Cegah Pencurian Teknologi, AS Tolak Visa 1.000 Pelajar dan Peneliti China

Kamis, 10 September 2020 - 06:47 WIB
loading...
Cegah Pencurian Teknologi,...
AS menolak 1.000 visa pelajar dan peneliti asal China. Foto/Ilustrasi/Sindonews
A A A
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) menolak untuk memberikan visa bagi mahasiswa dan peneliti pasca sarjana tertentu asal China untuk memasuki negara itu. Keputusan itu dilakukan untuk melindungi penelitian sensitif agar tidak dicuri oleh Beijing di tengah memburuknya hubungan kedua negara.

Menambah ketegangan yang memuncak, AS sekali lagi menuduh China berupaya mendapatkan teknologi dan inovasi tercanggih Amerika, termasuk penelitian virus Corona. Tuduhan ini dilontarkanketika AS melanjutkan tindakan kerasnya terhadap siswa dan akademisi yang menurutnya mungkin terkait dengan Tentara China.

"Kami memblokir visa bagi mahasiswa dan peneliti pascasarjana China tertentu yang terkait dengan strategi fusi militer China untuk mencegah mereka mencuri dan sebaliknya mengambil alih penelitian sensitif," kata penjabat kepala Departemen Keamanan Dalam Negeri AS, Chad Wolf, seperti disitir dari Russia Today, Kamis (10/9/2020).

Dia menambahkan bahwa China menyalahgunakan visa pelajar AS untuk mengeksploitasi akademisi Amerika.

Wolf tidak memberikan rincian tentang siapa sebenarnya yang dilarang memasuki wilayah AS dan berapa banyak orang yang terpengaruh oleh pembatasan baru tersebut. Namun, kemudian, Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa lebih dari 1.000 visa warga negara China telah dicabut pada hari Rabu waktu setempat.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan kepada Reuters, meskipun begitu negara itu akan terus "menyambut" mereka yang dia sebut sebagai mahasiswa dan cendekiawan "yang sah" yang tidak berkontribusi pada tujuan dominasi militer China.

Sebelumnya, laporan media menunjukkan bahwa siswa yang terbang kembali ke China menjadi sasaran pengawasan dan penyaringan yang meningkat oleh pejabat keamanan AS atas potensi pencurian teknologi.

Dinas keamanan AS telah memburu 'mata-mata' di antara para peneliti China yang bekerja di Amerika selama beberapa waktu. Pada bulan Juli, FBI mengatakan bahwa ilmuwan China dengan hubungan militer rahasia bekerja di banyak kota di AS. Empat peneliti semacam itu dituduh menyembunyikan masa lalu militer mereka kemudian ditangkap atas tuduhan penipuan visa. (Baca juga: Kian Panas, FBI Tangkap 3 Tentara China yang Menyamar Jadi Peneliti di AS )

AS dan China juga telah berselisih tentang visa jurnalis. Pada bulan Maret, Washington memangkas jumlah warga negara China yang diizinkan bekerja di kantor media utama negara AS dari 160 menjadi 100. AS juga menetapkan lima outlet media pemerintah China sebagai agen asing, yang akhirnya memaksa 60 jurnalis meninggalkan negara itu. (Baca juga: AS Masukkan 5 Media China dalam 'Misi Asing' )

Sebagai tanggapan, Beijing mengusir selusin reporter Amerika yang bekerja untuk New York Times, Wall Street Journal, dan Washington Post. Baru-baru ini, mereka juga menunda perpanjangan beberapa kredensial pers dan visa wartawan AS lainnya, mengirimi mereka surat yang menyatakan bahwa mereka akan diizinkan untuk terus bekerja di China dengan visa kedaluwarsa selama sekitar dua bulan. (Baca juga: Lagi, China Akan Usir Media AS di Tengah Meningkatnya Ketegangan )
(ber)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pengaruh Wali Kota Muslim...
Pengaruh Wali Kota Muslim New York Ini Makin Kuat, Siapa yang Didukungnya Menang!
Pilot F-15 AS: Serangan...
Pilot F-15 AS: Serangan Drone Iran Membentuk Formasi Ubur-ubur
Trump Kecam Pemungutan...
Trump Kecam Pemungutan Suara Senat untuk Batasi Kewenangannya dalam Perang Iran
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Senat AS Sahkan Resolusi...
Senat AS Sahkan Resolusi Penghentian Perang Iran, Pukulan Telak bagi Trump
Trump Ungkap Dana Iran...
Trump Ungkap Dana Iran yang Dilepaskan akan Digunakan untuk Beli Barang-barang AS
Usai Perang dengan Iran,...
Usai Perang dengan Iran, Trump Janji Ekonomi AS Segera Bangkit
Suami Divonis 4 Tahun...
Suami Divonis 4 Tahun Penjara karena Paksa Istri Berhubungan Seks dengan 120 Pria
Pilot Jet Tempur F-15...
Pilot Jet Tempur F-15 AS Ungkap Ngerinya Serangan Drone Iran, Bentuk Formasi Ubur-Ubur
Rekomendasi
Lolos ke Jakarta, Peserta...
Lolos ke Jakarta, Peserta Liga Bintang Juara GTV Ungkap Pengalaman Seru dan Menegangkan
Program MBG Harus Dilanjutkan,...
Program MBG Harus Dilanjutkan, Pengamat: Prabowo Ingin Wujudkan Indonesia Emas 2045
Buku Sang Arsitek Presisi...
Buku Sang Arsitek Presisi Polri Ulas Kepemimpinan Kapolri Listyo Sigit Prabowo
Berita Terkini
Pengaruh Wali Kota Muslim...
Pengaruh Wali Kota Muslim New York Ini Makin Kuat, Siapa yang Didukungnya Menang!
Menteri Zionis: AS Akan...
Menteri Zionis: AS Akan Segera Berada di Jalur Bentrokan dengan Israel
Rusia Klaim Senjata...
Rusia Klaim Senjata Nuklir Jadi Satu-satunya Jaminan pada Perang Global, Ini 3 Alasannya
Bill Gates Ngaku Jadi...
Bill Gates Ngaku Jadi Korban Epstein, tapi Fakta Berbicara Lain
10 Tahun Brexit, Mayoritas...
10 Tahun Brexit, Mayoritas Rakyat Inggris Menyesal!
Israel Intervensi Pilpres...
Israel Intervensi Pilpres Kolombia, Ini 4 Faktanya
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved