Trump Lebih Suka Deal dengan Musuh, AS Sedang Tinggalkan Israel?
Jum'at, 16 Mei 2025 - 13:13 WIB
loading...
A
A
A
Pada Maret lalu, misalnya, Adam Boehler, utusan Trump untuk urusan sandera, bernegosiasi langsung dengan Hamas terkait pembebasan warga AS, tanpa koordinasi dengan Israel. Meskipun Boehler akhirnya dikeluarkan dari tim, Hamas kemudian membebaskan satu-satunya sandera Amerika yang tersisa, Edan Alexander, melalui jalur yang sama, bahkan tanpa sepengetahuan resmi dari Tel Aviv.
Yang lebih mengejutkan, saat Netanyahu berada di Gedung Putih bulan lalu, Trump mengumumkan dimulainya pembicaraan langsung dengan Iran mengenai program nuklirnya, tanpa memberitahu Israel sebelumnya.
“Saya rasa tidak ada satu pun pemerintahan AS, baik Demokrat maupun Republik, yang pernah melakukan pendekatan independen sebesar ini terhadap musuh-musuh Israel,” ujar Aaron David Miller, mantan negosiator perdamaian Timur Tengah di beberapa pemerintahan AS.
Apa yang mendorong perubahan ini? Sebagian analis menyebut bahwa Trump mulai frustrasi terhadap Netanyahu. Dalam satu pertemuan Oval Office, Trump menolak usulan penghapusan tarif impor untuk Israel dengan berkata: “Kami memberi Israel USD4 miliar per tahun. Itu banyak. Selamat, by the way.”
Selain itu, kubu kebijakan luar negeri Partai Republik sendiri kini tengah berubah. “Faksi restrainer" yang lebih skeptis terhadap keterlibatan militer AS di luar negeri, kini punya tempat di lingkar dalam Trump. Wakil Presiden JD Vance, misalnya, mengatakan bahwa meski Israel berhak membela diri, AS tidak perlu ikut perang dengan Iran.
Trump bahkan memecat penasihat keamanannya yang dikenal hawkish, Mike Waltz, setelah mengetahui bahwa Waltz berkontak dengan pemerintah Israel soal opsi militer terhadap Iran.
Trump juga tampak lebih tertarik pada diplomasi ekonomi ketimbang geopolitik. Alih-alih mengunjungi Tel Aviv atau Kairo, Trump memilih berkunjung ke pusat investasi kaya seperti Riyadh dan Abu Dhabi—tempat yang dia sebut sebagai “keajaiban berkilauan.”
Saat duduk bersama Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) dan Emir Abu Dhabi Mohammed bin Zayed (MBZ), Trump mendengar pesan baru: ketegangan dengan Iran harus diturunkan, perang di Yaman harus diakhiri, dan Israel harus menahan diri di Gaza. Dua pemimpin Teluk itu kini lebih fokus pada stabilitas kawasan dan bisnis daripada konfrontasi.
Yang lebih mengejutkan, saat Netanyahu berada di Gedung Putih bulan lalu, Trump mengumumkan dimulainya pembicaraan langsung dengan Iran mengenai program nuklirnya, tanpa memberitahu Israel sebelumnya.
“Saya rasa tidak ada satu pun pemerintahan AS, baik Demokrat maupun Republik, yang pernah melakukan pendekatan independen sebesar ini terhadap musuh-musuh Israel,” ujar Aaron David Miller, mantan negosiator perdamaian Timur Tengah di beberapa pemerintahan AS.
Kemarahan, Uang, dan Politik Domestik
Apa yang mendorong perubahan ini? Sebagian analis menyebut bahwa Trump mulai frustrasi terhadap Netanyahu. Dalam satu pertemuan Oval Office, Trump menolak usulan penghapusan tarif impor untuk Israel dengan berkata: “Kami memberi Israel USD4 miliar per tahun. Itu banyak. Selamat, by the way.”
Selain itu, kubu kebijakan luar negeri Partai Republik sendiri kini tengah berubah. “Faksi restrainer" yang lebih skeptis terhadap keterlibatan militer AS di luar negeri, kini punya tempat di lingkar dalam Trump. Wakil Presiden JD Vance, misalnya, mengatakan bahwa meski Israel berhak membela diri, AS tidak perlu ikut perang dengan Iran.
Trump bahkan memecat penasihat keamanannya yang dikenal hawkish, Mike Waltz, setelah mengetahui bahwa Waltz berkontak dengan pemerintah Israel soal opsi militer terhadap Iran.
Lebih Suka Riyadh daripada Tel Aviv
Trump juga tampak lebih tertarik pada diplomasi ekonomi ketimbang geopolitik. Alih-alih mengunjungi Tel Aviv atau Kairo, Trump memilih berkunjung ke pusat investasi kaya seperti Riyadh dan Abu Dhabi—tempat yang dia sebut sebagai “keajaiban berkilauan.”
Saat duduk bersama Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) dan Emir Abu Dhabi Mohammed bin Zayed (MBZ), Trump mendengar pesan baru: ketegangan dengan Iran harus diturunkan, perang di Yaman harus diakhiri, dan Israel harus menahan diri di Gaza. Dua pemimpin Teluk itu kini lebih fokus pada stabilitas kawasan dan bisnis daripada konfrontasi.
Lihat Juga :