Apakah Presiden Prancis Emmanuel Macron Mendukung Israel?
Selasa, 27 Mei 2025 - 18:30 WIB
loading...
Presiden Prancis Emmanuel Macron. Foto/irna
A
A
A
PARIS - Apakah Emmanuel Macron mendukung Israel? Pertanyaan ini sering muncul di tengah dinamika konflik Israel-Palestina yang terus memanas.
Melansir Times of Israel, baru-baru ini Macron mengecam kebijakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengenai larangan bantuan kemanusiaan ke Gaza. Ia menilai tindakan tersebut tidak dapat diterima dan terkesan memalukan.
Presiden Prancis itu bahkan mengatakan negara-negara Eropa harus mempertimbangkan untuk meningkatkan sanksi untuk Israel.
Macron menekankan ia sendiri telah mengunjungi perbatasan antara Mesir dan Gaza awal tahun ini dan melihat semua bantuan yang diberikan Prancis dan negara-negara lain telah diblokir Israel.
Pernyataan mengejutkan Macron itu memunculkan pertanyaan besar mengenai potensi perubahan dukungan Prancis terhadap Israel. Lantas, apakah selama ini ia memang mendukung Israel?
Sebagai Presiden Prancis, Emmanuel Macron sebenarnya menunjukkan sikap yang kompleks. Alih-alih memihak satu kubu, ia berusaha menyeimbangkan dukungan terhadap keamanan Israel, sekaligus keprihatinan kemanusiaan di Gaza.
Pada awal konflik, Macron menunjukkan solidaritas kuat terhadap Israel. Pasca-serangan besar Hamas ke Israel, ia mengunjungi Tel Aviv dan mengutuk keras tindakan Hamas sebagai aksi terorisme.
Macron bahkan sempat mengusulkan koalisi internasional melawan Hamas. Langkah ini mirip dengan koalisi anti-ISIS yang pernah dibentuk negara-negara Barat sebelumnya.
Namun, seiring meningkatnya korban sipil di Gaza akibat operasi militer Israel, sikap Macron perlahan berubah. Pada November 2023, ia mulai menyerukan gencatan senjata dan menyebut pemboman warga sipil Gaza tidak memiliki pembenaran.
Macron juga mendesak Israel melindungi warga sipil dan mematuhi hukum internasional. Pada 2024, kritiknya semakin tajam hingga memicu ketegangan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Melansir EuroNews, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kini menuduh para pemimpin Barat, termasuk Macron di Prancis berada di sisi sejarah yang salah.
Netanyahu menyebut Macron telah berpihak pada Hamas setelah menyerukan diakhirinya operasi militer Israel di Gaza dan pembatasan pengiriman bantuan kemanusiaan.
"Saat para pembunuh massal, pemerkosa, pembunuh bayi, dan penculik mengucapkan terima kasih kepada Anda, berarti Anda berada di pihak keadilan yang salah, Anda berada di pihak kemanusiaan yang salah, dan Anda berada di pihak sejarah yang salah," ucap Netanyahu dalam sambutannya pada hari Jumat, sambil menyebut nama-nama seperti Emmanuel Macron, Keir Starmer, dan Mark Carney, dikutip Selasa (27/5/).
Diketahui, awal minggu ini memang muncul pernyataan bersama yang mengutuk tindakan militer keji Israel di Gaza.
Termasuk Macron di Prancis, ia memperingatkan mereka akan mengambil tindakan konkret jika Netanyahu tidak mengubah haluan, khususnya terkait bantuan kemanusiaan.
Sikap Macron dalam masalah Israel-Palestina ini mencerminkan dilema diplomatik. Di satu sisi, ia sebenarnya mendukung hak Israel untuk membela diri sambil menekankan pentingnya kemanusiaan dan hukum internasional.
Namun, kritiknya terhadap Israel sering dianggap sebagai upaya menjaga kredibilitas Prancis di mata dunia Arab dan komunitas internasional, tanpa sepenuhnya memutus hubungan dengan Israel.
Meski begitu, tuduhan Netanyahu menunjukkan sikap ini tidak selalu diterima positif oleh Israel.
Ke depan, posisi Macron kemungkinan akan tetap berfokus pada solusi dua negara dan tekanan untuk gencatan senjata, tetapi sambil menjaga hubungan bilateral dengan Israel.
Bagi pengamat, Macron sedang berjalan di tali tipis, berusaha menyeimbangkan prinsip kemanusiaan dengan aliansi strategis.
Parahnya, sikap tersebut justru dijawab dengan tuduhan keji oleh PM Israel, Benjamin Netanyahu yang sampai menyebutnya berpihak ke Hamas dan dan berada di pihak yang salah.
