AS Larang Impor Seafood dari Kapal China Terkait Dugaan Kerja Paksa

Rabu, 11 Juni 2025 - 10:34 WIB
loading...
AS Larang Impor Seafood...
Amerika Serikat melarang Impor seafood dari kapal China terkait dugaan kerja paksa. Foto/via South China Morning Post
A A A
JAKARTA - Dalam langkah signifikan yang menggarisbawahi meningkatnya kekhawatiran atas pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dalam rantai pasokan global, Amerika Serikat (AS) mengambil tindakan tegas terhadap impor makanan laut (seafood) yang terkait dengan dugaan praktik kerja paksa di atas kapal penangkap ikan China.

Badan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS (CBP) mengumumkan bahwa mereka akan menahan pelepasan makanan laut yang dipanen oleh kapal yang dimaksud, dengan mengutip bukti kredibel tentang perlakuan tidak manusiawi dan kondisi kerja paksa.

Tindakan CBP merupakan bagian dari strategi yang lebih luas oleh AS untuk menekan barang-barang yang diyakini diproduksi melalui kerja paksa—praktik yang melanggar standar ketenagakerjaan internasional dan terus menimbulkan kekhawatiran di masyarakat global.

Baca Juga: AS Larang Impor dari Armada China Pengguna Buruh Kerja Paksa Indonesia

Dengan semakin terungkapnya kerja paksa di industri makanan laut, khususnya di perairan internasional yang pengawasan regulasinya minim, langkah tersebut menyoroti sektor yang penuh dengan tuduhan pelanggaran dan eksploitasi yang sudah berlangsung lama.

Keputusan CBP berasal dari penyelidikan ekstensif terhadap praktik di atas Long Xing 629, sebuah kapal penangkap ikan asal China.

Perintah Penahanan Pelepasan (WRO) CBP menargetkan makanan laut, termasuk ikan tuna, yang bersumber dari kapal tersebut, yang secara efektif melarang impornya ke pasar AS.

Badan tersebut menyatakan bahwa tindakan itu diambil setelah mengungkap beberapa indikator kerja paksa, termasuk penahanan upah, penyalahgunaan kerentanan, dan kekerasan fisik.

“Penggunaan kerja paksa dalam rantai pasokan merupakan masalah moral dan hukum,” ujar pernyataan CBP, dikutip dari Mekong News, Rabu (11/6/2025).

Baca Juga: Jenazah WNI Dalam Frezer di Kapal China Ternyata Tewas Dianiaya

“Perintah ini mencerminkan komitmen kami untuk menegakkan hak asasi manusia dan memastikan bahwa konsumen Amerika tidak secara tidak sadar mendukung praktik perburuhan yang eksploitatif melalui barang yang mereka beli,” sambungnya.

Ini bukan pertama kalinya Long Xing 629 menarik perhatian internasional.

Bukti yang Masuk Akal


Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa LSM dan jurnalis investigasi telah mendokumentasikan kisah-kisah mengerikan dari mantan pekerja di atas kapal China.

Banyak dari pekerja ini, yang sering kali berasal dari Asia Tenggara, melaporkan bahwa mereka ditipu perekrut, dipaksa bekerja berjam-jam tanpa istirahat, tidak dibayar, dan, dalam kasus yang ekstrem, mengalami kekerasan fisik. Beberapa bahkan menceritakan bahwa mereka menyaksikan kematian sesama anggota kru yang tidak diberi perawatan medis atau makanan.

Pengoperasian kapal tersebut merupakan lambang dari kekhawatiran yang lebih luas tentang armada penangkapan ikan di perairan jauh (DWF) China, yang merupakan yang terbesar di dunia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Uni Emirat Arab Bayar...
Uni Emirat Arab Bayar Iran Rp355,5 Triliun agar Berhenti Menyerang
AS Habisi Bos Geng Tren...
AS Habisi Bos Geng Tren de Aragua, Markasnya di Venezuela Dibom hingga Berkeping-keping
Penasihat Mojtaba Khamenei:...
Penasihat Mojtaba Khamenei: Trump Setuju Cairkan Aset Iran Rp426,7 Triliun yang Dibekukan AS
Korea Utara Marah AS...
Korea Utara Marah AS Jual Rudal Canggih ke Korea Selatan, Menyebutnya Ekspor Perang
Trump: AS dan Iran Teken...
Trump: AS dan Iran Teken Kesepakatan Hari Ini, Selat Hormuz Akan Dibuka untuk Semua
3 Alasan Provinsi Alberta...
3 Alasan Provinsi Alberta Ingin Tinggalkan Kanada dan Bergabung dengan AS
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
Korban Tewas Gempa Dahsyat...
Korban Tewas Gempa Dahsyat M 7,8 di Filipina Bertambah Jadi 53 Orang
Menteri Radikal Israel...
Menteri Radikal Israel Smotrich Serukan Penghancuran Gedung-Gedung di Ibu Kota Beirut
Rekomendasi
Anomali Tiket Pesawat:...
Anomali Tiket Pesawat: Penerbangan Domestik Dipungut PPN, ke Luar Negeri Bebas Pajak
Malam 1 Suro dan Muharram:...
Malam 1 Suro dan Muharram: Sejarah, Tradisi, serta Keutamaannya dalam Islam
Sudirman Said: Kepemimpinan...
Sudirman Said: Kepemimpinan Berkelanjutan Lahir dari Sistem yang Kuat
Berita Terkini
Jenderal Jerman Duga...
Jenderal Jerman Duga Rusia Bakal Kerahkan Senjata Nuklir ke Luar Angkasa, Bisa Picu Kiamat Satelit
Perempuan Cantik Ini...
Perempuan Cantik Ini Tewas dalam Atraksi Lompat Jembatan 30 Meter karena Petugas Lupa Pasang Tali Pengaman
Uni Emirat Arab Bayar...
Uni Emirat Arab Bayar Iran Rp355,5 Triliun agar Berhenti Menyerang
Swedia: Konflik Rusia-NATO...
Swedia: Konflik Rusia-NATO Bisa Pecah dalam Waktu Dekat
AS Habisi Bos Geng Tren...
AS Habisi Bos Geng Tren de Aragua, Markasnya di Venezuela Dibom hingga Berkeping-keping
Penasihat Mojtaba Khamenei:...
Penasihat Mojtaba Khamenei: Trump Setuju Cairkan Aset Iran Rp426,7 Triliun yang Dibekukan AS
Infografis
7 Wilayah AS yang Diperoleh...
7 Wilayah AS yang Diperoleh dengan Membeli dan Merebut dari Negara Lain
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved