Iran Cemas Gara-gara Medianya Serukan Pembunuhan Donald Trump
Selasa, 08 April 2025 - 12:15 WIB
loading...
A
A
A
Tak cukup sehari, editorial tersebut diulang dan bahkan dipertajam pada hari berikutnya, di mana surat kabar Kayhan menuduh para pengkritiknya di dalam negeri sebagai pengecut dan menyerah pada tekanan AS.
"Sebelum satu tembakan pun dilepaskan, para pelayan lokal Amerika sudah mulai gemetar dan menyerang Kayhan," tulis surat kabar tersebut dalam edisi Minggu.
Outlet tersebut memicu reaksi keras langsung di dalam negeri Iran, termasuk dari politisi reformis, jurnalis, dan bahkan unsur-unsur pemerintah.
Banyak yang khawatir bahwa editorial tersebut dapat memberi Trump dan sekutunya senjata propaganda—dan dalih untuk eskalasi militer terhadap Iran.
"Bahasa yang sembrono ini seperti memberi Trump izin untuk bertindak melawan Iran," tulis seorang komentator reformis di harian Shargh. "Itu bukan perlawanan—itu sabotase diri."
Juru bicara pemerintah Iran Fatemeh Mohajerani mengecam editorial tersebut, dengan menyatakan, "Retorika seperti itu tidak hanya bertentangan dengan prinsip-prinsip Republik Islam tetapi juga memberikan pembenaran kepada musuh di atas piring perak."
Dia menekankan bahwa posisi Iran dalam kasus Soleimani harus difokuskan pada proses hukum internasional, bukan keadilan main hakim sendiri.
"Kami mendukung keadilan melalui cara-cara internasional yang sah, bukan ancaman yang merusak kredibilitas kami," imbuh Mohajerani dalam sebuah posting di media sosial, yang dikutip The New Arab, Selasa (8/4/2025).
"Sebelum satu tembakan pun dilepaskan, para pelayan lokal Amerika sudah mulai gemetar dan menyerang Kayhan," tulis surat kabar tersebut dalam edisi Minggu.
Outlet tersebut memicu reaksi keras langsung di dalam negeri Iran, termasuk dari politisi reformis, jurnalis, dan bahkan unsur-unsur pemerintah.
Banyak yang khawatir bahwa editorial tersebut dapat memberi Trump dan sekutunya senjata propaganda—dan dalih untuk eskalasi militer terhadap Iran.
"Bahasa yang sembrono ini seperti memberi Trump izin untuk bertindak melawan Iran," tulis seorang komentator reformis di harian Shargh. "Itu bukan perlawanan—itu sabotase diri."
Juru bicara pemerintah Iran Fatemeh Mohajerani mengecam editorial tersebut, dengan menyatakan, "Retorika seperti itu tidak hanya bertentangan dengan prinsip-prinsip Republik Islam tetapi juga memberikan pembenaran kepada musuh di atas piring perak."
Dia menekankan bahwa posisi Iran dalam kasus Soleimani harus difokuskan pada proses hukum internasional, bukan keadilan main hakim sendiri.
"Kami mendukung keadilan melalui cara-cara internasional yang sah, bukan ancaman yang merusak kredibilitas kami," imbuh Mohajerani dalam sebuah posting di media sosial, yang dikutip The New Arab, Selasa (8/4/2025).
Lihat Juga :