AS Pangkas Jumlah Jenderal Bintang 4 hingga 20 Persen, Ada Apa?

Selasa, 06 Mei 2025 - 11:49 WIB
loading...
AS Pangkas Jumlah Jenderal...
Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth memerintahkan pengurangan 20 persen dalam jumlah jenderal dan laksamana bintang empat yang bertugas aktif di militer Amerika. Foto/Paul Ratje/The New York Times
A A A
WASHINGTON - Bos Pentagon atau Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth memerintahkan pengurangan 20 persen dalam jumlah jenderal dan laksamana bintang empat yang bertugas aktif di militer Amerika.

Langkah tersebut, yang terungkap dalam memo Hegseth, merupakan perombakan besar terbaru di Pentagon di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, yang telah memecat serangkaian perwira senior tahun ini.

Memo tersebut juga menyerukan pengurangan tambahan sebesar 10 persen dalam jumlah perwira jenderal dan perwira tinggi, dan pemotongan sebesar 20 persen dalam jumlah perwira jenderal di Garda Nasional.

Baca Juga: Sentil China, Jenderal AS Nyatakan Siap Melawan Agresi Asia

Namun memo itu tidak menyebutkan secara rinci bagaimana pengurangan tersebut akan dilakukan.

Ada 38 perwira bintang empat—pangkat tertinggi yang biasanya dapat dicapai di militer AS—dan total 817 jenderal dan laksamana di pasukan tugas aktif per Maret 2025.

"Pengurangan ini ditujukan untuk menghapus struktur pasukan yang berlebihan untuk mengoptimalkan dan merampingkan kepemimpinan dengan mengurangi posisi jenderal dan perwira tinggi yang berlebih," bunyi memo tersebut, seperti dikutip dari AFP, Selasa (6/5/2025).

Hegseth kemudian mengunggah sebuah video di X tentang perubahan tersebut, yang dia sebut "lebih sedikit jenderal, lebih banyak prajurit."

Di dalam videonya, dia mengatakan bahwa meskipun ukuran militer secara keseluruhan jauh lebih besar selama Perang Dunia II, jumlah perwira tinggi pada saat itu lebih sedikit.

Hegseth mengatakan pemangkasan akan dilakukan dalam dua tahap, dimulai dengan pemangkasan untuk perwira bintang empat dan jenderal Garda Nasional, dan diikuti pemangkasan 10 persen untuk jumlah jenderal dan laksamana secara keseluruhan.

"Ini bukan latihan tebang-bakar yang dimaksudkan untuk menghukum perwira tinggi," katanya.

"Ini merupakan proses pertimbangan dengan bekerja sama dengan Kepala Staf Gabungan dengan satu tujuan, memaksimalkan kesiapan strategis dan efektivitas operasional," ujarnya.

Selama sidang konfirmasinya pada bulan Januari, Hegseth berpendapat bahwa birokrasi Pentagon terlalu banyak dan perlu dipangkas, dengan mengatakan kepada anggota Parlemen: "Ini akan menjadi tugas saya, bekerja dengan mereka yang kami rekrut dan mereka yang ada di dalam pemerintahan, untuk mengidentifikasi tempat-tempat di mana lemak dapat dipangkas, sehingga dapat digunakan untuk tujuan yang mematikan."

Sejak memulai masa jabatan keduanya pada bulan Januari, Trump telah mengawasi pembersihan perwira tinggi, termasuk Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Charles "CQ" Brown, yang dipecatnya tanpa penjelasan pada bulan Februari.

Perwira senior lainnya yang diberhentikan tahun ini termasuk kepala Angkatan Laut dan Penjaga Pantai, jenderal yang mengepalai Badan Keamanan Nasional, wakil kepala staf Angkatan Udara, seorang laksamana Angkatan Laut yang ditugaskan untuk NATO, dan tiga pengacara militer terkemuka.

Hegseth bersikeras bahwa Presiden Trump hanya memilih pemimpin yang diinginkannya, tetapi anggota Parlemen Demokrat telah menyuarakan kekhawatiran tentang potensi politisasi militer AS yang secara tradisional netral.

Pentagon juga mengumumkan pada bulan Februari bahwa mereka bermaksud untuk mengurangi jumlah pegawai sipilnya setidaknya lima persen, karena pemerintahan Trump bergerak untuk memangkas tenaga kerja federal atas nama penghematan biaya.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ini Keunggulan Pesawat...
Ini Keunggulan Pesawat Pengebom B-52 vs Tu-22M3 yang Jatuh pada Hari yang Sama
Pasokan Senjata Rapuh,...
Pasokan Senjata Rapuh, Presiden Trump Dorong Produksi Massal
2 Pesawat Pengebom Nuklir...
2 Pesawat Pengebom Nuklir dari 2 Negara Adikuasa yang Bermusuhan Jatuh di Hari yang Sama
Iran Kecam Perlakuan...
Iran Kecam Perlakuan Buruk AS di Piala Dunia: Tim yang Paling Ditindas
Iran dan Oman Tegaskan...
Iran dan Oman Tegaskan Komitmen Navigasi Maritim Aman melalui Selat Hormuz setelah Kesepakatan dengan AS
Trump Ungkap Selat Hormuz...
Trump Ungkap Selat Hormuz akan Dibuka Kembali Sepenuhnya pada Hari Jumat Secara Permanen
Trump T1 Phone Ternyata...
Trump T1 Phone Ternyata HTC U24 Pro Buatan China: Ini Bukti Teardown-nya
Iran-AS Capai Kesepakatan...
Iran-AS Capai Kesepakatan Damai, Israel Tolak Tarik Pasukan dari Lebanon
Acuhkan Trump, Israel...
Acuhkan Trump, Israel Tolak Tinggalkan Lebanon meski AS-Iran Berdamai
Rekomendasi
BMKG Catat 612 Gempa...
BMKG Catat 612 Gempa Susulan Guncang Sulteng usai Gempa Besar M6,7
Mahkamah Konstitusi...
Mahkamah Konstitusi Beri Waktu 2 Tahun untuk Revisi UU Advokat
Ancam Ritel dan Perbankan,...
Ancam Ritel dan Perbankan, Penipuan 'Gift Card' Digital Kian Sulit Terdeteksi
Berita Terkini
Ini Keunggulan Pesawat...
Ini Keunggulan Pesawat Pengebom B-52 vs Tu-22M3 yang Jatuh pada Hari yang Sama
IRGC Seharusnya Jadi...
IRGC Seharusnya Jadi Teladan bagi Negara Muslim di Seluruh Dunia
G7 Kini Fokus Memusuhi...
G7 Kini Fokus Memusuhi Rusia, Trump: Ini Perang yang Mudah Diselesaikan
Pasokan Senjata Rapuh,...
Pasokan Senjata Rapuh, Presiden Trump Dorong Produksi Massal
Fregat Rusia Tembaki...
Fregat Rusia Tembaki Kapal Pesiar Inggris, Starmer: Tindakan Sembrono
2 Pesawat Pengebom Nuklir...
2 Pesawat Pengebom Nuklir dari 2 Negara Adikuasa yang Bermusuhan Jatuh di Hari yang Sama
Infografis
4 Perempuan Muslim Terkaya...
4 Perempuan Muslim Terkaya di Dunia, Ada yang Hingga Triliunan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved