Ini Respons Huawei atas Tuduhan Suap pada Parlemen Eropa

Rabu, 14 Mei 2025 - 12:24 WIB
loading...
Ini Respons Huawei atas...
Raksasa teknologi China, Huawei, tegaskan memiliki kebijakan nol toleransi terhadap korupsi setelah dituduh terlibat skandal suap pada Parlemen Eropa. Foto/Ilustrasi dari Michael Tsang
A A A
JAKARTA - Raksasa teknologi China, Huawei, telah mengeluarkan pernyataan terkait tuduhan terlibat skandal suap pada Parlemen Eropa. Perusahaan ini menegaskan bahwa pihaknya memiliki kebijakan nol toleransi terhadap korupsi.

"Huawei menanggapi tuduhan ini dengan serius dan akan segera berkomunikasi dengan pihak investigasi untuk lebih memahami situasi. Huawei memiliki kebijakan tanpa toleransi terhadap korupsi atau pelanggaran lainnya, dan kami berkomitmen untuk mematuhi semua hukum dan peraturan yang berlaku setiap saat," bunyi pernyataan yang disampaikan juru bicara perusahaan tersebut, yang dikutip dari Politico.

Sebelumnya, diberitakan bahwa pusat kekuasaan Uni Eropa terguncang oleh skandal korupsi baru yang melibatkan raksasa teknologi China terseut dan Parlemen Eropa.

"Penyidik sedang menyelidiki dugaan korupsi aktif di dalam Parlemen Eropa," kata Kantor Kejaksaan Federal Belgia, yang menambahkan bahwa "dugaan penyuapan tersebut disebutkan telah menguntungkan Huawei."

Baca Juga: Huawei dan Jejak Pengaruh China di Jantung Demokrasi Eropa

Kasus ini mengingatkan pada skandal korupsi Qatargate tahun 2022, yang menyebabkan beberapa anggota legislatif ditangkap dan diselidiki. Kasus ini menghidupkan kembali kekhawatiran lama atas praktik lobi yang curang di Brussels—kali ini dengan perusahaan teknologi China sebagai pusat kasus tersebut.

Saluran berita investigasi Belanda Follow The Money dan publikasi Belgia Le Soir dan Knack adalah yang pertama melaporkan berita tersebut.

Apa Saja Tuduhannya?


Investigasi baru ini berfokus pada Huawei, raksasa teknologi China yang pernah menjadi pusat lobi di Eropa, serta pada Parlemen Eropa.

"Kasus yang sedang diselidiki termasuk remunerasi untuk menduduki jabatan politik, hadiah berlebihan seperti makanan dan biaya perjalanan, serta undangan rutin ke pertandingan sepak bola dengan tujuan untuk mempromosikan kepentingan komersial pribadi dalam konteks keputusan politik," kata pihak Kejaksaan Belgia dalam sebuah pernyataan.

Mereka mengatakan dugaan pelanggaran itu terjadi "secara teratur dan sangat rahasia dari tahun 2021 hingga saat ini."

Polisi menggerebek 21 alamat di Brussels, Flanders, Wallonia, dan Portugal serta menangkap beberapa orang.

Menurut laporan Follow The Money, Le Soir, dan Knack, penyidik sedang menyelidiki aktivitas yang terkait dengan 15 mantan dan anggota Parlemen Eropa saat ini.

Beberapa publikasi tersebut melaporkan seorang pelobi senior dari Huawei di Brussels adalah tersangka utama. Kendati demikian, laporan itu belum bisa diverifikasi secara independen.

Dua orang yang bekerja di gedung kantor lobi utama Huawei untuk Uni Eropa di Brussels mengatakan kepada Politico bahwa mereka melihat petugas polisi masuk pada Maret lalu.

Petugas polisi kemudian meninggalkan kantor Huawei di Brussels sambil membawa empat kotak berisi dokumen dan berbagai materi yang disita.

Apa yang Terjadi di Parlemen?


Kantor kejaksaan mengumumkan pada Maret lalu bahwa mereka telah meminta agar segel ditempelkan di gedung Parlemen Eropa, khususnya di kantor yang dialokasikan untuk dua asisten parlemen yang diduga terlibat.

Satu pintu menuju kantor yang merupakan bagian dari delegasi Italia di Partai Rakyat Eropa (EPP) kemudian ditandai dengan tanda bertuliskan “SCELLES JUDICIAIRES” dan “Dilarang keras membuka pintu ini", dan disegel dengan pita polisi biru dan putih.

Kantor kedua yang disegel, bagian dari delegasi Bulgaria dalam kelompok Renew Europe, adalah milik Adam Mouchtar, pejabat lama dan asisten saat ini untuk anggota Parlemen Eropa yang baru terpilih Nikola Minchev.

