Perang Dagang Lumpuhkan Salah Satu Provinsi Terkaya di China

Sabtu, 17 Mei 2025 - 14:34 WIB
loading...
Perang Dagang Lumpuhkan...
Perang dagang dengan AS telah melumpuhkan Zhejiang, salah satu provinsi terkaya di China. Foto/Ilustrasi Davies C. Surya via South China Morning Post
A A A
JAKARTA - Bagi para pelaku di seluruh aspek perdagangan China— mulai dari eksportir hingga pejabat pemerintah—, 40 hari terakhir telah menjadi perjalanan penuh gejolak.

Pasang surut perang tarif antara China dengan Amerika Serikat (AS)—eskalasi cepat bea impor pada April yang kemudian dibalikkan dengan pelonggaran tarif selama 90 hari pada Senin lalu—memang telah berakhir dengan "gencatan senjata" sementara, namun tidak semua wilayah berhasil melewati badai ini tanpa luka.

Sementara pelaku bisnis mencoba bangkit dan menghitung kerugian, salah satu provinsi terkaya di China terkena dampak paling parah setelah selama bertahun-tahun diuntungkan oleh hubungan perdagangan yang erat dengan AS.

Zhejiang—pusat kekuatan ekonomi pesisir dan eksportir terbesar kedua negara itu ke AS—sangat menderita akibat tarif tinggi yang diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump terhadap barang-barang China pada awal April.

Baca Juga: AS dan China Sepakat Hentikan Gencatan Perang Dagang selama 90 Hari

Mengutip dari South China Morning Post, Sabtu (17/5/2025), luka-luka ini bisa saja bertahan lama, bahkan jika tarif kini sudah tidak lagi berada di tingkat tiga digit seperti sebelum pejabat China dan AS menyelesaikan pembicaraan perdagangan di Swiss.

Ada kecemasan yang meluas ketika provinsi ini terguncang oleh dampak perang dagang, yang oleh beberapa pengamat disebut sebagai “uji stres ekstrem.”

Namun dalam minggu-minggu penuh tekanan sebelum eskalasi mereda, Zhejiang berusaha untuk membuat dirinya “kebal Trump” dengan melindungi diri dari dampak terburuk. Kerusakan besar pada ekonomi provinsi, penderitaan bisnis yang dialami, dan respons para pejabat bisa menjadi pelajaran berharga, bahkan ketika wilayah makmur ini terdorong hingga ke batasnya.

“Ada wilayah-wilayah yang lambat untuk beralih dari ketergantungan pada AS dan sekarang mereka membayar harganya...Kesepakatan di hari Senin bisa jadi adalah kesempatan terakhir bagi bisnis untuk berubah,” kata Zhou Zheng, analis senior di China Macro Group, sebuah firma konsultan yang berkantor pusat di Zurich.

Zhejiang, salah satu wilayah terkaya di China dengan nilai ekspor yang sebanding dengan Meksiko, langsung terkena dampaknya ketika Trump meningkatkan serangan tarifnya bulan lalu, karena seperenam dari seluruh pengiriman keluar provinsi tersebut tahun lalu ditujukan ke AS.

Ekspor China ke AS


Ningbo, kota eksportir terbesar kelima di China dan rumah bagi pelabuhan kontainer tersibuk ketiga di dunia, adalah salah satu pusat urban di provinsi tersebut yang paling parah terdampak.

Pertumbuhan Ningbo yang digerakkan oleh perdagangan mengalami hambatan ketika target-target ekonomi menjadi kacau setelah AS dan China mulai saling menaikkan tarif.

Sebelum tarif baru berlaku, ada rencana untuk mendorong produk domestik bruto (PDB) Ningbo menembus angka 2 triliun yuan (USD277 miliar) tahun ini, sebagai upaya untuk memasuki kelompok elite—10 ekonomi kota terbesar di China.

Target ambisius itu didasarkan pada momentum pertumbuhan sebelumnya dan proyeksi yang bijaksana. Para pejabat lokal sudah memiliki rencana untuk hampir segalanya guna menjamin kebangkitan kota tersebut—kecuali kenaikan tarif Trump yang berani.

Di tengah rentetan kejutan sejak bulan lalu, pengiriman Ningbo ke AS—pasar terbesarnya—menurun secara cepat dan drastis, mengancam untuk menggagalkan rencana pertumbuhan tahun ini.

Pelabuhan Ningbo-Zhoushan memiliki eksposur yang sangat tinggi terhadap perdagangan AS, kata Fitch Ratings dalam pernyataan tanggal 30 April.

Kota tersebut belum merilis angka ekspor untuk bulan April, tetapi total ekspor China ke AS turun 21 persen secara tahunan bulan lalu, kontraksi paling tajam dalam hampir dua tahun.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perjanjian Damai Iran...
Perjanjian Damai Iran Jadi Kekalahan Paling Memalukan bagi AS, Ini 3 Alasannya
Militerisasi Jepang...
Militerisasi Jepang dan Bahaya Radiasi Radio Aktif
Tiru Israel, Taiwan...
Tiru Israel, Taiwan Gunakan AI untuk Rekrut Informan dan Whistleblower China
Beijing: Asing Mata-matai...
Beijing: Asing Mata-matai China, Gunakan Kura-kura dan Ikan yang Dipasang Sensor
Pemimpin Oposisi Zionis:...
Pemimpin Oposisi Zionis: Kesepakatan Damai AS-Iran Berarti Tak Satu Pun Tujuan Perang Israel Tercapai
Uni Emirat Arab Bayar...
Uni Emirat Arab Bayar Iran Rp355,5 Triliun agar Berhenti Menyerang
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
Pilu Seorang Ibu Gugat...
Pilu Seorang Ibu Gugat OpenAI Usai Kematian Putrinya Dikaitkan ChatGPT
Cerita Striker Irak...
Cerita Striker Irak di Piala Dunia 2026, Hampir Putus Asa usai Ayah Tewas Ditembak saat Perang
Rekomendasi
Siap-siap! Harga Rumah...
Siap-siap! Harga Rumah Subsidi Bakal Naik, Ini Penyebabnya
Audisi Miss Indonesia...
Audisi Miss Indonesia 2026 Yogyakarta Hari Kedua Diserbu Talenta Muda Berprestasi
PKB Jabar Fest, Gus...
PKB Jabar Fest, Gus Muhaimin: Kita Tak Butuh Pemimpin Pencitraan
Berita Terkini
Perjanjian Damai Iran...
Perjanjian Damai Iran Jadi Kekalahan Paling Memalukan bagi AS, Ini 3 Alasannya
Setelah 4 Bulan Berperang,...
Setelah 4 Bulan Berperang, Ini 7 Hal yang Membuat Iran Lebih Kuat
Berlatih di Tijuana,...
Berlatih di Tijuana, Timnas Iran Dikawal 300 Pasukan Elite Meksiko
Jika Dicairkan, Aset...
Jika Dicairkan, Aset Beku Iran Jadi Oksigen Segar untuk Kebangkitan Ekonomi Iran
Militerisasi Jepang...
Militerisasi Jepang dan Bahaya Radiasi Radio Aktif
Drone Hizbullah Hantam...
Drone Hizbullah Hantam Israel, IDF Bombardir Lebanon
Infografis
Daftar Skuad Timnas...
Daftar Skuad Timnas Mesir di Piala Dunia 2026, Mohamed Salah Ujung Tombak
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved