Ketakutan Amerika atas Senjata Nuklir Orbital China, Ibarat Bom dari Langit
Jum'at, 16 Mei 2025 - 11:39 WIB
loading...
A
A
A
Kelebihan utama FOBS adalah kemampuannya menipu sistem pertahanan rudal. Tidak seperti ICBM konvensional yang memiliki lintasan balistik dapat diprediksi, FOBS memungkinkan hulu ledak keluar dari orbit kapan saja dan menyerang dari arah mana pun. Dengan begitu, perisai pertahanan seperti NORAD [Komando Pertahanan Dirgantara Amerika Utara] menjadi kurang efektif.
FOBS bukan teknologi baru. Uni Soviet telah mengembangkannya pada 1960-an dengan rudal R-36O, dirancang khusus untuk menghindari radar AS yang fokus pada ancaman dari Kutub Utara. Rudal ini beroperasi dari tahun 1968 hingga 1983 sebelum dihentikan karena terbentur traktat luar angkasa 1967 dan kesepakatan SALT II tahun 1979 yang membatasi penggunaan senjata di orbit.
Namun, China menghidupkan kembali ancaman ini pada tahun 2021 ketika mereka melakukan uji coba rahasia yang mengejutkan dunia. Dalam bulan Juli hingga Agustus tahun itu, Beijing meluncurkan roket Long March 2C yang membawa kendaraan luncur hipersonik (Hypersonic Glide Vehicle atau HGV) ke orbit rendah bumi. Setelah memutari sebagian bumi, kendaraan itu kembali ke atmosfer dan meluncur ke target pada kecepatan hipersonik.
“Kadang saya dengar istilah rudal hipersonik, kadang sub-orbital,” ujar Letnan Jenderal Chance Saltzman, Deputi Kepala Operasi Luar Angkasa AS untuk Urusan Operasi, Siber, dan Nuklir, merujuk pada uji coba China yang membingungkan Pentagon.
Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika saat itu, Jenderal Mark Milley, menyatakan dalam wawancara dengan Bloomberg TV pada Oktober 2021: “Yang kami lihat adalah peristiwa yang sangat signifikan dari uji sistem senjata. Ini sangat mengkhawatirkan. Saya tidak tahu apakah ini benar-benar momen Sputnik, tapi menurut saya sangat dekat. Ini menarik perhatian kami semua.”
DIA dalam laporannya memperkirakan bahwa pada tahun 2035, China bisa memiliki 60 rudal FOBS berkemampuan nuklir, 700 ICBM berhulu ledak nuklir (naik dari 400 unit saat ini), 132 rudal balistik berbasis kapal selam atau SLBM (naik dari 72 unit), dan 4.000 kendaraan luncur hipersonik (HGV), melonjak dari 600 unit saat ini
Sebagai perbandingan, Rusia diprediksi hanya akan memiliki sekitar 12 FOBS, 400 ICBM, dan 1.000 HGV pada tahun yang sama.
Data tersebut juga menyatakan bahwa China kemungkinan besar telah menempatkan rudal konvensional jarak jauh yang mampu menjangkau wilayah Alaska.
Sebagai respons terhadap ancaman ini, Presiden AS Donald Trump meluncurkan inisiatif bernama Golden Dome—sebuah sistem pertahanan rudal berbasis luar angkasa yang digambarkan sebagai perisai nasional terhadap segala jenis serangan rudal, baik dari darat, laut, udara, maupun orbit.
Jejak Soviet dalam Senjata Orbit
FOBS bukan teknologi baru. Uni Soviet telah mengembangkannya pada 1960-an dengan rudal R-36O, dirancang khusus untuk menghindari radar AS yang fokus pada ancaman dari Kutub Utara. Rudal ini beroperasi dari tahun 1968 hingga 1983 sebelum dihentikan karena terbentur traktat luar angkasa 1967 dan kesepakatan SALT II tahun 1979 yang membatasi penggunaan senjata di orbit.
Namun, China menghidupkan kembali ancaman ini pada tahun 2021 ketika mereka melakukan uji coba rahasia yang mengejutkan dunia. Dalam bulan Juli hingga Agustus tahun itu, Beijing meluncurkan roket Long March 2C yang membawa kendaraan luncur hipersonik (Hypersonic Glide Vehicle atau HGV) ke orbit rendah bumi. Setelah memutari sebagian bumi, kendaraan itu kembali ke atmosfer dan meluncur ke target pada kecepatan hipersonik.
“Kadang saya dengar istilah rudal hipersonik, kadang sub-orbital,” ujar Letnan Jenderal Chance Saltzman, Deputi Kepala Operasi Luar Angkasa AS untuk Urusan Operasi, Siber, dan Nuklir, merujuk pada uji coba China yang membingungkan Pentagon.
Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika saat itu, Jenderal Mark Milley, menyatakan dalam wawancara dengan Bloomberg TV pada Oktober 2021: “Yang kami lihat adalah peristiwa yang sangat signifikan dari uji sistem senjata. Ini sangat mengkhawatirkan. Saya tidak tahu apakah ini benar-benar momen Sputnik, tapi menurut saya sangat dekat. Ini menarik perhatian kami semua.”
DIA dalam laporannya memperkirakan bahwa pada tahun 2035, China bisa memiliki 60 rudal FOBS berkemampuan nuklir, 700 ICBM berhulu ledak nuklir (naik dari 400 unit saat ini), 132 rudal balistik berbasis kapal selam atau SLBM (naik dari 72 unit), dan 4.000 kendaraan luncur hipersonik (HGV), melonjak dari 600 unit saat ini
Sebagai perbandingan, Rusia diprediksi hanya akan memiliki sekitar 12 FOBS, 400 ICBM, dan 1.000 HGV pada tahun yang sama.
Data tersebut juga menyatakan bahwa China kemungkinan besar telah menempatkan rudal konvensional jarak jauh yang mampu menjangkau wilayah Alaska.
AS Bakal Andalkan Golden Dome, Perisai Rudal Sangat Mahal
Sebagai respons terhadap ancaman ini, Presiden AS Donald Trump meluncurkan inisiatif bernama Golden Dome—sebuah sistem pertahanan rudal berbasis luar angkasa yang digambarkan sebagai perisai nasional terhadap segala jenis serangan rudal, baik dari darat, laut, udara, maupun orbit.
Lihat Juga :