Abu Ubaidah: Tawanan dalam Bahaya jika Israel Menolak Negosiasi

Sabtu, 05 April 2025 - 06:50 WIB
loading...
Abu Ubaidah: Tawanan...
Juru bicara militer Brigade Al-Qassam, sayap bersenjata Hamas, Abu Ubaidah. Foto/X
A A A
GAZA - Juru bicara militer Brigade Al-Qassam, sayap bersenjata Hamas, Abu Ubaidah, mengatakan setengah dari tawanan musuh yang masih hidup saat ini berada di daerah yang baru-baru ini diperintahkan untuk dievakuasi oleh tentara Israel.

Dia menambahkan, “Kami telah memutuskan tidak memindahkan tawanan ini dari daerah tersebut, menjaga mereka di bawah tindakan pengamanan ketat, meskipun hal ini menimbulkan risiko yang signifikan terhadap nyawa mereka.”

Dia memperingatkan jika pemerintah Israel “benar-benar khawatir tentang nyawa tawanannya, mereka harus segera menegosiasikan evakuasi atau pembebasan mereka. Kami telah memberikan peringatan yang adil.”

Abu Ubaidah juga menganggap pemerintah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bertanggung jawab atas nasib tawanan tersebut, dengan mengatakan jika mereka benar-benar peduli terhadap mereka, “Mereka akan menghormati perjanjian yang telah ditandatangani. Sebagian besar tawanan seharusnya sudah pulang sekarang.”

Pernyataannya muncul di tengah laporan harian Israel Haaretz, yang mengutip seorang pejabat senior Israel, yang menyatakan 21 tawanan Israel di Gaza masih hidup, sementara 36 orang telah dipastikan tewas dari total 59 orang.

"Pejabat Israel mengatakan 36 sandera tewas, meskipun sejauh ini baru 35 orang yang dipastikan tewas," ungkap laporan surat kabar itu, seraya menambahkan nasib dua orang lainnya masih belum diketahui.

Perkiraan Israel menunjukkan 24 dari 59 tawanan yang ditahan di Gaza masih hidup.

Sementara itu, lebih dari 9.500 warga Palestina saat ini dipenjara di penjara-penjara Israel, menurut kelompok-kelompok hak asasi manusia dan laporan media.

Gencatan senjata sementara dan kesepakatan pertukaran tahanan telah berakhir pada awal Maret setelah berlangsung selama 42 hari.

Namun, pada 18 Maret, Israel menarik diri dari negosiasi untuk tahap kedua perjanjian tersebut dan melanjutkan kampanye militernya di Gaza.

Genosida oleh Israel yang kembali terjadi pada 18 Maret telah mengakhiri gencatan senjata yang dimulai pada 19 Januari.

Aksi militer terbaru tersebut telah menewaskan ribuan warga Palestina dan melukai banyak lainnya, terutama warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak.

Meskipun pelanggaran tersebut telah dikutuk banyak negara dan kelompok hak asasi manusia, AS tetap mendukung Israel, dengan menegaskan operasi militer tersebut dilakukan dengan sepengetahuan dan persetujuan sebelumnya dari Washington.

Sejak Oktober 2023, Israel telah membunuh lebih dari 50.000 warga Palestina, sebagian besar wanita dan anak-anak, dan meninggalkan Gaza dalam kondisi hancur.

Pada November 2024, Pengadilan Kriminal Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant, menuduh mereka melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional atas tindakannya di daerah kantong tersebut.

Baca juga: Israel: Perang Bisa Berhenti Besok jika Hamas Bebaskan Sandera dan Tinggalkan Gaza
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Para Pemimpin Yahudi...
Para Pemimpin Yahudi Ultra-Ortodoks Sebut Tentara Guru Dosa-dosa Terberat dan Israel Najis
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Pasukan Keamanan Gaza...
Pasukan Keamanan Gaza Gagalkan Penyelundupan Narkoba Besar-besaran oleh Geng Antek Israel
Menteri Israel Usulkan...
Menteri Israel Usulkan Rencana Relokasi Gaza yang Libatkan Mossad
Israel Akui Genosida...
Israel Akui Genosida Armenia, Dikecam karena Juga Lakukan Genosida Gaza
India Tuntut Pertanggungjawaban...
India Tuntut Pertanggungjawaban atas Para Pelaku Pemboman Sekolah
Dewan Pers Minta Pemerintah...
Dewan Pers Minta Pemerintah Tempuh Jalur Diplomatik Bebaskan Jurnalis yang Ditangkap Israel
Gagal 3 Kali, Keiko...
Gagal 3 Kali, Keiko Fujimori Akhirnya Menang Pilpres Peru
Serangan Pembalasan...
Serangan Pembalasan Iran ke Pangkalan Militer AS Makan Korban, 1 Warga Qatar Tewas
Rekomendasi
Jokowi Hadiri HUT Ke-80...
Jokowi Hadiri HUT Ke-80 Bhayangkara di Cikeas
Mencicipi Lima Abad...
Mencicipi Lima Abad Jakarta dari Meja Makan, Warisan Kuliner Peranakan di Kota Tua
Kontroversi Piala Dunia...
Kontroversi Piala Dunia 2026: Iran Kecam Pejabat AS yang Ejek Kegagalan Team Melli
Berita Terkini
2 Negara Muslim Ini...
2 Negara Muslim Ini Saling Serang, Ini 7 Alasan Konflik Itu Tak Mudah Diselesaikan
Rusia Sedang Dibakar...
Rusia Sedang Dibakar Ukraina, Putin Tidak Akan Gentar
Bagaimana Iran Menggunakan...
Bagaimana Iran Menggunakan Strategi Ubur-ubur untuk Menjatuhkan Jet Tempur AS?
Para Pemimpin Yahudi...
Para Pemimpin Yahudi Ultra-Ortodoks Sebut Tentara Guru Dosa-dosa Terberat dan Israel Najis
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Raja Charles Kehilangan...
Raja Charles Kehilangan Gelar Bersejarah Pembela Iman
Infografis
Daftar 10 Pemain Tersubur...
Daftar 10 Pemain Tersubur dalam Sejarah Piala Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved