Buang Admiral Kuznetsov Terkutuk, Rusia Terancam Jadi Negara Adidaya Tanpa Kapal Induk
Minggu, 13 Juli 2025 - 12:22 WIB
loading...
A
A
A
Kapal ini sempat digunakan dalam operasi di lepas pantai Suriah pada 2016, di mana kelompok pilotnya melakukan lebih dari 400 penerbangan dan menghantam lebih dari 1.200 target teroris.
Namun, kapal ini juga menjadi bahan olok-olokan dunia internasional karena mengeluarkan asap hitam tebal saat melintasi Selat Inggris. Pada tahun 2017, media Inggris menyebutnya "kapal pemalu” karena kondisi bobroknya.
Masuk ke dok perbaikan pada 2018, nasibnya malah makin tragis. Pada Oktober 2018, dermaga terapung PD-50 tenggelam di bawah kapal, menyebabkan lubang 200 kaki persegi di dek.
Kemudian pada Desember 2019, kebakaran besar saat proses pengelasan menewaskan dua orang dan melukai 14 lainnya.
Selanjutnya, pad akhir 2022, kebakaran kembali terjadi pada kapal induk tersebut, meskipun tanpa korban.
Kepala United Shipbuilding Corporation, Alexei Rakhmanov, pada Februari 2023 menyatakan bahwa kapal itu telah dipindahkan dari dok dan ditempatkan di fasilitas perbaikan permanen. Dia menyebut kapal tersebut akan kembali aktif pada 2024, namun kemudian ditunda lagi ke 2025.
Masalahnya pada kapal induk Rusia ini sangat kompleks. Itu mencakup hampir seluruh elektroniknya perlu diganti, dek penerbangan perlu direstorasi, mesin penggeraknya harus diganti tapi pabrik yang bisa melakukannya berada di Ukraina (Zorya-Mashproyekt)— negara yang kini memusuhi Rusia, dan ditambah sanksi internasional yang menghambat proses perbaikan.
Sementara galangan kapal Amerika hanya butuh 3 tahun untuk overhaul kapal induk bertenaga nuklir mereka, Rusia telah membutuhkan lebih dari 7 tahun, dan belum ada tanda pasti kapal ini akan kembali beroperasi.
Surat kabar The Telegraph bahkan menyebut dalam laporannya tahun lalu: "Rusia bukan lagi negara pemilik kapal induk.”
Jika Rusia benar-benar membuang Admiral Kuznetsov, maka negara itu akan menjadi satu-satunya adidaya militer yang tidak memiliki kapal induk. Ini menandai titik balik dalam sejarah maritim Rusia yang dulunya bermimpi menjadi kekuatan laut global.
Namun, apakah keputusan ini merupakan tanda kemunduran atau transformasi menuju sistem tempur masa depan berbasis drone dan kapal tak berawak? Hanya waktu dan anggaran negara Rusia yang bisa menjawabnya.
Namun, kapal ini juga menjadi bahan olok-olokan dunia internasional karena mengeluarkan asap hitam tebal saat melintasi Selat Inggris. Pada tahun 2017, media Inggris menyebutnya "kapal pemalu” karena kondisi bobroknya.
Masuk ke dok perbaikan pada 2018, nasibnya malah makin tragis. Pada Oktober 2018, dermaga terapung PD-50 tenggelam di bawah kapal, menyebabkan lubang 200 kaki persegi di dek.
Kemudian pada Desember 2019, kebakaran besar saat proses pengelasan menewaskan dua orang dan melukai 14 lainnya.
Selanjutnya, pad akhir 2022, kebakaran kembali terjadi pada kapal induk tersebut, meskipun tanpa korban.
Kepala United Shipbuilding Corporation, Alexei Rakhmanov, pada Februari 2023 menyatakan bahwa kapal itu telah dipindahkan dari dok dan ditempatkan di fasilitas perbaikan permanen. Dia menyebut kapal tersebut akan kembali aktif pada 2024, namun kemudian ditunda lagi ke 2025.
Masalahnya pada kapal induk Rusia ini sangat kompleks. Itu mencakup hampir seluruh elektroniknya perlu diganti, dek penerbangan perlu direstorasi, mesin penggeraknya harus diganti tapi pabrik yang bisa melakukannya berada di Ukraina (Zorya-Mashproyekt)— negara yang kini memusuhi Rusia, dan ditambah sanksi internasional yang menghambat proses perbaikan.
Sementara galangan kapal Amerika hanya butuh 3 tahun untuk overhaul kapal induk bertenaga nuklir mereka, Rusia telah membutuhkan lebih dari 7 tahun, dan belum ada tanda pasti kapal ini akan kembali beroperasi.
Surat kabar The Telegraph bahkan menyebut dalam laporannya tahun lalu: "Rusia bukan lagi negara pemilik kapal induk.”
Jika Rusia benar-benar membuang Admiral Kuznetsov, maka negara itu akan menjadi satu-satunya adidaya militer yang tidak memiliki kapal induk. Ini menandai titik balik dalam sejarah maritim Rusia yang dulunya bermimpi menjadi kekuatan laut global.
Namun, apakah keputusan ini merupakan tanda kemunduran atau transformasi menuju sistem tempur masa depan berbasis drone dan kapal tak berawak? Hanya waktu dan anggaran negara Rusia yang bisa menjawabnya.
(mas)
Lihat Juga :