Perang Dagang Lumpuhkan Salah Satu Provinsi Terkaya di China

Sabtu, 17 Mei 2025 - 14:34 WIB
loading...
A A A

Perluasan Skema Asuransi


Zhang Mengting, peneliti perdagangan internasional di Universitas Ningbo, mengatakan bahwa memindahkan produksi ke negara-negara yang mengalami defisit perdagangan dengan AS seharusnya menjadi bagian dari strategi “kebal Trump.”

“Pemerintah dan pelaku usaha perlu melakukan studi yang cermat terhadap hierarki tarif Trump,” ujarnya.

“Mereka bisa mengidentifikasi ‘dataran rendah tarif’ seperti Mesir yang mungkin menjadi tujuan berikutnya bagi perusahaan China untuk mengalihkan ekspor ke AS. Dan negara-negara ini akan menyambut investasi China.”

Zhang juga menyarankan subsidi bagi perusahaan untuk menilai risiko kepatuhan di negara tujuan dan memperluas asuransi ekspor untuk menutupi risiko barang ditinggalkan akibat tarif di masa depan.

Pemerintah Zhejiang sedang mempertimbangkan hal ini, dan tengah meninjau perluasan skema asuransi untuk mencakup barang-barang yang sudah diproduksi tetapi menjadi “tidak dapat dikirim” karena pembayaran tertunda atau pembatalan pesanan oleh klien AS.

Beberapa eksportir di provinsi tersebut mengatakan kepada South China Morning Post bahwa perubahan seperti itu bisa menjadi bantuan vital, karena sebagian besar cakupan asuransi saat ini hanya berlaku untuk barang yang sedang dalam pengiriman.

Kesepakatan perdagangan terbaru antara AS dan China menjadi angin segar bagi sebagian besar pelaku usaha di Zhejiang, namun para analis memperingatkan bahwa ketidakpastian akan terus membayangi kecuali mereka mengambil pelajaran dari perang dagang ini.

"Hari-Hari Cerah"


Zhejiang telah menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan dan eksportir harus berfokus pada strategi jangka panjang untuk mendorong reformasi yang tekun, kata Zhou dari China Macro Group.

“Ada pelajaran mahal bagi wilayah dan perusahaan yang lambat dalam memanfaatkan permintaan domestik dan pasar luar negeri baru.”

Dalam jangka panjang, peningkatan konsumsi domestik dan eksplorasi pasar global baru akan menjadi kunci, tambahnya.

“Hanya ada dua solusi—memperluas permintaan domestik dan mendiversifikasi pasar ekspor—keduanya sudah berjalan… Beijing punya pandangan jauh ke depan dengan dorongan sirkulasi ganda, dengan fokus pada sisi domestik, tetapi butuh waktu dan upaya agar membuahkan hasil.

“Kesepakatan hari Senin adalah jeda yang disambut baik, tetapi tak seorang pun tahu apa yang akan terjadi setelah 90 hari ini. Trump dikenal suka berubah-ubah,” kata Zhou. “Ini adalah kesempatan terakhir.”

Bagi Qiu Bojing, wakil presiden Beifa Group—salah satu produsen alat tulis dan perlengkapan kantor terbesar di Zhejiang yang menjual 40 persen produk luar negerinya ke pembeli di AS—terobosan dalam pembicaraan bilateral ini telah melampaui ekspektasi.

“Kepanikan sejak bulan lalu mungkin sudah berakhir, untuk saat ini,” kata Qiu.

“Pasar AS terlalu besar untuk dilepaskan, dan kami akan menemukan cara untuk terus mengekspor ke negara itu, apapun kondisinya. Hari-hari cerah akan datang.”
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Kecam Perlakuan...
Iran Kecam Perlakuan Buruk AS di Piala Dunia: Tim yang Paling Ditindas
Iran dan Oman Tegaskan...
Iran dan Oman Tegaskan Komitmen Navigasi Maritim Aman melalui Selat Hormuz setelah Kesepakatan dengan AS
Trump Tegaskan Tanpa...
Trump Tegaskan Tanpa AS, Tidak akan Ada Israel, Netanyahu Harus Lebih Tanggung Jawab
Menlu Iran Tegaskan...
Menlu Iran Tegaskan Akhir Perang Dideklarasikan Senin, Resmi Berlaku Jumat
Trump: AS Tidak akan...
Trump: AS Tidak akan Bayar Iran Rp5 Triliun, Itu Berita Palsu
Wapres AS Sebut Iran...
Wapres AS Sebut Iran Bisa Dapat Rp5.312 Triliun, tapi Trump Ragu
Taiwan, Identitas, dan...
Taiwan, Identitas, dan Politik Pengakuan: Membaca Ulang Perdebatan Lintas Selat
Suami Divonis 4 Tahun...
Suami Divonis 4 Tahun Penjara karena Paksa Istri Berhubungan Seks dengan 120 Pria
Acuhkan Trump, Israel...
Acuhkan Trump, Israel Tolak Tinggalkan Lebanon meski AS-Iran Berdamai
Rekomendasi
Mensos: Rekrutmen Guru...
Mensos: Rekrutmen Guru Sekolah Rakyat 2026 Capai 5.000 Orang
KPK Periksa Mantan Stafsus...
KPK Periksa Mantan Stafsus Menag Gus Yaqut terkait Kasus Kuota Haji
Profil Luca Zidane,...
Profil Luca Zidane, Kiper Aljazair Putra Zinedine Zidane yang Kebobolan Hattrick Messi
Berita Terkini
Ini Teks Resmi 14 Poin...
Ini Teks Resmi 14 Poin Kesepakatan Damai AS dan Iran
Kesepakatan Iran Mencakup...
Kesepakatan Iran Mencakup Dana Rp5.327 Triliun, Setengahnya Sudah Jadi Komitmen
PM Kanada Akui G7 Tidak...
PM Kanada Akui G7 Tidak Lagi Kendalikan Dunia
Israel Danai Pemukim...
Israel Danai Pemukim Ekstremis, Bayar Rp34 Miliar Per Bulan
Kapal Tanker Ketiga...
Kapal Tanker Ketiga Pembawa Minyak Iran Keluar dari Garis Blokade AS
Israel Terus Serang...
Israel Terus Serang Lebanon Selatan Meski Ada Kesepakatan AS-Iran
Infografis
5 Kapal Perang Paling...
5 Kapal Perang Paling Canggih di ASEAN
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved