Taiwan Nyatakan Siap Bantu Ciptakan Era Pasca-Pandemi yang Lebih Baik

loading...
Taiwan Nyatakan Siap Bantu Ciptakan Era Pasca-Pandemi yang Lebih Baik
Wu mengatakan, dengan keberhasilan yang luar biasa Taiwan dalam menangani pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa partisipasi Taiwan di PBB dapat berkontribusi pada kesejahteraan manusia. Foto/REUTERS
A+ A-
TAIPEI - Menteri Luar Negeri Taiwan, Jaushieh Joseph Wu menyerukan Indonesia dan negara lain untuk mendukung partisipasi Taiwan dalam konferensi, mekanisme, dan kegiatan PBB. Taipei mengatakan, dengan keberhasilan yang luar biasa Taiwan dalam menangani pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa partisipasi Taiwan di PBB dapat berkontribusi pada kesejahteraan manusia.

Wu mengatakan, tahun ini Covid-19 telah membawa krisis kesehatan masyarakat global, dan komunitas internasional perlu lebih melakukan upaya bersama dibandingkan masa sebelumnya untuk membangun masa depan yang lebih baik dan lebih berkelanjutan yang dicita-citakan oleh PBB dan negara-negara anggotanya. Taiwan, jelasnya, telah siap, bersedia dan mampu berpartisipasi dalam upaya bersama ini.

Dia mengatakan, jumlah kasus Covid-19 yang dikonfirmasi di Taiwan kurang dari 500 kasus dan kematian hanya dalam satu digit, dan hasil penanganan pandemi sangat luar biasa. (Baca juga: Mentan Syahrul Lepas Ekspor 4 Kontainer Kubis ke Taiwan)

"Semua ini terutama karena berbagai tindakan pencegahan yang dilakukan oleh Taiwan dalam menghadapi pandemi Covid-19, dan Taiwan juga menyediakan peralatan dan bahan medis ke negara lain yang sangat membutuhkan," ucapnya, dalam siaran pers yang diterima Sindonews pada Senin (7/9/2020).

"Hingga akhir Juni tahun ini, Taiwan telah menyumbangkan 51 juta masker medis, 1,16 juta masker N95, 600 ribu baju isolasi, 35 ribu termometer dahi dan berbagai peralatan medis lainnya ke lebih dari 80 negara, termasuk Indonesia. Taiwan juga bekerja sama dengan negara-negara demokratis yang memiliki gagasan yang sama untuk mengembangkan alat rapid test, obat-obatan dan vaksin untuk Covid-19," sambungnya.



Dirinya lebih lanjut menyatakan bahwa dalam "Deklarasi untuk memperingati 75 tahun berdirinya PBB", pemerintah dan kepala negara sepakat bahwa hanya solidaritas global yang dapat secara efektif mengakhiri pandemi. (Baca juga: Mi Daging Sapi, Hidangan Nasional Taiwan yang Rasanya Juara)

Oleh karena itu, ucapnya, PBB harus lebih inklusif dan tidak boleh mengabaikan negara mana pun termasuk Taiwan dan siapa saja. "Namun kenyataannya, Taiwan terus menerus dikesampingkan dari sistem organisasi PBB," ujarnya.

Wu juga mengatakan, China terus menekan PBB untuk secara keliru menggunakan Resolusi 2758 yang diadopsi oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1971 sebagai dasar hukum untuk memblokir partisipasi Taiwan di PBB. Faktanya, resolusi tersebut tidak membahas masalah perwakilan Taiwan di PBB, juga tidak menyebutkan bahwa Taiwan adalah bagian dari China.

Diplomat Taiwan itu menegaskan bahwa Taiwan tidak pernah menjadi bagian dari China. Wu mengatakan bahwa presiden dan anggota kongres Taiwan dipilih langsung oleh rakyat Taiwan, yang sama sekali berbeda dari China yang tidak demokratis.

"PBB harus mengakui bahwa hanya pemerintah yang dipilih melalui prosedur demokrasi di Taiwan yang dapat mewakili 23,5 juta rakyat Taiwan dan China tidak memiliki hak untuk berbicara atas nama Taiwan," ujarnya.



Menurutnya, mencegah Taiwan berpartisipasi di PBB adalah kerugian bagi komunitas internasional, dan akan menghambat upaya negara-negara anggota PBB untuk memulihkan kehidupan normal setelah pandemi serta upaya penerapan "Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan". (Baca juga: Muak dengan China, Taiwan Ganti Desain Paspor)"Jika Taiwan dapat berpartisipasi dalam kegiatan, pertemuan, dan mekanisme yang terkait dengan PBB, Taiwan akan dapat memberikan lebih banyak kontribusi kepada dunia," jelasnya.

Dia menambahkan bahwa pembukaan Piagam PBB dengan jelas menyatakan bahwa PBB menegaskan kembali kepercayaan pada HAM dan persamaan hak antara pria dan wanita, serta semua bangsa baik besar maupun kecil.

"Cita-cita menjaga HAM dan kebebasan fundamental semua orang yang tertuang dalam piagam tidak boleh menjadi kata-kata kosong. Saat PBB dalam penantian untuk 75 tahun yang berikutnya, masih belum terlambat untuk menyambut partisipasi Taiwan," tukasnya.
(esn)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top