Trump Lebih Suka Deal dengan Musuh, AS Sedang Tinggalkan Israel?
Jum'at, 16 Mei 2025 - 13:13 WIB
loading...
A
A
A
“MBS dan MBZ sangat dihormatinya. Dia mendengarkan mereka,” kata Novik, yang kini menjadi pakar di Israel Policy Forum. “Mereka percaya bahwa apa yang terjadi di Gaza tidak akan berhenti di Gaza. Itu mengacaukan kawasan dan buruk untuk bisnis.”
Di sisi lain, meskipun Trump telah membekukan Israel dari diplomasi kawasan, dia tidak menahan tangan Netanyahu di Gaza. Alih-alih melakukan tekanan seperti yang dilakukan Biden—misalnya membatasi ekspor senjata atau memberi sanksi pada pemukim ekstremis—Trump justru mencabut semua pembatasan itu.
Dia bahkan menyebut bahwa Gaza sebaiknya “dibersihkan” dari warga Palestina dan dibangun menjadi kawasan resor—sebuah pernyataan yang disambut gembira oleh kubu sayap kanan Israel.
Sementara Netanyahu mempertimbangkan eskalasi besar di Gaza, yang dapat mencakup penghancuran sebagian besar bangunan dan pemindahan warga ke “zona kemanusiaan", Trump dan para pejabatnya memilih diam.
Axios melaporkan bahwa Trump telah secara efektif memberi Netanyahu lampu hijau untuk bertindak semaunya.
Jika Biden memeluk Israel terlalu erat, Trump mungkin telah memeluknya dari jauh—atau bahkan tak memeluk sama sekali. Aliansi historis AS-Israel tetap hidup dalam retorika, tetapi mulai goyah dalam aksi nyata.
Trump mungkin masih berbicara tentang “komitmen besar terhadap Israel", tetapi di medan diplomasi, dia justru memilih jalur sendiri, sering kali berseberangan dengan sekutunya.
Dalam dunia politik yang bergerak cepat, satu hal yang kini menjadi jelas: dalam masa jabatan keduanya, Trump tampaknya tidak lagi menganggap Israel sebagai pusat orbit kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah—melainkan hanya salah satu dari banyak bintang yang bisa dia dekati atau abaikan.
Tangan Bebas untuk Gaza
Di sisi lain, meskipun Trump telah membekukan Israel dari diplomasi kawasan, dia tidak menahan tangan Netanyahu di Gaza. Alih-alih melakukan tekanan seperti yang dilakukan Biden—misalnya membatasi ekspor senjata atau memberi sanksi pada pemukim ekstremis—Trump justru mencabut semua pembatasan itu.
Dia bahkan menyebut bahwa Gaza sebaiknya “dibersihkan” dari warga Palestina dan dibangun menjadi kawasan resor—sebuah pernyataan yang disambut gembira oleh kubu sayap kanan Israel.
Sementara Netanyahu mempertimbangkan eskalasi besar di Gaza, yang dapat mencakup penghancuran sebagian besar bangunan dan pemindahan warga ke “zona kemanusiaan", Trump dan para pejabatnya memilih diam.
Axios melaporkan bahwa Trump telah secara efektif memberi Netanyahu lampu hijau untuk bertindak semaunya.
Jika Biden memeluk Israel terlalu erat, Trump mungkin telah memeluknya dari jauh—atau bahkan tak memeluk sama sekali. Aliansi historis AS-Israel tetap hidup dalam retorika, tetapi mulai goyah dalam aksi nyata.
Trump mungkin masih berbicara tentang “komitmen besar terhadap Israel", tetapi di medan diplomasi, dia justru memilih jalur sendiri, sering kali berseberangan dengan sekutunya.
Dalam dunia politik yang bergerak cepat, satu hal yang kini menjadi jelas: dalam masa jabatan keduanya, Trump tampaknya tidak lagi menganggap Israel sebagai pusat orbit kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah—melainkan hanya salah satu dari banyak bintang yang bisa dia dekati atau abaikan.
(mas)
Lihat Juga :