Israel Akan Putus Pasokan Listrik Gaza, Rakyat Palestina Makin Sengsara

Senin, 10 Maret 2025 - 12:42 WIB
loading...
Israel Akan Putus Pasokan...
Israel akan memutus pasokan listrik untuk Gaza setelah sebelumnya memblokir bantuan untuk wilayah Palestina tersebut. Foto/Saher Alghorra/The New York Times
A A A
GAZA - Menteri Energi Israel Eli Cohen mengatakan pada hari Minggu bahwa dia telah memberikan instruksi untuk menghentikan pasokan listrik ke Gaza.

Perintah itu disampaikan seminggu setelah rezim Zionis Israel memblokir semua bantuan ke wilayah kantong Palestina yang dilanda perang tersebut.

Tindakan terbaru Israel tersebut akan semakin menyengsarakan rakyat Palestina di Gaza.

Langkah Cohen tersebut juga mengingatkan dunia pada hari-hari awal perang ketika Israel mengumumkan pengepungan yang mencakup pemutusan pasokan listrik ke Gaza.

Baca Juga: Kondisi di Gaza Memburuk pada Hari Ke-6 Israel Blokade Bantuan

"Saya baru saja menandatangani perintah untuk segera menghentikan pasokan listrik ke Jalur Gaza," kata Cohen dalam sebuah pernyataan video, yang dilansir AFP, Senin (10/3/2025).

"Kami akan menggunakan semua alat yang kami miliki untuk membawa kembali para sandera dan memastikan bahwa Hamas tidak lagi berada di Gaza setelah perang," paparnya.

Satu-satunya jaringan listrik antara Israel dan Gaza memasok pabrik desalinasi air utama di wilayah itu, yang melayani lebih dari 600.000 orang.

Warga Gaza terutama bergantung pada panel surya dan generator bahan bakar untuk listrik mereka.

Sambungan ke pabrik desalinasi terputus setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 sebelum disambungkan kembali pada Juli 2024.

Namun, pabrik tersebut tidak dapat melanjutkan operasi hingga Desember tahun itu, karena jaringan listriknya rusak parah akibat perang.

Akhir pekan lalu, Israel mengumumkan telah memblokir pengiriman bantuan ke Gaza hingga Hamas menerima persyaratannya untuk perpanjangan gencatan senjata yang sebagian besar telah menghentikan pertempuran selama lebih dari 15 bulan.

Tahap pertama gencatan senjata, yang berakhir pada 1 Maret, telah memungkinkan masuknya bantuan penting, termasuk makanan dan obat-obatan, ke Gaza.

Sementara Israel mengatakan ingin memperpanjang tahap pertama gencatan senjata hingga pertengahan April, Hamas bersikeras pada transisi ke tahap kedua yang dimaksudkan untuk mengakhiri perang secara permanen.

Hamas pada hari Sabtu menuduh Israel "melakukan kejahatan perang berupa hukuman kolektif" dengan memblokir pengiriman bantuan ke Gaza. Menurut Hamas, tindakan itu juga berdampak pada sandera Israel yang masih ditahan di Gaza.

Dari 251 sandera yang dibawa dari Israel selama serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, 58 di antaranya masih berada di wilayah Gaza, termasuk 34 yang dikonfirmasi oleh militer Israel telah tewas.

Pada hari Senin, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memperingatkan Hamas tentang konsekuensi yang "tidak dapat dibayangkan" jika tidak membebaskan para sandera.

Media Israel melaporkan bahwa Netanyahu berencana untuk memberikan "tekanan maksimum" pada Hamas dalam beberapa minggu mendatang untuk menerima perpanjangan tahap pertama berdasarkan ketentuan Israel.

Lembagapenyiaran publikKan mengatakan Israel telah menyusun rencana untuk meningkatkan tekanan di bawah skema yang dijuluki "Rencana Neraka".

Ini termasuk menindaklanjuti blokade bantuan dengan "mengusir penduduk dari Jalur Gaza utara ke selatan, menghentikan pasokan listrik, dan memulai kembali pertempuran skala penuh."

Israel memberlakukan "pengepungan total" di Gaza setelah 9 Oktober 2023, memutus pasokan air, listrik, dan makanan, terkadang melonggarkan dan terkadang memperketat masuknya bantuan hingga gencatan senjata menciptakan peningkatan akses bagi truk bantuan kemanusiaan.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pengadilan AS Hukum...
Pengadilan AS Hukum Warga Israel karena Curi Rahasia Dagang
Sadisnya Tentara Israel,...
Sadisnya Tentara Israel, Tembak Mati Pria Palestina yang Sedang Tidur
Iran Tuduh NATO Terlibat...
Iran Tuduh NATO Terlibat Perang Gabungan AS-Israel Gara-gara Pengakuan Sekjen Mark Rutte
Trump Caci Maki Netanyahu:...
Trump Caci Maki Netanyahu: Semua Orang Yahudi Muak Denganmu!
Menlu Iran Bilang Hamas:...
Menlu Iran Bilang Hamas: Gaza Penting dalam Negosiasi dengan AS
Netanyahu Terpaksa Terima...
Netanyahu Terpaksa Terima Gencatan Senjata, Israel Bersiap Tarik Pasukan
Berani Tanpa AS, Netanyahu:...
Berani Tanpa AS, Netanyahu: Kami akan Masuk ke Iran
Penembakan Massal di...
Penembakan Massal di Sekolah Filipina Tewaskan 3 Siswa, 2 Pelaku Remaja Ditahan
Ngeri! Suhu Paris Lebih...
Ngeri! Suhu Paris Lebih Panas daripada Makkah
Rekomendasi
Dorong Kualitas Keterwakilan...
Dorong Kualitas Keterwakilan Perempuan 30%, Partai Perindo Siap Bersinergi Lahirkan Kebijakan yang Inklusif
Sjafrie-AHY Sinkronkan...
Sjafrie-AHY Sinkronkan Pengamanan Ruang Udara hingga Pengembangan Rute Penerbangan
MUI DKI: Paradigma Pengelolaan...
MUI DKI: Paradigma Pengelolaan Sampah Harus Diubah dari Mengelola kepada Mencegah
Berita Terkini
Pengadilan AS Hukum...
Pengadilan AS Hukum Warga Israel karena Curi Rahasia Dagang
Singapura Marah Kapalnya...
Singapura Marah Kapalnya Diserang di Selat Hormuz
Iran Sebut Pernyataan...
Iran Sebut Pernyataan Bersama AS-GCC Provokatif, Serukan Zona Bebas Senjata Nuklir Timur Tengah
Tolak Klaim AS, Iran...
Tolak Klaim AS, Iran Tegaskan Aset yang Dicairkan Tidak untuk Beli Produk Pertanian Amerika
Pemimpin Hizbullah Tegaskan...
Pemimpin Hizbullah Tegaskan Israel Harus Tinggalkan Lebanon Tanpa Syarat
Kim Jong-un Janji Kapal...
Kim Jong-un Janji Kapal Perang Korut Dilengkapi Senjata Nuklir, Momok bagi AS
Infografis
Akankah Pengakuan Negara...
Akankah Pengakuan Negara Palestina Hentikan Perang Gaza?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved