Arab Saudi Bongkar Jaringan Prostitusi yang Merebak, Berikut 3 Faktanya
Senin, 21 Juli 2025 - 01:01 WIB
loading...
A
A
A
Menurut laporan FT, unit Kementerian Dalam Negeri yang baru dibentuk, yang bertugas menangani "keamanan masyarakat dan perdagangan manusia", juga telah menahan puluhan warga negara asing atas dugaan pelanggaran di panti pijat dan karena memaksa perempuan dan anak-anak untuk mengemis. Ini menandai pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade pihak berwenang secara terbuka mengakui keberadaan prostitusi di kerajaan tersebut.
Polisi Saudi menangkap empat ekspatriat yang terlibat dalam "tindakan amoral" di sebuah fasilitas pijat di Riyadh, sementara tiga perempuan asing yang dituduh melakukan prostitusi ditangkap menyusul penggerebekan polisi di sebuah hotel di ibu kota. Secara terpisah, lima ekspatriat ditangkap karena melakukan tindakan yang melanggar moral publik di sebuah pusat relaksasi dan perawatan tubuh di Jeddah.
Langkah ini memicu perbandingan dengan Komite untuk Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan, pasukan polisi agama yang dulu terkenal karena menegakkan segregasi gender dan kode moral. Mutawaa, demikian sebutan mereka, dilucuti kekuasaannya pada tahun 2016 sebagai bagian dari upaya Putra Mahkota yang lebih luas untuk memodernisasi negara, membuka ekonominya, dan melonggarkan kontrol sosial yang ketat.
Para analis tidak yakin tentang apa yang memicu tindakan keras baru-baru ini, tetapi Khalid Al-Sulaiman, kolumnis untuk surat kabar semi-resmi Okaz, mengaitkannya dengan "peningkatan aktivitas yang signifikan" dalam pelanggaran terkait moralitas, termasuk iklan layanan seks di media sosial. "Negara kita memiliki identitas keagamaan dan sosial yang istimewa sebagai tempat kelahiran Islam... mereka yang mempraktikkan [tindakan semacam itu] saat ini seharusnya tidak pernah merasa bahwa mereka dapat tampil di depan umum tanpa konsekuensi," tulisnya.
Dengan Arab Saudi yang bersiap menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034 dan menarik investasi asing, pihak berwenang menyeimbangkan liberalisasi sosial dengan mempertahankan identitas konservatif kerajaan.
Polisi Saudi menangkap empat ekspatriat yang terlibat dalam "tindakan amoral" di sebuah fasilitas pijat di Riyadh, sementara tiga perempuan asing yang dituduh melakukan prostitusi ditangkap menyusul penggerebekan polisi di sebuah hotel di ibu kota. Secara terpisah, lima ekspatriat ditangkap karena melakukan tindakan yang melanggar moral publik di sebuah pusat relaksasi dan perawatan tubuh di Jeddah.
Langkah ini memicu perbandingan dengan Komite untuk Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan, pasukan polisi agama yang dulu terkenal karena menegakkan segregasi gender dan kode moral. Mutawaa, demikian sebutan mereka, dilucuti kekuasaannya pada tahun 2016 sebagai bagian dari upaya Putra Mahkota yang lebih luas untuk memodernisasi negara, membuka ekonominya, dan melonggarkan kontrol sosial yang ketat.
Para analis tidak yakin tentang apa yang memicu tindakan keras baru-baru ini, tetapi Khalid Al-Sulaiman, kolumnis untuk surat kabar semi-resmi Okaz, mengaitkannya dengan "peningkatan aktivitas yang signifikan" dalam pelanggaran terkait moralitas, termasuk iklan layanan seks di media sosial. "Negara kita memiliki identitas keagamaan dan sosial yang istimewa sebagai tempat kelahiran Islam... mereka yang mempraktikkan [tindakan semacam itu] saat ini seharusnya tidak pernah merasa bahwa mereka dapat tampil di depan umum tanpa konsekuensi," tulisnya.
Dengan Arab Saudi yang bersiap menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034 dan menarik investasi asing, pihak berwenang menyeimbangkan liberalisasi sosial dengan mempertahankan identitas konservatif kerajaan.
(ahm)
Lihat Juga :