Kisah Bayi Rachel Rollinson Dibuang karena Dianggap Bawa Sial, 60 Tahun Kemudian Bertemu Ibu Kandungnya
Sabtu, 22 Maret 2025 - 14:43 WIB
loading...
A
A
A
Setelah pelatihan dan bekerja sebagai perawat di Brighton, Rachel bertemu pria yang sekarang menjadi suaminya; Pete, melalui “romantis liburan di Ibiza”—dan setelah empat tahun bepergian, mereka menetap dengan ketiga anak mereka, Zoe, Katie, dan Lucy, di Lincolnshire.
Pada tahun 2012, Rachel dan saudara perempuannya memutuskan untuk mengambil bagian dalam sebuah studi oleh Julia Feast, seorang sarjana adopsi dan pekerja sosial terkenal, tentang anak angkat China dari Hong Kong—bergabung dengan sekelompok anak adopsi kelahiran Hong Kong yang akan bertemu dua kali setahun.
Akhirnya, setelah perjalanan ke Hong Kong dan percakapan dengan layanan sosial internasional, Rachel dapat memperoleh berkas adopsi Hong Kong-nya dan mengetahui bagaimana dia ditemukan.
Namun, karena berkas tersebut "tidak berisi nama, alamat, apa pun", Rachel tidak dapat menemukan orang tua kandungnya sehingga mencoba tes DNA.
"Saya mendapatkan banyak sepupu keempat, kelima, keenam, ketujuh, yang jelas tidak berarti apa-apa bagi saya," katanya.
Kemudian, pada tahun 2022, dia mengalami terobosan—menemukan sepupu pertama setelah mengunggah data DNA pihak ketiga ke MyHeritage.
Sepupunya, Chris, sedang mencari bibinya dan Rachel setuju untuk membantunya melalui kontak yang telah dia buat di Hong Kong.
Ketika dia menunjukkan foto bibinya kepada keluarganya, mereka mengira itu adalah foto Rachel sendiri dan "roda gigi mulai bergerak".
Rachel menyadari bahwa ini benar-benar bisa jadi ibunya, terbukti secara meyakinkan setelah salah satu putra wanita itu menjalani tes DNA yang mengonfirmasi bahwa dia dan Rachel adalah saudara kandung pada Januari 2023.
"Itu adalah kegembiraan yang terus berlanjut, dengan semua saudara kandung saya menghubungi saya," kata Rachel.
"Mereka mengirim foto keponakan-keponakan saya, lalu saya melakukan FaceTime dengan mereka pada bulan Maret, dan melihat ibu saya untuk pertama kalinya, dan dia seperti anak kecil di toko permen,” imbuh dia. "Kami memiliki tinggi yang sama, rambut yang sama, hidung yang sama."
Pada bulan April 2023, Rachel terbang untuk bertemu keluarganya, bersama suami dan anak-anaknya.
"Kami bertemu mereka di dekat tempat tinggal ibu saya dan makan besar," katanya.
"Mereka semua menyambut kami begitu saja. Tidak ada niat jahat, tidak ada amarah—itu hanyalah minggu yang luar biasa. Berlalu begitu cepat,” paparnya.
Rachel mengetahui bahwa ibunya pernah bekerja di pertanian sebelum pindah ke Hong Kong dan menjadi tukang plester.
Pada tahun 2012, Rachel dan saudara perempuannya memutuskan untuk mengambil bagian dalam sebuah studi oleh Julia Feast, seorang sarjana adopsi dan pekerja sosial terkenal, tentang anak angkat China dari Hong Kong—bergabung dengan sekelompok anak adopsi kelahiran Hong Kong yang akan bertemu dua kali setahun.
Akhirnya, setelah perjalanan ke Hong Kong dan percakapan dengan layanan sosial internasional, Rachel dapat memperoleh berkas adopsi Hong Kong-nya dan mengetahui bagaimana dia ditemukan.
Namun, karena berkas tersebut "tidak berisi nama, alamat, apa pun", Rachel tidak dapat menemukan orang tua kandungnya sehingga mencoba tes DNA.
"Saya mendapatkan banyak sepupu keempat, kelima, keenam, ketujuh, yang jelas tidak berarti apa-apa bagi saya," katanya.
Kemudian, pada tahun 2022, dia mengalami terobosan—menemukan sepupu pertama setelah mengunggah data DNA pihak ketiga ke MyHeritage.
Sepupunya, Chris, sedang mencari bibinya dan Rachel setuju untuk membantunya melalui kontak yang telah dia buat di Hong Kong.
Ketika dia menunjukkan foto bibinya kepada keluarganya, mereka mengira itu adalah foto Rachel sendiri dan "roda gigi mulai bergerak".
Rachel menyadari bahwa ini benar-benar bisa jadi ibunya, terbukti secara meyakinkan setelah salah satu putra wanita itu menjalani tes DNA yang mengonfirmasi bahwa dia dan Rachel adalah saudara kandung pada Januari 2023.
"Itu adalah kegembiraan yang terus berlanjut, dengan semua saudara kandung saya menghubungi saya," kata Rachel.
"Mereka mengirim foto keponakan-keponakan saya, lalu saya melakukan FaceTime dengan mereka pada bulan Maret, dan melihat ibu saya untuk pertama kalinya, dan dia seperti anak kecil di toko permen,” imbuh dia. "Kami memiliki tinggi yang sama, rambut yang sama, hidung yang sama."
Pada bulan April 2023, Rachel terbang untuk bertemu keluarganya, bersama suami dan anak-anaknya.
"Kami bertemu mereka di dekat tempat tinggal ibu saya dan makan besar," katanya.
"Mereka semua menyambut kami begitu saja. Tidak ada niat jahat, tidak ada amarah—itu hanyalah minggu yang luar biasa. Berlalu begitu cepat,” paparnya.
Rachel mengetahui bahwa ibunya pernah bekerja di pertanian sebelum pindah ke Hong Kong dan menjadi tukang plester.
Lihat Juga :