Baca juga: Trump Tegaskan AS bisa Keluar dari Perundingan Ukraina dan Rusia
Melansir Times of Israel, baru-baru ini Macron mengecam kebijakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengenai larangan bantuan kemanusiaan ke Gaza. Ia menilai tindakan tersebut tidak dapat diterima dan terkesan memalukan.
Presiden Prancis itu bahkan mengatakan negara-negara Eropa harus mempertimbangkan untuk meningkatkan sanksi untuk Israel.
Macron menekankan ia sendiri telah mengunjungi perbatasan antara Mesir dan Gaza awal tahun ini dan melihat semua bantuan yang diberikan Prancis dan negara-negara lain telah diblokir Israel.
Pernyataan mengejutkan Macron itu memunculkan pertanyaan besar mengenai potensi perubahan dukungan Prancis terhadap Israel. Lantas, apakah selama ini ia memang mendukung Israel?
Apakah Emmanuel Macron Mendukung Israel?
Sebagai Presiden Prancis, Emmanuel Macron sebenarnya menunjukkan sikap yang kompleks. Alih-alih memihak satu kubu, ia berusaha menyeimbangkan dukungan terhadap keamanan Israel, sekaligus keprihatinan kemanusiaan di Gaza.
Pada awal konflik, Macron menunjukkan solidaritas kuat terhadap Israel. Pasca-serangan besar Hamas ke Israel, ia mengunjungi Tel Aviv dan mengutuk keras tindakan Hamas sebagai aksi terorisme.
Macron bahkan sempat mengusulkan koalisi internasional melawan Hamas. Langkah ini mirip dengan koalisi anti-ISIS yang pernah dibentuk negara-negara Barat sebelumnya.
Namun, seiring meningkatnya korban sipil di Gaza akibat operasi militer Israel, sikap Macron perlahan berubah. Pada November 2023, ia mulai menyerukan gencatan senjata dan menyebut pemboman warga sipil Gaza tidak memiliki pembenaran.
Macron juga mendesak Israel melindungi warga sipil dan mematuhi hukum internasional. Pada 2024, kritiknya semakin tajam hingga memicu ketegangan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Melansir EuroNews, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kini menuduh para pemimpin Barat, termasuk Macron di Prancis berada di sisi sejarah yang salah.
Netanyahu menyebut Macron telah berpihak pada Hamas setelah menyerukan diakhirinya operasi militer Israel di Gaza dan pembatasan pengiriman bantuan kemanusiaan.
"Saat para pembunuh massal, pemerkosa, pembunuh bayi, dan penculik mengucapkan terima kasih kepada Anda, berarti Anda berada di pihak keadilan yang salah, Anda berada di pihak kemanusiaan yang salah, dan Anda berada di pihak sejarah yang salah," ucap Netanyahu dalam sambutannya pada hari Jumat, sambil menyebut nama-nama seperti Emmanuel Macron, Keir Starmer, dan Mark Carney, dikutip Selasa (27/5/).
Diketahui, awal minggu ini memang muncul pernyataan bersama yang mengutuk tindakan militer keji Israel di Gaza.
Termasuk Macron di Prancis, ia memperingatkan mereka akan mengambil tindakan konkret jika Netanyahu tidak mengubah haluan, khususnya terkait bantuan kemanusiaan.
Sikap Macron dalam masalah Israel-Palestina ini mencerminkan dilema diplomatik. Di satu sisi, ia sebenarnya mendukung hak Israel untuk membela diri sambil menekankan pentingnya kemanusiaan dan hukum internasional.
Namun, kritiknya terhadap Israel sering dianggap sebagai upaya menjaga kredibilitas Prancis di mata dunia Arab dan komunitas internasional, tanpa sepenuhnya memutus hubungan dengan Israel.
Meski begitu, tuduhan Netanyahu menunjukkan sikap ini tidak selalu diterima positif oleh Israel.
Ke depan, posisi Macron kemungkinan akan tetap berfokus pada solusi dua negara dan tekanan untuk gencatan senjata, tetapi sambil menjaga hubungan bilateral dengan Israel.
Bagi pengamat, Macron sedang berjalan di tali tipis, berusaha menyeimbangkan prinsip kemanusiaan dengan aliansi strategis.
Parahnya, sikap tersebut justru dijawab dengan tuduhan keji oleh PM Israel, Benjamin Netanyahu yang sampai menyebutnya berpihak ke Hamas dan dan berada di pihak yang salah.
Baca juga: Trump Tegaskan AS bisa Keluar dari Perundingan Ukraina dan Rusia
(sya)
Lihat Juga :