150 Media dari 136 Negara Tingkatkan Kerja Sama Global South melalui BRICS
Kamis, 17 Juli 2025 - 06:00 WIB
loading...
Pertemuan lanjutan BRICS Media and Think Tank Forum digelar di Rio De Janeiro, 14-17 Juli 2025 dihadiri 250 peserta dari 150 organisasi media dan Think Tank dari 36 negara. Foto/Pung Purwanto
A
A
A
RIO DE JANEIRO - Mengambil momentum spesial KTT BRICS di Rio De Janeiro, Brasil pekan lalu (6/7/2025), pertemuan lanjutan BRICS Media and Think Tank Forum digelar di tempat yang sama 14-17 Juli 2025. Forum yang diprakarsai kantor berita China Xin Hua ini dihadiri 250 peserta dari 150 organisasi media dan think tank yang berasal dari 36 negara.
Selain negara anggota BRICS seperti Brazil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Iran, Indonesia, dan Uni Emirat Arab, hadir pula negara negara mitra BRICS lainnya dari Asia, Eropa, Afrika dan Amerika Latin.
Baca juga: BRICS Kritik Keras IMF dan Bank Dunia, Cenderung Berpihak Kepentingan Barat
"Forum ini digelar tidak lain untuk meningkatkan kerja sama yang lebih erat lagi dari 150 organisasi media dan think tank. Kerja sama yang lebih erat lagi dalam diseminasi informasi, penggunaan teknologi AI untuk makin menguatkan suara negara Selatan atau Global South," ujar Presiden Xinhua News Agency Fu Hua dalam pembukaan Forum di Hotel Grand Hyatt, Rio De Janeiro hari ini.
Menurut Fu Hua, kekuatan Selatan yang semakin diperhitungkan negeri lain harus terus diperkuat dengan kolaborasi yang utuh dari organisasi media maupun think tank.
Para pembicara dari para tokoh terkemuka dunia mayoritas menggarisbawahi keseriusan BRICS menjadi kekuatan baru yang semakin disegani dunia. "BRICS adalah kekuatan baru yang semakin ditakuti, terutama oleh Amerika Serikat," ujar Prof Martin Jacques, akademi yang puluhan tahun bergelut mempelajari sejarah politik China.
Jacquest berpandangan salah satu bukti nyata kekuatan BRICS adalah reaksi keras Presiden Trump yang mengancam memperlakukan tambahan tarif 40 sampai 50 persen.
Baca juga: Kebangkitan BRICS Bikin Barat Panas, Segala Cara Dilakukan Demi Menghambatnya
Jacques menegaskan bahwa BRICS adalah kelanjutan dari semangat Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955 yang diprakarsai Presiden Soekarno. Dan Trump 2.0 adalah reaksi atas kekuatan BRICS yang sesungguhnya.
"Suara kekuatan Selatan harus terus didengungkan ke seluruh dunia melalui forum media dan think tank seperi digelar hari ini," kata Jacquest,penulis buku When China Rules the When China Rules The Word ini.
Partisipan internasional dalam forum ini datang dari berbagai negara di luar anggota dan mitra BRICS. Tidak hanya pengelola media, akademisi, jurnalis, pejabat pemerintah dan pengusaha juga ikut meramaikan momen tahunan ini.
Indonesia diwakili jurnalis senior dari Sindonews, The Jakarta Post, Kompas.com dan Pikiran Rakyat. Satu wakil Indonesia berasal dari Global Development Research.
Apa arti penting BRICS dalam konteks perebutan pengaruh kekuatan dunia? Fu Hua memastikan, perebutan pengaruh tidak bisa lepas dari sejauh mana kekuatan Selatan mampu mewarnai opini publik dunia.
"Karena itu kita akan meluncurkan program Global South Joint Communication Partnership Program yang akan menghubungkan organisasi media, lembaga think Tank, perusahaan, pemerintah dan lembaga pendidikan.
"Kebersamaan itu akan semakin memperkuat negara Selatan dan BRICS tentu saja," tegas Fu Hua.

Selain negara anggota BRICS seperti Brazil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Iran, Indonesia, dan Uni Emirat Arab, hadir pula negara negara mitra BRICS lainnya dari Asia, Eropa, Afrika dan Amerika Latin.
Baca juga: BRICS Kritik Keras IMF dan Bank Dunia, Cenderung Berpihak Kepentingan Barat
"Forum ini digelar tidak lain untuk meningkatkan kerja sama yang lebih erat lagi dari 150 organisasi media dan think tank. Kerja sama yang lebih erat lagi dalam diseminasi informasi, penggunaan teknologi AI untuk makin menguatkan suara negara Selatan atau Global South," ujar Presiden Xinhua News Agency Fu Hua dalam pembukaan Forum di Hotel Grand Hyatt, Rio De Janeiro hari ini.
Menurut Fu Hua, kekuatan Selatan yang semakin diperhitungkan negeri lain harus terus diperkuat dengan kolaborasi yang utuh dari organisasi media maupun think tank.
Para pembicara dari para tokoh terkemuka dunia mayoritas menggarisbawahi keseriusan BRICS menjadi kekuatan baru yang semakin disegani dunia. "BRICS adalah kekuatan baru yang semakin ditakuti, terutama oleh Amerika Serikat," ujar Prof Martin Jacques, akademi yang puluhan tahun bergelut mempelajari sejarah politik China.
Jacquest berpandangan salah satu bukti nyata kekuatan BRICS adalah reaksi keras Presiden Trump yang mengancam memperlakukan tambahan tarif 40 sampai 50 persen.
Baca juga: Kebangkitan BRICS Bikin Barat Panas, Segala Cara Dilakukan Demi Menghambatnya
Jacques menegaskan bahwa BRICS adalah kelanjutan dari semangat Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955 yang diprakarsai Presiden Soekarno. Dan Trump 2.0 adalah reaksi atas kekuatan BRICS yang sesungguhnya.
"Suara kekuatan Selatan harus terus didengungkan ke seluruh dunia melalui forum media dan think tank seperi digelar hari ini," kata Jacquest,penulis buku When China Rules the When China Rules The Word ini.
Partisipan internasional dalam forum ini datang dari berbagai negara di luar anggota dan mitra BRICS. Tidak hanya pengelola media, akademisi, jurnalis, pejabat pemerintah dan pengusaha juga ikut meramaikan momen tahunan ini.
Indonesia diwakili jurnalis senior dari Sindonews, The Jakarta Post, Kompas.com dan Pikiran Rakyat. Satu wakil Indonesia berasal dari Global Development Research.
Apa arti penting BRICS dalam konteks perebutan pengaruh kekuatan dunia? Fu Hua memastikan, perebutan pengaruh tidak bisa lepas dari sejauh mana kekuatan Selatan mampu mewarnai opini publik dunia.
"Karena itu kita akan meluncurkan program Global South Joint Communication Partnership Program yang akan menghubungkan organisasi media, lembaga think Tank, perusahaan, pemerintah dan lembaga pendidikan.
"Kebersamaan itu akan semakin memperkuat negara Selatan dan BRICS tentu saja," tegas Fu Hua.
(shf)
Lihat Juga :