4 Alasan Anak Muda Tak Lagi Bahagia, dari Penggunaan Media Sosial hingga Selalu Merasa Kesepian
Minggu, 09 Maret 2025 - 01:20 WIB
loading...
A
A
A
Namun, internet dan telepon pintar mungkin bukan satu-satunya pendorong di balik penurunan kebahagiaan di kalangan anak muda.
"Sejumlah kekuatan budaya mungkin berperan yang berdampak negatif pada kepuasan hidup dan pandangan masyarakat, termasuk menurunnya interaksi sosial secara langsung, meningkatnya penggunaan media sosial, dan meningkatnya ketimpangan pendapatan," kata studi tersebut.
Laporan Kebahagiaan Dunia pada tahun 2024 menunjukkan bahwa secara global, kaum muda di bawah usia 30 tahun telah mengalami penurunan kebahagiaan yang dramatis sejak pandemi COVID-19. Penurunan kebahagiaan khususnya terjadi di AS, yang keluar dari 20 negara paling bahagia dalam indeks tersebut untuk pertama kalinya sejak laporan tersebut diterbitkan pada tahun 2012.
Penulis studi tersebut mengatakan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami mengapa kaum muda tampaknya semakin tidak bahagia, untuk membantu para pembuat kebijakan merancang langkah-langkah konkret guna membalikkan perubahan ini.
Namun, Blanchflower meragukan prospek untuk membalikkan tren ini.
“Kekhawatirannya adalah penurunan kesejahteraan kaum muda terus berlanjut,” kata Blanchflower. “Hal ini menyebar ke seluruh dunia.”
Ia mendesak orang-orang untuk “menjauh dari ponsel mereka” dan berinteraksi dengan orang lain.
4. Kesulitan Ekonomi dan Kesepian
Studi tersebut menunjukkan kesulitan ekonomi dan kesepian mungkin juga menjadi faktor penyebabnya."Sejumlah kekuatan budaya mungkin berperan yang berdampak negatif pada kepuasan hidup dan pandangan masyarakat, termasuk menurunnya interaksi sosial secara langsung, meningkatnya penggunaan media sosial, dan meningkatnya ketimpangan pendapatan," kata studi tersebut.
Laporan Kebahagiaan Dunia pada tahun 2024 menunjukkan bahwa secara global, kaum muda di bawah usia 30 tahun telah mengalami penurunan kebahagiaan yang dramatis sejak pandemi COVID-19. Penurunan kebahagiaan khususnya terjadi di AS, yang keluar dari 20 negara paling bahagia dalam indeks tersebut untuk pertama kalinya sejak laporan tersebut diterbitkan pada tahun 2012.
Penulis studi tersebut mengatakan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami mengapa kaum muda tampaknya semakin tidak bahagia, untuk membantu para pembuat kebijakan merancang langkah-langkah konkret guna membalikkan perubahan ini.
Namun, Blanchflower meragukan prospek untuk membalikkan tren ini.
“Kekhawatirannya adalah penurunan kesejahteraan kaum muda terus berlanjut,” kata Blanchflower. “Hal ini menyebar ke seluruh dunia.”
Ia mendesak orang-orang untuk “menjauh dari ponsel mereka” dan berinteraksi dengan orang lain.
(ahm)
Lihat Juga :