Mouchtar juga merupakan salah satu pendiri kelompok bernama EU40 yang presidennya adalah politisi Yunani Eva Kaili—tokoh kunci dalam penyelidikan korupsi Qatargate.

Mouchtar mengonfirmasi kepada Politico bahwa kantornya telah disegel tetapi membantah melakukan kesalahan apa pun. Atasannya, Minchev, mengumumkan bahwa dia telah menskors Mouchtar dari tugasnya.

Kantor lain yang disegel tidak memiliki tanda nama biasa di pintunya. Catatan Parlemen menunjukkan bahwa kantor tersebut adalah milik asisten anggota Parlemen Eropa konservatif Italia yang sudah lama menjabat Fulvio Martusciello dan rekan partainya Marco Falcone. Tidak jelas asisten dan anggota Parlemen mana yang akan terkena dampak investigasi tersebut.

Saat dihubungi, Martusciello mengatakan kantor yang disegel "bukan milik saya" tetapi menolak untuk membuktikan lebih lanjut, termasuk apakah kantor itu milik salah seorang asistennya.

Laporan lain dari MEMRI menyebutkan bahwa setelah adanya tuduhan "korupsi aktif di dalam Parlemen Eropa, Komisi Eropa memutus semua hubungan dengan kelompok lobi yang terafiliasi Huawei.

Menurut laporan tersebut, tuduhan adanya skema “uang demi pengaruh” yang melibatkan Huawei telah membuka selubung kekuasaan negara China. Skandal ini, yang kini sedang diselidiki otoritas Eropa, bukan sekadar kasus suap; ini mencerminkan strategi yang lebih luas dari Beijing untuk menancapkan pengaruhnya ke seluruh dunia, bahkan dengan mengorbankan lembaga-lembaga demokratis.

Inti dari permasalahan ini adalah dugaan skema di mana sebanyak 15 anggota aktif dan mantan anggota Parlemen Eropa dicurigai menerima suap.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
375 Kg Emas Disita Terkait...
375 Kg Emas Disita Terkait Korupsi Wakil Menteri
Siapa Zhang Zhidong?...
Siapa Zhang Zhidong? Warga China yang Dituduh sebagai Raja Fentanyl Meksiko
Persaingan Memanas,...
Persaingan Memanas, China Membangun Replika Kapal Perang AS untuk Latihan Tembak Rudal
Pendiri Telegram: Uni...
Pendiri Telegram: Uni Eropa Berubah Menjadi Republik Pisang
Ditutup-tutupi selama...
Ditutup-tutupi selama 1 Bulan, 2 Pilot China Tewas saat Latihan Perang
Topan Bavi Terjang China,...
Topan Bavi Terjang China, Paksa Hampir 2 Juta Orang Mengungsi
UE Putar Haluan Kembali...
UE Putar Haluan Kembali ke Pelukan Rusia, Rogoh Dana Raksasa Rp123 Triliun demi LNG
Laporan: Mossad Coba...
Laporan: Mossad Coba Rekrut Eks Presiden Ahmadinejad dalam Operasi Pergantian Rezim Iran
Ini Isi Surat Trump...
Ini Isi Surat Trump ke Kongres, Jelaskan Alasan AS Serang Iran Lagi
Rekomendasi
Telkomsat Gandeng UNIVITY...
Telkomsat Gandeng UNIVITY Perkuat Pemantauan Keamanan Nasional
Masayu Anastasia Jadi...
Masayu Anastasia Jadi Dokter Forensik di Film Autopsy: Dead Body Can Talk, Akui Banyak Tantangan
Kapolri Temui Jaksa...
Kapolri Temui Jaksa Agung dan Panglima TNI, Boni Hargens Apresiasi
Berita Terkini
10 Danau Terjernih di...
10 Danau Terjernih di Dunia, Nomor 7 dari Indonesia
Iran Dituding Retas...
Iran Dituding Retas Jaringan Seluler Timur Tengah untuk Lacak Personel AS
Iran Ejek AS Ngotot...
Iran Ejek AS Ngotot Terapkan Tarif di Selat Hormuz: Biaya 20% Trump Terlalu Mahal
AS Lancarkan Lebih Banyak...
AS Lancarkan Lebih Banyak Serangan ke Iran, Trump Kembali Blokade Selat Hormuz
Seiring Perang, Ekspor...
Seiring Perang, Ekspor Minyak Iran Tembus 80 Juta Barel dalam Waktu Kurang dari Sebulan
Eks Presiden Iran Ahmadinejad...
Eks Presiden Iran Ahmadinejad Sangkal Laporan Agen Mossad Ingin Merekrutnya
Infografis
Daftar 23 Kombes Pol...
Daftar 23 Kombes Pol Pecah Bintang pada Mutasi Polri Mei 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved