rakyat kami justru mendukung pihak mereka."

Setelah konfrontasi tersebut, petugas keamanan mengawal Miew keluar dari gedung. Thaksin baru keluar dari toilet setelah ia pergi, meredakan apa yang sempat menjadi gangguan singkat namun sarat emosi.
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rudal Iran Guncang Israel,...
Rudal Iran Guncang Israel, Trump: Netanyahu Tak Boleh Balas Dendam
5 Alasan Iran Serang...
5 Alasan Iran Serang Bahrain dan Kuwait, Menekan AS Memenuhi Tuntutan Teheran
3 Fakta Bantahan Azerbaijan...
3 Fakta Bantahan Azerbaijan Terkait Wilayahnya Digunakan Israel dalam Perang Iran
Selalu Jadi Target Iran,...
Selalu Jadi Target Iran, Kuwait Beli Senjata Anti-Drone Senilai Rp36 Triliun dari AS
Putin Klaim Tak Melihat...
Putin Klaim Tak Melihat Adanya Provokasi dari Iran
Hanya Karena Dukung...
Hanya Karena Dukung Iran, Presenter TV Cantik Kuwait Ini Dijatuhi Hukuman Penjara
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
Laporan Media: AS Tekan...
Laporan Media: AS Tekan Oman untuk Putuskan Hubungan dengan Iran
Iran Gempur Pangkalan...
Iran Gempur Pangkalan Udara Israel: Balasan atas Pembantaian Zionis di Lebanon
Rekomendasi
Pelanggaran Berat Kode...
Pelanggaran Berat Kode Etik, Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Dipecat
Hadirkan Panggung Hiburan...
Hadirkan Panggung Hiburan dan Aksi Sosial, Truk SnackVideo 2026 Keliling Berbagai Daerah
Makin Panas, Kuasa Hukum...
Makin Panas, Kuasa Hukum Ruben Onsu Sebut Permintaan Maaf Sarwendah Tidak Tulus
Berita Terkini
Gempa Guncang Filipina,...
Gempa Guncang Filipina, 15 Orang Tewas
Hubungan China dan Korut...
Hubungan China dan Korut Masuki Tahap Awal yang Baru
5 Negara yang Mampu...
5 Negara yang Mampu Membuat Jet Tempur Sendiri, Ada yang Produksinya Mencapai Ratusan Unit per Tahun
Rudal Iran Guncang Israel,...
Rudal Iran Guncang Israel, Trump: Netanyahu Tak Boleh Balas Dendam
IRGC Serang 3 Pangkalan...
IRGC Serang 3 Pangkalan Militer Zionis, Israel Gempur 5 Kota Iran
AS Hendak Beli Kepulauan...
AS Hendak Beli Kepulauan Chagos, Ini Tujuannya
Infografis
Angkatan Darat Amerika...
Angkatan Darat Amerika Serikat Incar 'Pasukan Tua' Masuk Militer
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved