Hilal Mustahil Terlihat pada Sabtu, Arab Saudi Masih Tetapkan Idul Fitri Hari Minggu?
Kamis, 27 Maret 2025 - 13:53 WIB
loading...
A
A
A
Tidak ada gambar resmi yang diberikan, meskipun astronom Arab Saudi Mulham al-Hindi mengunggah gambar garis bulan yang paling samar yang dia klaim diambil menggunakan kamera inframerah charge-coupled device (CCD).
Tahun lalu, pada tahun 2024, Arab Saudi mengumumkan pada 6 Juni bahwa Idul Adha akan dimulai dalam sepuluh hari setelah bulan sabit baru untuk bulan Dzulhijjah terlihat. Padahal badan-badan astronomi bersikeras bahwa tidak mungkin bulan terlihat.
Tahun ini, Qatar Calendar House telah meramalkan bahwa bulan akan mencapai konjungsi dengan matahari pada Sabtu, 29 Maret.
Namun, bulan tidak akan terlihat di Arab Saudi atau di Inggris pada hari itu, bahkan dengan menggunakan alat bantu optik, menurut His Majesty’s Nautical Almanac Office di Inggris.
Badan pemerintah tersebut, yang menghasilkan data astronomi, telah mengatakan bahwa bulan sabit akan "mudah terlihat" keesokan harinya, pada hari Minggu.
Pusat Astronomi Internasional (IAC) yang berbasis di Uni Emirat Arab (UEA) juga telah menjelaskan bahwa di Timur Tengah tidak mungkin untuk melihat bulan sabit pada hari Sabtu, bahkan dengan teknologi baru.
"Untuk negara-negara yang mengharuskan penampakan bulan sabit yang benar, Ramadan diperkirakan akan berlangsung selama 30 hari dan Idul Fitri diperkirakan akan jatuh pada hari Senin, 31 Maret," kata IAC dalam laporan terbarunya.
Namun, IAC menunjukkan bahwa karena bulan akan mencapai konjungsi dengan matahari pada hari Sabtu, “bukan tidak mungkin beberapa negara akan menetapkan Idul Fitri pada hari Minggu, 30 Maret.”
Arab Saudi menggunakan kalender yang disebut Umm al-Qura, yang didasarkan pada perhitungan dan menandai tanggal-tanggal penting beberapa tahun sebelumnya.
Menurut kalender Umm al-Qura, hari pertama bulan Syawal atau Idul Fitri akan jatuh pada hari Minggu, 30 Maret.
Inilah sebabnya mengapa banyak ahli memperkirakan bahwa otoritas Arab Saudi akan menetapkan Idul Fitri pada hari Minggu, terlepas dari visibilitas bulan sabit pada hari Sabtu.
Imad Ahmed adalah pendiri dan direktur New Crescent Society, sebuah perkumpulan astronomi yang mengkhususkan diri dalam kalender Islam di Inggris.
Ahmed, yang sedang menempuh pendidikan doktoral di Universitas Cambridge tentang kalender Islam, menjalankan program astronomi dengan Royal Observatory di Greenwich. "Kami telah memperhatikan bahwa Saudi sangat ingin membuat penampakan bulan yang secara ilmiah tidak mungkin," kata Ahmed kepada Middle East Eye.
"Mereka melakukannya secara teratur, dan kami dapat memprediksinya karena sebagian besar sesuai dengan kalender Umm al-Qura, yang tidak sesuai dengan visibilitas bulan,” ujarnya.
"Dua atau tiga orang yang melihat bulan di lokasi tertentu di Saudi mengeklaim melihat bulan setiap tahun. Tidak ada orang lain yang mengeklaim demikian,” paparnya.
Arab Saudi bukan satu-satunya negara yang menggunakan kalender berdasarkan perhitungan—Turki juga melakukannya.
"Kalender Turki telah dihitung sebelumnya dan rumus mereka kurang lebih sama dengan Arab Saudi," jelas Ahmed.
Tahun lalu, pada tahun 2024, Arab Saudi mengumumkan pada 6 Juni bahwa Idul Adha akan dimulai dalam sepuluh hari setelah bulan sabit baru untuk bulan Dzulhijjah terlihat. Padahal badan-badan astronomi bersikeras bahwa tidak mungkin bulan terlihat.
Tidak Mungkin Melihat Hilal pada 29 Maret
Tahun ini, Qatar Calendar House telah meramalkan bahwa bulan akan mencapai konjungsi dengan matahari pada Sabtu, 29 Maret.
Namun, bulan tidak akan terlihat di Arab Saudi atau di Inggris pada hari itu, bahkan dengan menggunakan alat bantu optik, menurut His Majesty’s Nautical Almanac Office di Inggris.
Badan pemerintah tersebut, yang menghasilkan data astronomi, telah mengatakan bahwa bulan sabit akan "mudah terlihat" keesokan harinya, pada hari Minggu.
Pusat Astronomi Internasional (IAC) yang berbasis di Uni Emirat Arab (UEA) juga telah menjelaskan bahwa di Timur Tengah tidak mungkin untuk melihat bulan sabit pada hari Sabtu, bahkan dengan teknologi baru.
"Untuk negara-negara yang mengharuskan penampakan bulan sabit yang benar, Ramadan diperkirakan akan berlangsung selama 30 hari dan Idul Fitri diperkirakan akan jatuh pada hari Senin, 31 Maret," kata IAC dalam laporan terbarunya.
Namun, IAC menunjukkan bahwa karena bulan akan mencapai konjungsi dengan matahari pada hari Sabtu, “bukan tidak mungkin beberapa negara akan menetapkan Idul Fitri pada hari Minggu, 30 Maret.”
Arab Saudi menggunakan kalender yang disebut Umm al-Qura, yang didasarkan pada perhitungan dan menandai tanggal-tanggal penting beberapa tahun sebelumnya.
Menurut kalender Umm al-Qura, hari pertama bulan Syawal atau Idul Fitri akan jatuh pada hari Minggu, 30 Maret.
Inilah sebabnya mengapa banyak ahli memperkirakan bahwa otoritas Arab Saudi akan menetapkan Idul Fitri pada hari Minggu, terlepas dari visibilitas bulan sabit pada hari Sabtu.
Imad Ahmed adalah pendiri dan direktur New Crescent Society, sebuah perkumpulan astronomi yang mengkhususkan diri dalam kalender Islam di Inggris.
Ahmed, yang sedang menempuh pendidikan doktoral di Universitas Cambridge tentang kalender Islam, menjalankan program astronomi dengan Royal Observatory di Greenwich. "Kami telah memperhatikan bahwa Saudi sangat ingin membuat penampakan bulan yang secara ilmiah tidak mungkin," kata Ahmed kepada Middle East Eye.
"Mereka melakukannya secara teratur, dan kami dapat memprediksinya karena sebagian besar sesuai dengan kalender Umm al-Qura, yang tidak sesuai dengan visibilitas bulan,” ujarnya.
"Dua atau tiga orang yang melihat bulan di lokasi tertentu di Saudi mengeklaim melihat bulan setiap tahun. Tidak ada orang lain yang mengeklaim demikian,” paparnya.
Idul Fitri yang Telah Dihitung Sebelumnya
Arab Saudi bukan satu-satunya negara yang menggunakan kalender berdasarkan perhitungan—Turki juga melakukannya.
"Kalender Turki telah dihitung sebelumnya dan rumus mereka kurang lebih sama dengan Arab Saudi," jelas Ahmed.
Lihat Juga :