Huawei dan Jejak Pengaruh China di Jantung Demokrasi Eropa

Minggu, 11 Mei 2025 - 07:41 WIB
loading...
A A A
Kebuntuan ini tidak hanya menunjukkan kegagalan dalam pengawasan regulasi, tetapi juga strategi halus dari Beijing untuk memperoleh pijakan strategis di wilayah yang dulunya sangat menentangnya. Pengaruh Huawei tidak hanya terbatas pada sektor teknologi; ia dengan cepat merambah ke ranah politik dan digital Eropa.

Penyelidikan suap mengungkap bahwa Huawei diduga telah memberikan "hadiah berlebihan" kepada anggota Parlemen sejak tahun 2021. Hadiah-hadiah ini—mulai dari makanan dan biaya perjalanan hingga tiket sepak bola dan konferensi—disusun secara sengaja agar berada di bawah ambang batas pelaporan sebesar 150 euro (sesuai aturan Parlemen, setiap hadiah yang melebihi nilai 150 euro harus dilaporkan).

Taktik ini dinilai curang sekaligus berbahaya. Dengan memanfaatkan celah hukum ini, Huawei secara efektif telah “membeli” pengaruh di koridor kekuasaan Eropa.

Dampak dari skandal ini sangat luas. Strategi Huawei, jika tidak dibendung, mengancam untuk mengikis fondasi lembaga demokrasi Eropa. Ketika wakil rakyat diduga digoda dengan insentif finansial dari kekuatan asing, sangat sulit mempertahankan lingkungan kebijakan yang benar-benar mencerminkan kepentingan rakyat.

Sebaliknya, pengambilan keputusan secara diam-diam dikendalikan oleh aktor eksternal dengan agenda yang sejalan dengan ambisi strategis China.

Ini bukanlah hiperbola. Keterkaitan Huawei dengan Partai Komunis China (CCP) telah terdokumentasi dengan baik. Hubungan perusahaan ini dengan militer dan badan intelijen China, serta keterlibatannya dengan rezim kontroversial seperti Iran, Korea Utara, dan Kuba, menunjukkan bahwa Huawei beroperasi sebagai perpanjangan tangan dari negara dengan prioritas bukan pada akuntabilitas demokratis, tetapi dominasi global. Melalui jaringan ini, Beijing mampu menjalankan strategi dua jalur.

Di satu sisi, mereka menyediakan teknologi mutakhir dan infrastruktur yang sangat dibutuhkan oleh banyak pemerintahan; di sisi lain, mereka memanfaatkan platform tersebut untuk menyusup ke sistem politik dan memperoleh keuntungan strategis.

Struktur Tata Kelola Internasional


Pendekatan China dalam memperluas pengaruhnya secara global juga tak kalah mengkhawatirkan. Inisiatif “soft power” yang disponsori negara Beijing, dibalut dengan narasi multilateralisme dan perdagangan bebas, adalah kedok bagi agenda yang lebih licik. Dengan mengusung prinsip-prinsip perdagangan liberal dan kerja sama multilateral, CCP berhasil menanamkan dirinya dalam struktur tata kelola internasional.

Penipuan ideologis ini tidak hanya meningkatkan citra globalnya tetapi juga membuka jalan bagi bentuk-bentuk infiltrasi politik yang lebih dalam dan tersembunyi—dari tingkat pemerintahan lokal hingga nasional.

Peran Huawei dalam strategi ini menjadi sangat berbahaya jika melihat ambisinya terhadap masa depan digital Eropa. Perusahaan ini secara agresif memposisikan diri sebagai pemain utama dalam sektor kecerdasan buatan dan infrastruktur cloud Eropa —sektor yang diperkirakan akan menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi dan teknologi dalam dekade-dekade mendatang.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ini 15 Negara yang Mampu...
Ini 15 Negara yang Mampu Memproduksi Jet Tempur Sendiri, Indonesia Kapan?
Dari Infrastruktur ke...
Dari Infrastruktur ke AI, China Terus Perkuat Pengaruh di Pakistan
Pertama Kalinya, Taiwan...
Pertama Kalinya, Taiwan Tembakkan Puluhan Rudal HIMARS Amerika ke Arah China
China Luncurkan Alat...
China Luncurkan Alat Pelacak Kapal Selam Nuklir, Bakal Ubah Perang Masa Depan
Biksu Buddha di China...
Biksu Buddha di China Dilaporkan Ditahan usai Peringati Peristiwa Tiananmen
Respons Aksi China,...
Respons Aksi China, Jepang Perkuat Pertahanan Sisi Barat Daya
Pesona China yang Berbeda:...
Pesona China yang Berbeda: Eksplor Keunikan Infrastruktur Chongqing dan Alam Zhangjiajie
Dilema Sistem Petisi...
Dilema Sistem Petisi China: Antara Stabilitas Nasional dan Suara Warga
Putri Bajrakitiyabha...
Putri Bajrakitiyabha Meninggal Dunia, Thailand Umumkan Masa Berkabung Nasional
Rekomendasi
Rupiah Bergejolak, Saatnya...
Rupiah Bergejolak, Saatnya Lirik Aset Global?
Makin Mudah Berinvestasi,...
Makin Mudah Berinvestasi, Pegadaian dan KSEI Gandeng Tangan Kembangkan ETF Emas
Mahasiswa Aliansi UNJ...
Mahasiswa Aliansi UNJ Melawan Turun ke Jalan, Ini Tuntutannya
Berita Terkini
Netanyahu dan Trump...
Netanyahu dan Trump Bahas Nota Kesepahaman Mendatang dengan Iran
Iran Tegaskan Belum...
Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Akhir dengan AS
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
Inggris, Australia,...
Inggris, Australia, dan Kanada Luncurkan Dana untuk Dukung Upaya Solusi 2 Negara
Israel Jadi Negara yang...
Israel Jadi Negara yang Paling Banyak Diboikot di Dunia
Ayatollah Khamenei Sudah...
Ayatollah Khamenei Sudah Lebih dari 100 Hari Meninggal, Iran Tunda Lagi Penguburannya
Infografis
10 Universitas Paling...
10 Universitas Paling Diminati di SNBT 2026, UI Paling Favorit
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved