Budaya Malu Korupsi Terkenal di Jepang, Mengapa Indonesia Tak Bisa Meniru?
Kamis, 13 Maret 2025 - 15:18 WIB
loading...
A
A
A
3. Kasus Akira Amari
Pada Januari 2015, Menteri Ekonomi Jepang, Akira Amari, mengumumkan pengunduran dirinya setelah stafnya diketahui menerima suap senilai 12 juta yen dari sebuah perusahaan konstruksi.Meskipun Amari membantah menerima suap secara pribadi, dia tetap mundur untuk mempertanggungjawabkan tindakan stafnya dan menjaga kredibilitas pemerintah.
4. Kasus Isshu Sugawara
Pada Oktober 2019, Menteri Perdagangan dan Industri, Isshu Sugawara, mengundurkan diri setelah terungkap bahwa dia memberikan hadiah berupa buah-buahan mahal dan uang duka kepada konstituennya, yang dianggap melanggar undang-undang Pemilu Jepang.Tindakannya tersebut mencerminkan pelanggaran etika, meskipun skala pelanggarannya tidak sebesar kasus korupsi di negara lain.
Sejarah Munculnya Budaya Malu di Jepang
1. Periode Kuno dan Pengaruh Konfusianisme (Sebelum Abad ke-8)
Dalam masyarakat agraris Jepang awal, konsep kehormatan dan rasa malu berkembang dari nilai-nilai komunal. Kehidupan berbasis desa membuat individu sangat peduli dengan bagaimana mereka dipandang oleh kelompoknya.Pengaruh Konfusianisme dari China pada abad ke-6 memperkuat nilai-nilai kesopanan, harmoni sosial, dan tanggung jawab moral.
2. Zaman Samurai dan Bushido (Abad ke-12 hingga 19)
Pada zaman feodal (Zaman Kamakura hingga Edo), samurai mengembangkan kode etik bushido, yang menekankan keberanian, kesetiaan, dan kehormatan.Dalam budaya ini, rasa malu lebih buruk daripada kematian, sehingga banyak samurai melakukan seppuku (bunuh diri kehormatan) jika gagal memenuhi tugas atau menanggung aib.
Lihat Juga :