Pria Ini Pencipta Bom Hidrogen Pertama di Dunia, tapi Dirahasiakan Hampir 50 Tahun

Kamis, 22 Mei 2025 - 11:25 WIB
loading...
Pria Ini Pencipta Bom...
Richard L Garwin, profesor AS pencipta bom hidrogen pertama di dunia tapi dirahasiakan hampir 50 tahun. Dia meninggal 13 Mei 2025. Foto/AHF Nuclear Museum/NDTV
A A A
WASHINGTON - Richard L Garwin adalah profesor Amerika Serikat (AS) yang menciptakan bom hidrogen pertama di dunia. Dia meninggal pada 13 Mei lalu di rumahnya di Scarsdale, New York pada usia 97 tahun.

Selama tujuh dekade berkarier, Garwin meletakkan dasar bagi wawasan tentang struktur alam semesta. Dia juga membantu dalam pengembangan beberapa keajaiban medis dan komputer.

Namun kontribusinya terhadap satu penemuan yang mengubah jalannya sejarah, yakni bom hidrogen, tetap menjadi rahasia selama hampir 50 tahun.

Dia berusia 23 tahun ketika merancang bom hidrogen pertama di dunia.

Baca Juga: AS Tembakkan Rudal Antarbenua Minuteman III yang Mampu Bawa Nuklir, Ini Tujuannya

Garwin, yang saat itu adalah seorang profesor di Universitas Chicago dan hanya konsultan musim panas di Laboratorium Nasional Los Alamos di New Mexico, menggunakan konsep fisikawan Edward Teller dan matematikawan Stanislaw Ulam untuk merancang bom hidrogen pada tahun 1951-1952.

Perangkat percobaan yang diberi nama kode Ivy Mike itu berhasil diuji di Kepulauan Marshall pada 1 November 1952.

Kontribusi Garwin dalam pembuatan bom hidrogen pertama merupakan rahasia yang dijaga dengan baik selama beberapa dekade.

Di luar kelompok tertentu dari pejabat pemerintah, militer, dan intelijen Amerika, tidak seorang pun mengetahui perannya dalam percobaan tersebut karena kerahasiaan yang menyelimuti proyek itu.

Edward Teller, yang namanya telah lama dikaitkan dengan bom tersebut, pertama kali memuji Garwin dalam sebuah pernyataan yang direkam pada tahun 1981, yang mengakui peran pentingnya dalam penemuan itu.

"Tembakan itu ditembakkan hampir persis sesuai dengan rancangan Garwin," kata Teller, seperti yang dikutip dari The New York Times.

Rekaman itu hilang dari sejarah selama 22 tahun. Pengakuan yang terlambat itu tidak banyak mendapat perhatian, dan Garwin tetap tidak dikenal publik untuk waktu yang lama.

Dalam sebuah wawancara dengan majalah Esquire pada tahun 1984, Garwin membuka diri tentang sedikit atau tidak adanya pengakuan atas karyanya pada bom hidrogen. Dia berkata, "Saya tidak pernah merasa bahwa membuat bom hidrogen adalah hal terpenting di dunia, atau bahkan dalam hidup saya saat itu."

Hal ini berubah pada bulan April 2001 ketika George A Keyworth II, teman Teller, memberikan transkrip rekaman pita tersebut kepada The New York Times.

Meskipun Teller sebelumnya telah mengakui kontribusi fisikawan muda tersebut, referensi itu hilang dalam tulisan dan pertemuan khusus. Tiba-tiba, hampir 50 tahun setelah peristiwa tersebut, Garwin memperoleh pengakuan publik yang luas sebagai pencipta bom hidrogen.

Sementara itu, setelah keberhasilannya dalam proyek bom hidrogen, Garwin menerima pekerjaan di International Business Machines Corporation, tempat dia bekerja selama empat dekade, hingga pensiun.

Di sela-sela itu, Garwin tetap menjadi konsultan pemerintah, yang memberikan nasihat tentang hal-hal yang berkaitan dengan pertahanan nasional.

Fisikawan tersebut merupakan penasihat bagi beberapa Presiden Amerika, seperti Dwight D Eisenhower, John F Kennedy, Lyndon B Johnson, Richard M Nixon, Jimmy Carter, dan Bill Clinton.

Banyak penghargaan yang diterima Richard L Garwin termasuk Medali Sains Nasional tahun 2002, penghargaan tertinggi negara untuk pencapaian di bidang sains dan teknik, yang diberikan oleh Presiden AS George W Bush dan Medali Kebebasan Presiden tahun 2016, penghargaan sipil tertinggi, yang diberikan oleh Presiden Barack Obama.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pemimpin Oposisi Zionis:...
Pemimpin Oposisi Zionis: Kesepakatan Damai AS-Iran Berarti Tak Satu Pun Tujuan Perang Israel Tercapai
Perseteruan Memanas,...
Perseteruan Memanas, Jet Tempur Swedia Cegat Pesawat Militer Rusia
Jenderal Jerman Duga...
Jenderal Jerman Duga Rusia Bakal Kerahkan Senjata Nuklir ke Luar Angkasa, Bisa Picu Kiamat Satelit
Uni Emirat Arab Bayar...
Uni Emirat Arab Bayar Iran Rp355,5 Triliun agar Berhenti Menyerang
Swedia: Konflik Rusia-NATO...
Swedia: Konflik Rusia-NATO Bisa Pecah dalam Waktu Dekat
AS Habisi Bos Geng Tren...
AS Habisi Bos Geng Tren de Aragua, Markasnya di Venezuela Dibom hingga Berkeping-keping
5 Negara Produsen Jet...
5 Negara Produsen Jet Tempur Terbesar di Dunia
Heboh! Pentagon Sempat...
Heboh! Pentagon Sempat Lockdown Usai Sensor Deteksi Antraks, Ternyata Alarm Palsu
Gugur dalam Serangan...
Gugur dalam Serangan AS-Israel, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Dimakamkan 9 Juli
Rekomendasi
Gejala Usus Buntu yang...
Gejala Usus Buntu yang Sering Diabaikan, Dari Nyeri Perut hingga Demam Mendadak
Budiman Sudjatmiko Tepis...
Budiman Sudjatmiko Tepis Usir Mahasiswa dari Forum Diskusi di Semarang
Benarkah Muharram atau...
Benarkah Muharram atau Suro Bulan Keramat? Begini Pandangan Islam
Berita Terkini
Pemimpin Oposisi Zionis:...
Pemimpin Oposisi Zionis: Kesepakatan Damai AS-Iran Berarti Tak Satu Pun Tujuan Perang Israel Tercapai
Perseteruan Memanas,...
Perseteruan Memanas, Jet Tempur Swedia Cegat Pesawat Militer Rusia
Jenderal Jerman Duga...
Jenderal Jerman Duga Rusia Bakal Kerahkan Senjata Nuklir ke Luar Angkasa, Bisa Picu Kiamat Satelit
Perempuan Cantik Ini...
Perempuan Cantik Ini Tewas dalam Atraksi Lompat Jembatan 30 Meter karena Petugas Lupa Pasang Tali Pengaman
Uni Emirat Arab Bayar...
Uni Emirat Arab Bayar Iran Rp355,5 Triliun agar Berhenti Menyerang
Swedia: Konflik Rusia-NATO...
Swedia: Konflik Rusia-NATO Bisa Pecah dalam Waktu Dekat
Infografis
Petinju Legendaris George...
Petinju Legendaris George Foreman Meninggal Dunia di Usia 76 Tahun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved