AS Larang Impor Seafood dari Kapal China Terkait Dugaan Kerja Paksa

Rabu, 11 Juni 2025 - 10:34 WIB
loading...
A A A
Kapal DWF beroperasi jauh dari perairan teritorial China, sering kali di wilayah laut lepas yang kurang diatur atau di dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) negara-negara berkembang.

Sejumlah kelompok hak asasi manusia dan pengawas maritim telah berulang kali mengkritik praktik lingkungan dan ketenagakerjaan armada tersebut, dengan menunjuk pada pola penangkapan ikan ilegal, perdagangan manusia, dan eksploitasi tenaga kerja.

Meski China telah berulang kali membantah tuduhan tentang pelanggaran sistematis di atas kapal penangkap ikannya, bukti yang semakin banyak telah mendorong beberapa negara untuk mengambil tindakan.

AS, yang memanfaatkan kerangka hukumnya berdasarkan Undang-Undang Tarif tahun 1930, telah muncul sebagai pelopor dalam menargetkan impor yang tercemar oleh kerja paksa.

Berdasarkan Undang-Undang tersebut, CBP berwenang untuk menerbitkan WRO jika ada bukti yang “masuk akal walau tidak konklusif” bahwa barang tersebut dibuat dengan menggunakan kerja paksa. Barang-barang tersebut kemudian dilarang masuk ke AS, kecuali importir dapat membuktikan sebaliknya.

Industri makanan laut, khususnya, telah menjadi titik fokus bagi upaya penegakan hukum CBP.

Dalam beberapa tahun terakhir, lembaga tersebut telah mengeluarkan perintah serupa terhadap perusahaan dan kapal yang berbasis di Taiwan, Malaysia, dan Thailand.

Dugaan Praktik Kerja Paksa


Kerentanan industri terhadap pelanggaran berasal dari tantangan operasionalnya yang unik, yakni pelayaran panjang di daerah terpencil, pengawasan yang buruk, perlindungan tenaga kerja yang terbatas, dan ketergantungan pada buruh migran yang sering kali merasa terisolasi dan tidak berdaya saat berada di laut.

Para pendukung hak-hak buruh dan perdagangan etis menyambut baik langkah terbaru CBP, memujinya sebagai langkah penting dalam memerangi pelanggaran ketenagakerjaan global.

“Kerja paksa dalam industri makanan laut adalah krisis kemanusiaan yang tersembunyi di depan mata,” kata seorang aktivis dari LSM yang berpusat di Washington yang berfokus pada hak-hak buruh.

“Tindakan seperti ini mengirimkan pesan yang jelas kepada perusahaan dan pemerintah bahwa keterlibatan tidak akan ditoleransi,” lanjutnya.

Pasar makanan laut AS adalah salah satu yang terbesar di dunia, dan konsumen Amerika semakin menuntut transparansi dalam praktik pengadaan.

Beberapa analis industri mengatakan bahwa pembatasan impor seperti yang diberlakukan pada Long Xing 629 tidak hanya dibenarkan secara moral tetapi juga dapat mengkatalisasi perbaikan di seluruh sektor.

Dengan menegakkan perintah tersebut, CBP memberikan tekanan pada pemasok asing dan importir domestik untuk mengadopsi praktik uji tuntas yang lebih baik dan memastikan rantai pasokan yang bersih dan etis.

Namun, kompleksitas perdagangan internasional berarti bahwa menegakkan kebijakan tersebut tetap menantang.


Bantahan China


Rantai pasokan global terkenal tidak transparan, terutama di sektor makanan laut, di mana hasil tangkapan sering melewati banyak perantara dan pusat pemrosesan sebelum sampai ke konsumen.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Dituding Minta...
Iran Dituding Minta Jeda Serangan saat Pemakaman Khamenei, Trump: Kita Serang Lagi pada Rabu Malam
2 Geng Kriminal Ditarget...
2 Geng Kriminal Ditarget Trump, Brasil: Invasi AS di Depan Mata
Trump Luapkan Kemarahan...
Trump Luapkan Kemarahan ke NATO, Ini 4 Pemicunya
AS Makin Kerdil, Pakar...
AS Makin Kerdil, Pakar Ini Sebut Eropa Kini Jadi Pemimpin Utama NATO
Timur Tengah Kembali...
Timur Tengah Kembali Membara! Serangan Drone Iran Menarget Militer AS
Iran Serang 85 Situs...
Iran Serang 85 Situs Militer AS di Bahrain dan Kuwait, Situasi Memanas Seiring Pemakaman Khamenei
Iran-AS Memanas Lagi,...
Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 6%
China Uji Coba Rudal...
China Uji Coba Rudal Nuklir dari Kapal Selam, AS hingga Australia Panik
Hinaan Rasis terhadap...
Hinaan Rasis terhadap Mbappe Berbuntut Panjang, Prancis Gugat Anggota Parlemen Paraguay
Rekomendasi
Polisi Temukan Uang...
Polisi Temukan Uang Fantastis Dolar AS dan Singapura dalam Brankas Saat Geledah Kafe di Cipete
Ini 12 Lokasi Digeledah...
Ini 12 Lokasi Digeledah Polisi Terkait Kasus Korupsi Batu Bara hingga Asabri
Meta Blokir Fungsi Kamera...
Meta Blokir Fungsi Kamera Kacamata Pintar Jika Lampu Privasi Terhalang
Berita Terkini
Iran Dituding Minta...
Iran Dituding Minta Jeda Serangan saat Pemakaman Khamenei, Trump: Kita Serang Lagi pada Rabu Malam
2 Geng Kriminal Ditarget...
2 Geng Kriminal Ditarget Trump, Brasil: Invasi AS di Depan Mata
Iran dan AS Saling Serang,...
Iran dan AS Saling Serang, Trump: Gencatan Senjata Berakhir
3 Kali Serangan Rudal...
3 Kali Serangan Rudal Rusia ke Kyiv dalam Sepekan, Ukraina Makin Tak Berdaya?
Trump Luapkan Kemarahan...
Trump Luapkan Kemarahan ke NATO, Ini 4 Pemicunya
AS Makin Kerdil, Pakar...
AS Makin Kerdil, Pakar Ini Sebut Eropa Kini Jadi Pemimpin Utama NATO
Infografis
7 Wilayah AS yang Diperoleh...
7 Wilayah AS yang Diperoleh dengan Membeli dan Merebut dari Negara Lain
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved