Pembantaian Zionis Israel di Palestina Kian Brutal, Mengapa Dunia Diam?
Senin, 07 April 2025 - 12:45 WIB
loading...
Pembantaian Zionis Israel di Palestina semakin brutal, tapi dunia internasional tetap diam. Foto/Euromed Monitor
A
A
A
GAZA - Pembantaian Zionis Israel terhadap rakyat Palestina terhenti sesaat di Jalur Gaza ketika kesepakatan tahap pertama gencatan senjata tercapai dengan Hamas dua bulan lalu.
Namun warga Palestina terbangun pada Senin (17/3/2025) malam oleh gelombang serangan udara Israel yang ganas, dan berarti dimulainya kembali pembantaian tersebut, bahkan lebih brutal.
Lebih dari 400 orang—banyak dari mereka anak-anak—dibantai dalam hitungan jam, dalam serangan yang dilaporkan mendapat "lampu hijau" dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Kejahatan yang disaksikan komunitas dunia internasional ini ini segera diikuti oleh perintah evakuasi—yaitu, pemindahan paksa—yang meningkatkan kemungkinan operasi darat baru.
Baca Juga: Negara-negara Arab Dikecam karena Tak Berani Melawan Israel dalam Pembersihan Etnis Palestina di Tepi Barat
Alasan Israel? Klaim palsu bahwa Hamas belum mematuhi ketentuan perjanjian gencatan senjata yang disepakai pada bulan Januari—ketentuan yang telah dilanggar berulang kali oleh Israel sendiri.
Setelah kejahatan brutal terbaru tersebut, CNN melaporkan bahwa serangan Israel menimbulkan "keraguan terhadap gencatan senjata yang rapuh".
Owen Jones, seorang kolumnis Guardian, mengkritisi situasi yang terjadi, yang menurutnya tidak ada apa yang disebut "gencatan senjata".
Sudah 150 warga Palestina tewas di Gaza selama "gencatan senjata" tersebut, dan puluhan lainnya dibantai di Tepi Barat.
Menurutnya, banyak contoh bagaimana kekerasan Israel terus-menerus dibiarkan dan kehidupan warga Palestina dilucuti dari makna apa pun.
"Jika hanya satu tentara Israel yang terbunuh oleh militan Hamas, saya perkirakan banyak politisi dan media akan segera mengumumkan gencatan senjata berakhir. Narasi yang sama inilah yang membuat kita percaya bahwa perdamaian telah tercapai sebelum 7 Oktober, bahkan ketika 238 warga Palestina—44 di antaranya anak-anak—telah tewas dalam sembilan bulan sebelumnya," tulis Jones.
Generasi mendatang mungkin bertanya: "Bagaimana kejahatan yang tidak senonoh itu bisa berlangsung begitu lama?"
Lagi pula, berkat ponsel dan internet, tidak ada kejahatan dalam sejarah yang didokumentasikan dengan baik oleh para korbannya seperti yang terjadi. Seperti yang telah Israel lakukan selama 529 hari, para penyintas Gaza mengunggah bukti pemusnahan mereka sendiri di media sosial, berharap—meski sia-sia—bahwa cukup banyak hati nurani yang akan tertusuk untuk mengakhiri genosida oleh Zionis Israel.
Namun warga Palestina terbangun pada Senin (17/3/2025) malam oleh gelombang serangan udara Israel yang ganas, dan berarti dimulainya kembali pembantaian tersebut, bahkan lebih brutal.
Lebih dari 400 orang—banyak dari mereka anak-anak—dibantai dalam hitungan jam, dalam serangan yang dilaporkan mendapat "lampu hijau" dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Kejahatan yang disaksikan komunitas dunia internasional ini ini segera diikuti oleh perintah evakuasi—yaitu, pemindahan paksa—yang meningkatkan kemungkinan operasi darat baru.
Baca Juga: Negara-negara Arab Dikecam karena Tak Berani Melawan Israel dalam Pembersihan Etnis Palestina di Tepi Barat
Alasan Israel? Klaim palsu bahwa Hamas belum mematuhi ketentuan perjanjian gencatan senjata yang disepakai pada bulan Januari—ketentuan yang telah dilanggar berulang kali oleh Israel sendiri.
Setelah kejahatan brutal terbaru tersebut, CNN melaporkan bahwa serangan Israel menimbulkan "keraguan terhadap gencatan senjata yang rapuh".
Owen Jones, seorang kolumnis Guardian, mengkritisi situasi yang terjadi, yang menurutnya tidak ada apa yang disebut "gencatan senjata".
Sudah 150 warga Palestina tewas di Gaza selama "gencatan senjata" tersebut, dan puluhan lainnya dibantai di Tepi Barat.
Menurutnya, banyak contoh bagaimana kekerasan Israel terus-menerus dibiarkan dan kehidupan warga Palestina dilucuti dari makna apa pun.
"Jika hanya satu tentara Israel yang terbunuh oleh militan Hamas, saya perkirakan banyak politisi dan media akan segera mengumumkan gencatan senjata berakhir. Narasi yang sama inilah yang membuat kita percaya bahwa perdamaian telah tercapai sebelum 7 Oktober, bahkan ketika 238 warga Palestina—44 di antaranya anak-anak—telah tewas dalam sembilan bulan sebelumnya," tulis Jones.
Generasi mendatang mungkin bertanya: "Bagaimana kejahatan yang tidak senonoh itu bisa berlangsung begitu lama?"
Lagi pula, berkat ponsel dan internet, tidak ada kejahatan dalam sejarah yang didokumentasikan dengan baik oleh para korbannya seperti yang terjadi. Seperti yang telah Israel lakukan selama 529 hari, para penyintas Gaza mengunggah bukti pemusnahan mereka sendiri di media sosial, berharap—meski sia-sia—bahwa cukup banyak hati nurani yang akan tertusuk untuk mengakhiri genosida oleh Zionis Israel.
Lihat Juga :