Apakah AS Gabung Israel Melawan Iran? Trump akan Putuskan dalam 2 Pekan
Jum'at, 20 Juni 2025 - 18:21 WIB
loading...
Presiden AS Donald Trump. Foto/www-iranintl-com
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan memutuskan apakah akan bergabung dengan kampanye Israel melawan Iran dalam dua pekan ke depan. Penegasan itu diungkap Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt.
"Berdasarkan fakta bahwa ada peluang besar negosiasi yang mungkin atau mungkin tidak terjadi dengan Iran dalam waktu dekat, saya akan membuat keputusan apakah akan ikut atau tidak dalam dua minggu ke depan," ujar Leavitt mengutip pernyataan presiden saat jumpa pers pada hari Kamis (19/6/2025).
Di tengah konflik Teheran dan Israel selama seminggu, satu rudal Iran dilaporkan menghantam sebuah pusat medis di kota Be'er Sheva di Israel selatan pada hari sebelumnya.
Setelah serangan itu, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei "tidak dapat lagi dibiarkan ada."
Sementara itu, Israel telah meluncurkan gelombang serangan baru yang menargetkan infrastruktur nuklir dan instalasi militer Iran, termasuk reaktor nuklir air berat Arak.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Operasi Rising Lion, serangkaian serangan rudal terhadap Iran, telah merusak program nuklir Republik Islam secara signifikan.
Rezim penjajah Israel mengklaim telah menyerang situs nuklir utama di Natanz, Isfahan, dan Fordow. IAEA telah mengonfirmasi kerusakan pada fasilitas di Natanz dan Isfahan.
Menurut kelompok Aktivis Hak Asasi Manusia yang berpusat di Washington, serangan Israel telah menewaskan 639 warga Iran, yang sebagian besar adalah warga sipil, sejak permusuhan dimulai Jumat lalu. Pejabat Israel telah melaporkan 24 kematian.
Rusia telah mengutuk serangan udara awal Israel dan menyerukan deeskalasi. Presiden Vladimir Putin berbicara dengan Trump melalui telepon selama akhir pekan.
Menurut ajudan Kremlin Yury Ushakov, keduanya membahas kemungkinan menghidupkan kembali negosiasi tentang program nuklir Iran.
“Serangan Israel terhadap reaktor penelitian air berat Khondab, juga dikenal sebagai Arak, mengakibatkan kerusakan pada bangunan utama di fasilitas tersebut, termasuk unit distilasi,” ungkap IAEA.
Namun, mengingat reaktor tersebut tidak beroperasi dan tidak mengandung bahan nuklir, tidak ada dampak radiologis yang diperkirakan terjadi.
Iran menolak permintaan AS untuk membuka kembali perundingan mengenai kesepakatan nuklir, menurut Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
“Setelah perlawanan kami terhadap Israel, saya pikir negara-negara akan menjauhkan diri dari agresi ini. Tidak ada ruang untuk perundingan dengan AS sampai agresi Israel berhenti,” tegas dia.
Baca juga: Trump Setuju AS Serang Iran secara Langsung, tapi Kapan?
"Berdasarkan fakta bahwa ada peluang besar negosiasi yang mungkin atau mungkin tidak terjadi dengan Iran dalam waktu dekat, saya akan membuat keputusan apakah akan ikut atau tidak dalam dua minggu ke depan," ujar Leavitt mengutip pernyataan presiden saat jumpa pers pada hari Kamis (19/6/2025).
Di tengah konflik Teheran dan Israel selama seminggu, satu rudal Iran dilaporkan menghantam sebuah pusat medis di kota Be'er Sheva di Israel selatan pada hari sebelumnya.
Setelah serangan itu, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei "tidak dapat lagi dibiarkan ada."
Sementara itu, Israel telah meluncurkan gelombang serangan baru yang menargetkan infrastruktur nuklir dan instalasi militer Iran, termasuk reaktor nuklir air berat Arak.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Operasi Rising Lion, serangkaian serangan rudal terhadap Iran, telah merusak program nuklir Republik Islam secara signifikan.
Rezim penjajah Israel mengklaim telah menyerang situs nuklir utama di Natanz, Isfahan, dan Fordow. IAEA telah mengonfirmasi kerusakan pada fasilitas di Natanz dan Isfahan.
Menurut kelompok Aktivis Hak Asasi Manusia yang berpusat di Washington, serangan Israel telah menewaskan 639 warga Iran, yang sebagian besar adalah warga sipil, sejak permusuhan dimulai Jumat lalu. Pejabat Israel telah melaporkan 24 kematian.
Rusia telah mengutuk serangan udara awal Israel dan menyerukan deeskalasi. Presiden Vladimir Putin berbicara dengan Trump melalui telepon selama akhir pekan.
Menurut ajudan Kremlin Yury Ushakov, keduanya membahas kemungkinan menghidupkan kembali negosiasi tentang program nuklir Iran.
“Serangan Israel terhadap reaktor penelitian air berat Khondab, juga dikenal sebagai Arak, mengakibatkan kerusakan pada bangunan utama di fasilitas tersebut, termasuk unit distilasi,” ungkap IAEA.
Namun, mengingat reaktor tersebut tidak beroperasi dan tidak mengandung bahan nuklir, tidak ada dampak radiologis yang diperkirakan terjadi.
Iran menolak permintaan AS untuk membuka kembali perundingan mengenai kesepakatan nuklir, menurut Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
“Setelah perlawanan kami terhadap Israel, saya pikir negara-negara akan menjauhkan diri dari agresi ini. Tidak ada ruang untuk perundingan dengan AS sampai agresi Israel berhenti,” tegas dia.
Baca juga: Trump Setuju AS Serang Iran secara Langsung, tapi Kapan?
(sya)
Lihat Juga :