Momen Nakba, Eropa Bersatu Kecam Operasi Militer Israel di Gaza
Senin, 19 Mei 2025 - 01:15 WIB
loading...
Rakyat Eropa bersatu mendukung Palestina. Foto/X/@palinfoen
A
A
A
LONDON - Pada tanggal 15 Mei, warga Palestina memperingati "Nakba," atau "Malapetaka," -- pemindahan paksa warga Palestina setelah berdirinya Israel pada tahun 1948 -- dengan protes skala besar di seluruh Eropa, termasuk Stockholm dan London.
Demonstrasi juga mengutuk serangan Israel terhadap Jalur Gaza.
Di Stockholm, ribuan orang berkumpul di Odenplan Square atas undangan beberapa organisasi masyarakat sipil untuk memprotes serangan Israel di Gaza. Para demonstran membawa bendera Palestina, foto anak-anak yang terbunuh, dan spanduk bertuliskan: “Hentikan genosida rezim Zionis di Palestina.”
Banyak yang membawa spanduk bertuliskan nama-nama warga sipil yang terbunuh di Gaza untuk menarik perhatian terhadap pembantaian yang sedang berlangsung.
Aktivis kelahiran Yahudi Swedia, Dror Feiler, mengatakan kepada massa bahwa operasi Israel di Gaza adalah “genosida” dan mendesak agar tindakan tersebut segera dihentikan. Feiler juga mengkritik Menteri Luar Negeri Swedia, Maria Malmer Stenergard, karena tetap diam.
Pendeta Ann Christin Kristiansson dari Gereja Swedia menyuarakan sentimen Feiler kepada Anadolu, menyebut serangan itu sebagai “genosida” dan menekankan bahwa menghentikan Israel memerlukan perlawanan sipil yang terorganisasi, bukan tindakan militer. Ia menyoroti bahwa serangan Israel menargetkan wanita, anak-anak, dan warga sipil, bukan pejuang perlawanan, dan menekankan perlunya solusi politik berdasarkan hukum internasional. Pawai besar-besaran di London
Sementara itu, di London, ratusan ribu orang berkumpul untuk berbaris menuju Downing Street, menuntut diakhirinya genosida Israel di Gaza pada tahun ke-77 sejak Nakba. Para pengunjuk rasa, yang mengibarkan bendera Palestina dan mengenakan keffiyeh tradisional, meneriakkan slogan-slogan seperti "Hentikan genosida di Gaza," "Bebaskan Palestina," dan "Israel adalah negara teroris."
Para demonstran mengutuk pengepungan Israel di Jalur Gaza, yang menurut mereka sengaja membuat lebih dari 2 juta warga Palestina kelaparan, dan mengecam pemerintah Inggris atas dukungan politik dan militernya terhadap Israel, menuduhnya terlibat dalam krisis kemanusiaan.
Di antara para demonstran terdapat tokoh-tokoh terkenal seperti aktor The Crown Khalid Abdalla, aktris Inggris Juliet Stevenson, dan mantan perwira militer dan diplomat AS Ann Wright.
Duta Besar Palestina untuk Inggris Husam Zomlot berbicara kepada massa, dengan mencatat bahwa genosida telah berlangsung selama 77 tahun, bukan hanya dalam eskalasi baru-baru ini. Ia mengecam penjualan senjata yang terus berlanjut ke Israel dan menggambarkan kehancuran tempat kelahirannya di Gaza. Zomlot merinci situasi kemanusiaan yang mengerikan, dengan bantuan yang diblokir dan kelaparan yang meluas yang memengaruhi semua orang, termasuk dokter, jurnalis, dan pekerja bantuan.
Demonstrasi juga mengutuk serangan Israel terhadap Jalur Gaza.
Di Stockholm, ribuan orang berkumpul di Odenplan Square atas undangan beberapa organisasi masyarakat sipil untuk memprotes serangan Israel di Gaza. Para demonstran membawa bendera Palestina, foto anak-anak yang terbunuh, dan spanduk bertuliskan: “Hentikan genosida rezim Zionis di Palestina.”
Banyak yang membawa spanduk bertuliskan nama-nama warga sipil yang terbunuh di Gaza untuk menarik perhatian terhadap pembantaian yang sedang berlangsung.
Aktivis kelahiran Yahudi Swedia, Dror Feiler, mengatakan kepada massa bahwa operasi Israel di Gaza adalah “genosida” dan mendesak agar tindakan tersebut segera dihentikan. Feiler juga mengkritik Menteri Luar Negeri Swedia, Maria Malmer Stenergard, karena tetap diam.
Pendeta Ann Christin Kristiansson dari Gereja Swedia menyuarakan sentimen Feiler kepada Anadolu, menyebut serangan itu sebagai “genosida” dan menekankan bahwa menghentikan Israel memerlukan perlawanan sipil yang terorganisasi, bukan tindakan militer. Ia menyoroti bahwa serangan Israel menargetkan wanita, anak-anak, dan warga sipil, bukan pejuang perlawanan, dan menekankan perlunya solusi politik berdasarkan hukum internasional. Pawai besar-besaran di London
Sementara itu, di London, ratusan ribu orang berkumpul untuk berbaris menuju Downing Street, menuntut diakhirinya genosida Israel di Gaza pada tahun ke-77 sejak Nakba. Para pengunjuk rasa, yang mengibarkan bendera Palestina dan mengenakan keffiyeh tradisional, meneriakkan slogan-slogan seperti "Hentikan genosida di Gaza," "Bebaskan Palestina," dan "Israel adalah negara teroris."
Para demonstran mengutuk pengepungan Israel di Jalur Gaza, yang menurut mereka sengaja membuat lebih dari 2 juta warga Palestina kelaparan, dan mengecam pemerintah Inggris atas dukungan politik dan militernya terhadap Israel, menuduhnya terlibat dalam krisis kemanusiaan.
Di antara para demonstran terdapat tokoh-tokoh terkenal seperti aktor The Crown Khalid Abdalla, aktris Inggris Juliet Stevenson, dan mantan perwira militer dan diplomat AS Ann Wright.
Duta Besar Palestina untuk Inggris Husam Zomlot berbicara kepada massa, dengan mencatat bahwa genosida telah berlangsung selama 77 tahun, bukan hanya dalam eskalasi baru-baru ini. Ia mengecam penjualan senjata yang terus berlanjut ke Israel dan menggambarkan kehancuran tempat kelahirannya di Gaza. Zomlot merinci situasi kemanusiaan yang mengerikan, dengan bantuan yang diblokir dan kelaparan yang meluas yang memengaruhi semua orang, termasuk dokter, jurnalis, dan pekerja bantuan.
Lihat Juga :