Mengapa Yordania Selalu Membela Israel? Ini 8 Alasannya
Jum'at, 13 Juni 2025 - 17:30 WIB
loading...
A
A
A
Dengan menembak jatuh rudal yang ditujukan ke Israel—sekutu utama AS—Yordania mengirimkan sinyal bahwa mereka masih bisa diandalkan.
Tindakan ini memberi AS ruang untuk menekan Iran secara diplomatik, sekaligus menghindari keterlibatan langsung dalam konflik. Bagi AS, sekutu yang aktif menjaga batas wilayahnya sangat berharga.
Namun Yordania juga memainkan peran cerdas: mereka tak secara terang-terangan menyatakan mendukung Israel, tapi cukup bertindak untuk menjaga keseimbangan.
Dalam diplomasi, ini disebut “strategic ambiguity,” dan sangat efektif untuk negara kecil seperti Yordania yang dikelilingi tekanan dari berbagai arah.
Iran dikenal memiliki jaringan luas milisi dan kelompok proksi di Timur Tengah, terutama di Irak, Suriah, dan Lebanon.
Beberapa dari mereka memiliki agenda politik dan militer yang tidak sejalan dengan kepentingan Yordania.
Dalam beberapa tahun terakhir, intelijen Yordania juga mencurigai adanya aktivitas spionase dan pergerakan senjata di perbatasan timurnya yang berkaitan dengan Iran.
Dengan intercept rudal atau drone yang berasal dari Iran, Yordania mengirimkan pesan tegas: mereka tidak akan membiarkan tanahnya dimasuki atau dipengaruhi oleh kekuatan asing, termasuk Iran.
Ini bukan sekadar aksi militer, tapi pernyataan politik yang penting untuk menjaga wibawa di kawasan.
Apalagi, bila Yordania terlihat lunak terhadap Iran, maka kelompok ekstremis atau milisi di dalam negeri bisa merasa punya ruang gerak lebih besar.
Pemerintah Yordania sangat waspada terhadap potensi radikalisasi atau penyusupan yang bisa merusak stabilitas nasional, apalagi mengingat sejarah wilayahnya yang pernah diguncang terorisme.
Di tengah konflik yang terus memanas di Timur Tengah, Yordania ingin dilihat sebagai “pulau stabilitas” di tengah lautan gejolak.
Tindakan menembak jatuh rudal Iran—meski terlihat mendukung Israel—adalah bentuk lain dari komitmen mereka untuk menjaga perdamaian kawasan.
Dengan bertindak tegas, mereka menjaga reputasi sebagai negara yang konsisten dalam menjaga stabilitas.
Status ini sangat penting untuk diplomasi Yordania. Sebagai tuan rumah bagi jutaan pengungsi Palestina dan Suriah, serta mediator aktif dalam isu-isu regional, Yordania ingin mempertahankan citra sebagai negara yang bijak, tangguh, tapi tidak agresif.
Ini juga meningkatkan peran Yordania dalam forum internasional, termasuk PBB dan Liga Arab.
Dengan mempertahankan posisi netral namun aktif ini, Yordania bisa menjaga hubungan baik dengan semua pihak: AS, Israel, negara-negara Teluk, hingga Palestina.
Ini bukan jalan mudah, tapi sejauh ini, Yordania cukup berhasil memainkan peran ini dengan cerdas dan konsisten.
Baca juga: Yordania Bantu Israel: Tembak Drone dan Rudal Iran yang Menuju Negara Zionis
Tindakan ini memberi AS ruang untuk menekan Iran secara diplomatik, sekaligus menghindari keterlibatan langsung dalam konflik. Bagi AS, sekutu yang aktif menjaga batas wilayahnya sangat berharga.
Namun Yordania juga memainkan peran cerdas: mereka tak secara terang-terangan menyatakan mendukung Israel, tapi cukup bertindak untuk menjaga keseimbangan.
Dalam diplomasi, ini disebut “strategic ambiguity,” dan sangat efektif untuk negara kecil seperti Yordania yang dikelilingi tekanan dari berbagai arah.
7. Melawan Ancaman Proxy dan Spionase Iran
Iran dikenal memiliki jaringan luas milisi dan kelompok proksi di Timur Tengah, terutama di Irak, Suriah, dan Lebanon.
Beberapa dari mereka memiliki agenda politik dan militer yang tidak sejalan dengan kepentingan Yordania.
Dalam beberapa tahun terakhir, intelijen Yordania juga mencurigai adanya aktivitas spionase dan pergerakan senjata di perbatasan timurnya yang berkaitan dengan Iran.
Dengan intercept rudal atau drone yang berasal dari Iran, Yordania mengirimkan pesan tegas: mereka tidak akan membiarkan tanahnya dimasuki atau dipengaruhi oleh kekuatan asing, termasuk Iran.
Ini bukan sekadar aksi militer, tapi pernyataan politik yang penting untuk menjaga wibawa di kawasan.
Apalagi, bila Yordania terlihat lunak terhadap Iran, maka kelompok ekstremis atau milisi di dalam negeri bisa merasa punya ruang gerak lebih besar.
Pemerintah Yordania sangat waspada terhadap potensi radikalisasi atau penyusupan yang bisa merusak stabilitas nasional, apalagi mengingat sejarah wilayahnya yang pernah diguncang terorisme.
8. Memperkuat Posisi sebagai Pilar Stabilitas Regional
Di tengah konflik yang terus memanas di Timur Tengah, Yordania ingin dilihat sebagai “pulau stabilitas” di tengah lautan gejolak.
Tindakan menembak jatuh rudal Iran—meski terlihat mendukung Israel—adalah bentuk lain dari komitmen mereka untuk menjaga perdamaian kawasan.
Dengan bertindak tegas, mereka menjaga reputasi sebagai negara yang konsisten dalam menjaga stabilitas.
Status ini sangat penting untuk diplomasi Yordania. Sebagai tuan rumah bagi jutaan pengungsi Palestina dan Suriah, serta mediator aktif dalam isu-isu regional, Yordania ingin mempertahankan citra sebagai negara yang bijak, tangguh, tapi tidak agresif.
Ini juga meningkatkan peran Yordania dalam forum internasional, termasuk PBB dan Liga Arab.
Dengan mempertahankan posisi netral namun aktif ini, Yordania bisa menjaga hubungan baik dengan semua pihak: AS, Israel, negara-negara Teluk, hingga Palestina.
Ini bukan jalan mudah, tapi sejauh ini, Yordania cukup berhasil memainkan peran ini dengan cerdas dan konsisten.
Baca juga: Yordania Bantu Israel: Tembak Drone dan Rudal Iran yang Menuju Negara Zionis
(sya)
Lihat Juga :