Ini Tuntutan Masa Demonstran Amerika, Banyak Kebijakan Partai Republik Diprotes

Selasa, 08 April 2025 - 13:27 WIB
loading...
Ini Tuntutan Masa Demonstran...
Demonstrasi besar pecah di AS belum lama ini, menentang Presiden Donald Trump dan penasehatnya, miliarder Elon Musk. Foto/Jovanny Hernandez/Milwaukee Journal Sentinel
A A A
JAKARTA - Demonstrasi besar-besaran baru saja mengguncang Amerika Serikat, yang dipicu oleh ketidakpuasan terhadap kebijakan Presiden Donald Trump dan penasihatnya yang kontroversial, Elon Musk.

Ribuan orang turun ke jalan menyuarakan keresahan mereka terhadap berbagai kebijakan yang dianggap otoriter dan merugikan rakyat.

Menurut laporan Al Jazeera, aksi protes bertajuk "Hands Off" ini tersebar di berbagai wilayah AS. Lebih dari 1.200 titik unjuk rasa digelar secara serentak, menjadikannya sebagai salah satu mobilisasi publik terbesar dalam satu hari dalam sejarah pemerintahan Trump.

Baca Juga: Beredar Video Pesawat Pengebom Rusia Dicegat Jet Tempur Siluman F-35 di Lepas Pantai AS

Lokasi-lokasi utama unjuk rasa meliputi National Mall di Washington, D.C., serta berbagai kota di 50 negara bagian. Penyelenggara memperkirakan lebih dari 250.000 orang ambil bagian dalam aksi solidaritas nasional ini.

Gerakan ini menjadi salah satu demonstrasi paling signifikan selama masa kepresidenan Donald Trump. Masyarakat merasa semakin terdesak oleh kebijakan pemerintah yang dinilai tidak mewakili kepentingan umum.

Salah satu tuntutan utama para demonstran adalah penolakan terhadap pemikiran yang mereka anggap mengarah pada fasisme. Trump dan Musk disebut telah menciptakan krisis sosial melalui dominasi kekuasaan dan kebijakan yang hanya menguntungkan segelintir elite.

Pernyataan dari pihak penyelenggara menyebut bahwa kepemimpinan saat ini memanfaatkan sumber daya negara demi keuntungan pribadi—baik itu data publik, layanan kesehatan, maupun pekerjaan rakyat. Situasi ini dipandang sebagai kondisi darurat yang menuntut respons segera.

Di antara peserta aksi di Washington, terdapat warga bernama Ramesh Boodram dari New York. Dia mengaku dulunya adalah pendukung Trump, namun kini merasa dikhianati karena banyak janji kampanye yang tidak ditepati.

Boodram menyoroti kondisi ekonomi yang tak kunjung membaik, termasuk harga bahan pokok dan bahan bakar yang terus naik. Dia juga prihatin dengan masa depan program Jaminan Sosial yang kini berada dalam ketidakpastian.

Program Jaminan Sosial di AS diketahui mengalami reorganisasi besar-besaran, termasuk pemangkasan anggaran dan pemutusan hubungan kerja terhadap ribuan pegawai. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat yang mengandalkan layanan tersebut.

Para pengunjuk rasa juga menyuarakan penolakan terhadap kebijakan keras di perbatasan dan tindakan-tindakan represif pemerintah. Banyak yang menilai bahwa pendekatan Trump terhadap imigran sangat tidak manusiawi dan diskriminatif.

Aksi pemecatan massal di instansi pemerintah juga mendapat sorotan. Demonstran mengkritik penutupan kantor-kantor layanan publik yang berdampak langsung pada masyarakat bawah dan kelompok rentan.

Selain itu, pemerintah dianggap telah memangkas anggaran untuk perlindungan kelompok minoritas, termasuk komunitas transgender dan program kesehatan masyarakat yang esensial.

Dengan berbagai tuntutan ini, gelombang protes mencerminkan keresahan mendalam terhadap arah kebijakan negara. Banyak warga merasa bahwa demokrasi AS sedang diuji oleh praktik kekuasaan yang tidak transparan dan eksklusif.

Aksi demonstrasi ini menjadi simbol perlawanan sipil terhadap pemerintahan yang dianggap semakin menjauh dari nilai-nilai demokrasi dan keadilan sosial. Masyarakat menyerukan perubahan dan menuntut agar suara publik kembali didengar.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Wanita Ini Dihujat karena...
Wanita Ini Dihujat karena Sebut Islam Organisasi Teroris, Sekarang Malah Dapat Donasi Rp2,5 Miliar
Trump Ancam Tak Tolong...
Trump Ancam Tak Tolong Negara-negara NATO karena Tolak Bantu AS Melawan Iran
Tuduh AS Biang Kisruh,...
Tuduh AS Biang Kisruh, Kim Jong-un: Korut Akan Jalankan Posisinya sebagai Negara Nuklir
Iran Dapat Rp5.360 Triliun...
Iran Dapat Rp5.360 Triliun Jadi Inti Kesepakatan dengan AS, tapi Siapa yang Bayar?
Menhan Negara NATO Salahkan...
Menhan Negara NATO Salahkan Trump atas Penutupan Selat Hormuz
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Timnas Iran Tinggalkan...
Timnas Iran Tinggalkan Surat Tulisan Tangan di Ruang Ganti Piala Dunia 2026
Pembom B-52 Stratofortress...
Pembom B-52 Stratofortress AS Jatuh di Pangkalan Gurun Mojave, Tewaskan 8 Orang
Momen PM Inggris Keir...
Momen PM Inggris Keir Starmer Tak Kuasa Menahan Tangis saat Umumkan Mundur
Rekomendasi
Evan Marvino Bantah...
Evan Marvino Bantah Tudingan KDRT Terhadap Istri: Tidak Ada Pemukulan
Roy Suryo dan Dokter...
Roy Suryo dan Dokter Tifa Dikabulkan Penangguhan Penahannya, Kubu Jokowi Buka Suara
KTM 790 Duke 2027 Diperkenalkan...
KTM 790 Duke 2027 Diperkenalkan Kini Lebih Agresif
Berita Terkini
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Iran Klaim 3 Poin Kemenangan...
Iran Klaim 3 Poin Kemenangan dalam Negosiasi dengan AS, Termasuk Aset Senilai Rp214 Triliun
Dosen Ini Donorkan Organnya...
Dosen Ini Donorkan Organnya untuk Selamatkan 5 Orang, Staf RS Berbaris Beri Penghormatan Terakhir
Siapa Andy Burnham?...
Siapa Andy Burnham? Kandidat Kuat PM Inggris yang Suka Bermain Bola
China Tuduh Militer...
China Tuduh Militer Jepang Mengganggu Latihan Tempur Kapal Induk Liaoning
Gelombang Panas Sengat...
Gelombang Panas Sengat Eropa, 18 Orang Tewas di Prancis
Infografis
Daftar Juara Liga Indonesia...
Daftar Juara Liga Indonesia dari Masa ke Masa: Persib Ukir Sejarah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved