6 Anak Gaza Tewas Diserang saat Ambil Air, Israel Salahkan Rudalnya Malfungsi
Senin, 14 Juli 2025 - 14:41 WIB
loading...
A
A
A
Keluarga para sandera telah berkumpul di luar kantor Netanyahu di Yerusalem untuk menuntut kesepakatan dengan Hamas.
"Mayoritas rakyat Israel telah berbicara dengan lantang dan jelas. Kami ingin mencapai kesepakatan, bahkan dengan mengorbankan perang ini, dan kami ingin melakukannya sekarang," kata Jon Polin, yang putranya, Hersh Goldberg-Polin, disandera oleh Hamas di sebuah terowongan Gaza dan tewas pada Agustus 2024.
Netanyahu dan para menterinya juga dijadwalkan membahas rencana pada hari Minggu untuk memindahkan ratusan ribu warga Gaza ke wilayah selatan Rafah, yang digambarkan oleh Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, sebagai "kota kemanusiaan" baru, tetapi kemungkinan akan menuai kritik internasional karena pemindahan paksa.
Seorang sumber Israel yang diberi pengarahan tentang diskusi di Israel mengatakan bahwa rencana tersebut adalah untuk membangun kompleks di Rafah selama gencatan senjata, jika tercapai.
Pada hari Sabtu pekan lalu, seorang sumber Palestina yang mengetahui perundingan gencatan senjata mengatakan bahwa Hamas menolak peta penarikan tentara IDF yang diusulkan Israel, karena peta tersebut akan membuat sekitar 40% wilayah di bawah kendali Israel, termasuk seluruh Rafah.
Kampanye militer Israel melawan Hamas telah menggusur hampir seluruh populasi lebih dari 2 juta orang, tetapi warga Gaza mengatakan tidak ada tempat yang aman di daerah kantong pantai tersebut.
Pada Minggu pagi, sebuah rudal menghantam sebuah rumah di Kota Gaza tempat sebuah keluarga pindah setelah menerima perintah evakuasi dari rumah mereka di pinggiran selatan.
"Bibi saya, suaminya, dan anak-anaknya, telah tiada. Apa salah anak-anak yang tewas dalam pembantaian berdarah yang mengerikan saat fajar?" kata Anas Matar, warga Gaza yang berdiri di reruntuhan bangunan.
"Mayoritas rakyat Israel telah berbicara dengan lantang dan jelas. Kami ingin mencapai kesepakatan, bahkan dengan mengorbankan perang ini, dan kami ingin melakukannya sekarang," kata Jon Polin, yang putranya, Hersh Goldberg-Polin, disandera oleh Hamas di sebuah terowongan Gaza dan tewas pada Agustus 2024.
Netanyahu dan para menterinya juga dijadwalkan membahas rencana pada hari Minggu untuk memindahkan ratusan ribu warga Gaza ke wilayah selatan Rafah, yang digambarkan oleh Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, sebagai "kota kemanusiaan" baru, tetapi kemungkinan akan menuai kritik internasional karena pemindahan paksa.
Seorang sumber Israel yang diberi pengarahan tentang diskusi di Israel mengatakan bahwa rencana tersebut adalah untuk membangun kompleks di Rafah selama gencatan senjata, jika tercapai.
Pada hari Sabtu pekan lalu, seorang sumber Palestina yang mengetahui perundingan gencatan senjata mengatakan bahwa Hamas menolak peta penarikan tentara IDF yang diusulkan Israel, karena peta tersebut akan membuat sekitar 40% wilayah di bawah kendali Israel, termasuk seluruh Rafah.
Kampanye militer Israel melawan Hamas telah menggusur hampir seluruh populasi lebih dari 2 juta orang, tetapi warga Gaza mengatakan tidak ada tempat yang aman di daerah kantong pantai tersebut.
Pada Minggu pagi, sebuah rudal menghantam sebuah rumah di Kota Gaza tempat sebuah keluarga pindah setelah menerima perintah evakuasi dari rumah mereka di pinggiran selatan.
"Bibi saya, suaminya, dan anak-anaknya, telah tiada. Apa salah anak-anak yang tewas dalam pembantaian berdarah yang mengerikan saat fajar?" kata Anas Matar, warga Gaza yang berdiri di reruntuhan bangunan.
(mas)
Lihat Juga :