4 Alasan Rusia Mengakui Israel sebagai Negara pada 1948

Rabu, 28 Mei 2025 - 12:01 WIB
loading...
4 Alasan Rusia Mengakui...
Demonstrasi pro-Stalin dari Partai Komunis Israel di Tel Aviv, 1948. Foto/Pinn Hans/Israeli Government Press Office
A A A
MOSKOW - Rusia, sebagai penerus Uni Soviet, memiliki sejarah panjang dan kompleks dalam hubungannya dengan Israel. Pengakuan resmi Uni Soviet terhadap negara Israel pada 17 Mei 1948, hanya tiga hari setelah deklarasi kemerdekaan Israel, merupakan langkah strategis yang didasarkan pada berbagai pertimbangan geopolitik dan ideologis.

Meskipun pengakuan ini tampak bertentangan dengan sikap anti-Zionis resmi Soviet, keputusan tersebut mencerminkan kalkulasi pragmatis dalam konteks Perang Dingin dan dinamika Timur Tengah pada saat itu.

Setelah berakhirnya Perang Dunia II, Timur Tengah menjadi arena persaingan antara kekuatan besar, terutama antara Uni Soviet dan negara-negara Barat seperti Inggris dan Amerika Serikat.

Palestina, yang saat itu berada di bawah Mandat Inggris, menjadi titik fokus karena meningkatnya ketegangan antara komunitas Yahudi dan Arab.

Uni Soviet melihat peluang memperluas pengaruhnya di kawasan dengan mendukung pembentukan negara Yahudi yang mungkin akan bersikap anti-Inggris dan pro-Soviet.

Alasan Uni Soviet Mengakui Israel

1. Mengurangi Pengaruh Inggris di Timur Tengah

Uni Soviet memandang Inggris sebagai kekuatan imperialistik yang harus dikurangi pengaruhnya di Timur Tengah.

Dengan mendukung pembentukan negara Israel, yang diperkirakan akan bersikap anti-Inggris karena pengalaman buruk di bawah Mandat Inggris, Uni Soviet berharap dapat melemahkan posisi Inggris di kawasan tersebut.

2. Harapan terhadap Israel yang Sosialis


Banyak pemimpin awal Israel, termasuk David Ben-Gurion, memiliki latar belakang sosialis. Uni Soviet berharap Israel akan mengadopsi sistem sosialisme dan menjadi sekutu ideologis di Timur Tengah.

Kibbutzim, komunitas pertanian kolektif di Israel, juga dianggap sebagai model sosialisme yang sesuai dengan nilai-nilai Soviet.

3. Strategi Perang Dingin


Dalam konteks Perang Dingin, Uni Soviet berusaha memperluas pengaruhnya dan menyaingi Amerika Serikat di berbagai kawasan, termasuk Timur Tengah.

Dengan mengakui Israel dan memberikan dukungan militer melalui Cekoslovakia, Uni Soviet berupaya menanamkan pengaruhnya di negara baru tersebut dan menyeimbangkan kekuatan Barat di kawasan.

4. Dukungan terhadap Resolusi PBB


Uni Soviet mendukung Rencana Pembagian Palestina oleh PBB pada tahun 1947, yang mengusulkan pembentukan negara Yahudi dan Arab terpisah.

Dukungan ini sejalan dengan upaya Soviet menunjukkan komitmennya terhadap solusi internasional dan memperkuat posisinya di arena diplomatik global.

Perubahan Sikap Uni Soviet


Meskipun awalnya mendukung Israel, hubungan antara Uni Soviet dan Israel memburuk seiring waktu. Pada tahun 1950-an, Uni Soviet mulai mendukung negara-negara Arab dalam konflik mereka dengan Israel.

Pada tahun 1967, setelah Perang Enam Hari, Uni Soviet memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel sebagai protes terhadap kebijakan Israel di wilayah pendudukan.

Pengakuan Uni Soviet terhadap Israel pada tahun 1948 didasarkan pada pertimbangan strategis untuk mengurangi pengaruh Inggris di Timur Tengah, harapan terhadap Israel yang sosialis, dan upaya memperluas pengaruh dalam konteks Perang Dingin.

Namun, perubahan dinamika politik dan aliansi di kawasan menyebabkan pergeseran sikap Uni Soviet terhadap Israel dalam dekade-dekade berikutnya.

Baca juga: Bak Film Zombie, Massa Kelaparan Serbu Pusat Bantuan Gaza, Personel AS dan Israel Kabur
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Goyang Dominasi AS dan...
Goyang Dominasi AS dan Sekutunya di Asia, China dan Rusia Gelar Latihan Perang
Kilang Minyak dan Pangkalan...
Kilang Minyak dan Pangkalan Kapal Perang di St Petersburg Dihujani Drone Ukraina
Hadiri Pemakaman Khamenei,...
Hadiri Pemakaman Khamenei, Medvedev: Iran Atasi Cobaan dengan Bermartabat
Rusia Bersiap Kirim...
Rusia Bersiap Kirim 20 Jet Tempur Su-35 untuk Iran
Takut Ditangkap, Menteri...
Takut Ditangkap, Menteri Israel Itamar Ben-Gvir Dilaporkan Batal Terbang ke New York
Giliran Lithuania Akan...
Giliran Lithuania Akan Cabut Larangan Senjata Nuklir, Rusia Makin Terancam
Pemerintah Rusia Buka...
Pemerintah Rusia Buka Beasiswa S1 hingga S3 untuk Dosen dan Mahasiswa UNEJ
Dramatis, Korban Gempa...
Dramatis, Korban Gempa Venezuela Dievakuasi Hidup-hidup Setelah 8 Hari Tertimbun
KPK Arab Saudi OTT Besar-besaran,...
KPK Arab Saudi OTT Besar-besaran, Tangkap 130 Orang termasuk Pejabat Kementerian Urusan Islam
Rekomendasi
Benarkah Tidur Tanpa...
Benarkah Tidur Tanpa Bantal Lebih Sehat? Ini Manfaat dan Risikonya Menurut Ahli
Bupati Langkat Syah...
Bupati Langkat Syah Afandin Jadi Tersangka Kasus Suap, Hartanya Rp10,6 Miliar
6 Brigjen Pol Dimutasi...
6 Brigjen Pol Dimutasi Kapolri ke Lemdiklat Polri pada Juni 2026, Ini Daftar Namanya
Berita Terkini
Setelah Bikin Marah...
Setelah Bikin Marah Kim Jong-un, Korut Sukes Tembakkan Rudal dari Kapal Perang 5.000 Ton
Iran Kecam Trump karena...
Iran Kecam Trump karena Ancam Lenyapkan Semua Orang di Pemakaman Khamenei dengan Sekali Tembak
9 Fakta Diplomasi Ayat...
9 Fakta Diplomasi Ayat Suci Al-Quran pada Pemakaman Khamenei, Kirim Sinyal Bedakan Siapa Sekutu dan Musuh
Kenapa Para Jenderal...
Kenapa Para Jenderal Iran Bersumpah Akan Balas Dendam atas Kematian Khamenei?
Trump Telepon Putin...
Trump Telepon Putin pada Hari Kemerdekaan AS selama 1,5 Jam, Ini 5 Topik yang Dirundingkan
Meski Ada Ancaman, Kedubes...
Meski Ada Ancaman, Kedubes Iran Ucapkan Terima Kasih kepada Delegasi yang Hadiri Pemakaman Khamenei
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved