Kisah Singapura: Dulu Menangis saat Dibuang Malaysia, Kini Jadi Negara Kaya

Selasa, 04 Maret 2025 - 15:32 WIB
loading...
Kisah Singapura: Dulu...
Singapura dulunya bagian dari Federasi Malaysia, kemudian didepak Malaysia dan bangkit jadi negara kaya. Foto/Wikipedia
A A A
JAKARTA - Singapura dulunya adalah bagian dari Federasi Malaysia. Malaysia kemudian mendepaknya karena dianggap membebani ekonomi, sebuah momen yang ditangisi pemimpin Singapura kala itu; Lee Kuan Yew.

Namun, siapa sangka Singapura wilayahnya kecil dan miskin sumber daya alam berubah menjadi negara kaya mengalahkan Malaysia yang mendepaknya—juga mengalahkan Indonesia yang jauh lebih kaya dalam kepemilikan sumber daya alam.

Sekadar diketahui, luas Singapura 728,6 kilometer persegi—sedikit lebih luas dari Jakarta yang luasnya 662 kilometer persegi.

Baca Juga: Ini Satu-satunya Presiden di Dunia yang Gratiskan Listrik dan Gas untuk Rakyatnya

Cerita Singapura Dibuang Malaysia


Singapura sebelumnya menjadi bagian dari Federasi Malaysia yang dibentuk pada 16 September 1963.

Bersama dengan Malaya, Sabah, dan Sarawak, Singapura bergabung dalam upaya membentuk negara yang lebih besar dan kuat setelah kemerdekaan dari Inggris.

Namun, hubungan Singapura dengan pemerintah pusat di Kuala Lumpur tidak berjalan mulus.

Ketegangan antara pemimpin Singapura kala itu; Lee Kuan Yew, dengan pemimpin Malaysia saat itu; Tunku Abdul Rahman, semakin memburuk.

Perbedaan pandangan politik, ekonomi, serta konflik rasial antara mayoritas etnis Melayu di Malaysia dan dominasi etnis Tionghoa di Singapura memperparah situasi.

Lee Kuan Yew menginginkan kebijakan "Malaysian Malaysia" yang menekankan kesetaraan semua ras, sementara pemerintah pusat Malaysia lebih menekankan hak-hak istimewa bagi kaum Melayu.

Selain itu, secara ekonomi, Singapura merasa dirugikan karena pajak yang dikumpulkan dari Singapura lebih besar daripada yang diterima kembali dalam bentuk investasi dan bantuan.

Ketegangan ini mencapai puncaknya dalam insiden kerusuhan rasial pada 1964 yang menyebabkan pertumpahan darah di antara komunitas Melayu dan Tionghoa di Singapura.

Air Mata Lee Kuan Yew Tumpah


Pada 9 Agustus 1965, Perdana Menteri Malaysia Tunku Abdul Rahman dengan berat hati memutuskan bahwa satu-satunya cara untuk menjaga stabilitas di Malaysia adalah dengan membuang Singapura.

Tanpa referendum atau pilihan lain, Parlemen Malaysia dengan suara bulat memilih untuk mengeluarkan Singapura dari federasi.

Lee Kuan Yew, yang saat itu menjadi Perdana Menteri Singapura, merasa terpukul dengan keputusan tersebut. Dalam konferensi pers yang kini menjadi salah satu momen paling ikonik dalam sejarah Singapura, dia tidak mampu menahan emosinya dan menangis di depan kamera.

"Bagi saya, ini adalah momen yang menyedihkan. Sepanjang hidup saya, sepanjang hidup saya sebagai orang dewasa, saya percaya pada penggabungan dan penyatuan kedua wilayah ini. Anda lihat, sepanjang hidup saya sebagai orang dewasa...Saya percaya pada hal ini. Saya telah berusaha untuk itu. Saya telah kecewa," kata Lee Kuan Yew saat itu, sembari meneteskan air mata, seperti dikutip dari buku "Lee Kuan Yew: The Man and His Ideas" karya Fook Kwang Han, Warren Fernandez, dan Sumiko Tan.

Lee Kuan Yew menangis karena saat dibuang Malaysia, kondisi Singapura adalah wilayah yang miskin sumber daya alam, memiliki pengangguran tinggi, serta kekurangan air dan bahan pangan.

Lee Kuan Yew Sulap Singapura Jadi Negara Kaya


Meskipun dihadapkan pada tantangan besar, Lee Kuan Yew dan timnya tidak menyerah. Mereka mengembangkan strategi jangka panjang untuk membangun Singapura menjadi negara yang modern dan sejahtera.

Berikut beberapa langkah utama yang diambil Lee Kuan Yew:


1. Pembangunan Infrastruktur dan Urbanisasi


Singapura memprioritaskan pembangunan infrastruktur yang efisien. Pemerintah membangun jalan raya, pelabuhan, serta bandara yang modern untuk menarik investasi asing.

Selain itu, Lee Kuan Yew meluncurkan program perumahan massal melalui Housing Development Board (HDB) yang memastikan setiap warga memiliki rumah yang layak.

2. Menarik Investasi Asing


Sadar bahwa Singapura tidak memiliki sumber daya alam, pemerintah fokus menjadikan negara ini sebagai pusat perdagangan dan manufaktur.

Lee Kuan Yew bekerja sama dengan Dr Goh Keng Swee, seorang ekonom jenius yang merancang strategi menarik investasi asing.

Singapura menawarkan kebijakan pajak yang kompetitif, tenaga kerja yang terampil, serta lingkungan yang aman dan bersih bagi perusahaan multinasional. Perusahaan seperti Hewlett-Packard, Shell, dan General Electric mulai berinvestasi di negara ini sejak akhir 1960-an.


3. Reformasi Ekonomi dan Pendidikan


Pendidikan menjadi pilar utama pembangunan Singapura. Pemerintah membangun sekolah-sekolah dengan kurikulum berbasis sains dan teknologi untuk memastikan generasi muda memiliki keterampilan yang dibutuhkan di pasar global.

Selain itu, pemerintah juga melakukan diversifikasi ekonomi dengan berinvestasi di berbagai sektor seperti perbankan, teknologi, dan industri maritim.


4. Anti-Korupsi dan Tata Kelola yang Efisien


Lee Kuan Yew dan timnya menerapkan kebijakan "zero tolerance" terhadap korupsi. Institusi seperti Corrupt Practices Investigation Bureau (CPIB) dibentuk untuk memastikan transparansi di dalam pemerintahan.

Birokrasi Singapura menjadi salah satu yang paling efisien di dunia, dengan sistem yang bebas dari suap dan nepotisme.

Singapura Hari Ini: Negara Kaya dan Maju


Berkat strategi dan kebijakan yang diterapkan Lee Kuan Yew dan timnya, Singapura kini menjadi salah satu negara terkaya di dunia. Faktor-faktor utama yang menjadi sumber kekayaan Singapura meliputi:

1. Sektor Keuangan dan Perbankan


Singapura adalah pusat keuangan global dengan lebih dari 200 bank internasional beroperasi di negara ini.

Dengan regulasi yang stabil dan sistem perbankan yang transparan, Singapura menjadi tujuan utama investasi di Asia.

2. Perdagangan dan Pelabuhan


Pelabuhan Singapura adalah salah satu yang tersibuk di dunia.

Dengan lokasi strategis di jalur perdagangan internasional, Singapura menjadi pusat logistik global yang menangani jutaan kontainer setiap tahunnya.


3. Teknologi dan Inovasi


Singapura berinvestasi besar dalam riset dan pengembangan. Negara ini kini menjadi pusat bagi startup teknologi dan perusahaan berbasis kecerdasan buatan.

4. Pariwisata dan Properti


Dengan atraksi wisata seperti Marina Bay Sands, Gardens by the Bay, dan Universal Studios, Singapura menarik jutaan wisatawan setiap tahunnya.

Selain itu, sektor properti berkembang pesat dengan berbagai proyek hunian dan komersial bernilai miliaran dolar.

5. Pendidikan dan Sumber Daya Manusia


Perguruan tinggi seperti National University of Singapore (NUS) dan Nanyang Technological University (NTU) berada di peringkat tinggi dunia, menghasilkan lulusan berkualitas yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi.

Singapura menjadi contoh nyata bagaimana sebuah negara kecil dengan sumber daya terbatas dapat bangkit dan menjadi kekuatan ekonomi global. Dengan kepemimpinan yang visioner, kebijakan yang efektif, serta kerja keras rakyatnya, Singapura berhasil mengubah nasibnya dari negara yang dibuang menjadi salah satu negara terkaya di dunia.

Momen Lee Kuan Yew menangis pada 1965 bukanlah akhir dari perjuangan Singapura, tetapi awal dari perjalanan luar biasa yang membuktikan bahwa ketekunan, strategi yang tepat, dan tata kelola yang baik dapat mengubah masa depan sebuah bangsa.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Indonesia Cs Serukan...
Indonesia Cs Serukan Korut Denuklirisasi, Adik Kim Jong-un: Bodoh dan Tolol!
Selama 30 Tahun, Kakek...
Selama 30 Tahun, Kakek di Singapura Ini Perkosa 11 Gadis, Termasuk Anak, Cucu, hingga Keponakan
Trump Kenakan Tarif...
Trump Kenakan Tarif Besar-besaran pada Indonesia dan 59 Negara Lainnya, Ini Daftarnya
Malaysia Tak Takut Ancaman...
Malaysia Tak Takut Ancaman AS, PM Anwar Ibrahim Tetap Akan Usir Seluruh Warga Israel
Daftar Teroris Indonesia...
Daftar Teroris Indonesia yang Pernah Diburu Interpol, Nomor 1 Buron Internasional Bertahun-tahun
AS Ancam Malaysia setelah...
AS Ancam Malaysia setelah Anwar Ibrahim Ingin Usir Seluruh Warga Israel
Mantan Ketua MK Sebut...
Mantan Ketua MK Sebut Kondisi Indonesia Suram: Hukum Sangat Tajam ke Bawah, tapi Tumpul ke Atas
AS Kekurangan Stok Rudal,...
AS Kekurangan Stok Rudal, Trump Tunda Serangan Besar-besaran Terhadap Iran
PM Spanyol Perlro Sanchez...
PM Spanyol Perlro Sanchez Terharu Digambar oleh Gadis Gaza di Reruntuhan Bangunan
Rekomendasi
Herti Sastra Munthe...
Herti Sastra Munthe Siap Terapkan Hasil Bimtek Perindo di Deli Serdang
Ribuan Sengketa Pajak...
Ribuan Sengketa Pajak Bermunculan, Perbedaan Tafsir Masih Jadi Pemicu Utama
Sindikat Buzzer Penyebar...
Sindikat Buzzer Penyebar Hoaks Dibongkar Polda Metro Jaya, Polisi Tangkap 8 Tersangka
Berita Terkini
Mojtaba Khamenei kepada...
Mojtaba Khamenei kepada Hizbullah: Tak Ada Jalan Lain Selain Jihad Melawan AS dan Israel
Jeda Perang dan Gencatan...
Jeda Perang dan Gencatan Senjata Selalu Menguntungkan Iran, Ini 4 Alasannya
Tak Mau Tarik Pasukan...
Tak Mau Tarik Pasukan Zionis, Israel Justru Izinkan Tentara Maroko dan Uganda Berjaga di Rafah
Mengapa Pentagon Diam-diam...
Mengapa Pentagon Diam-diam Ubah Jumlah Tentara yang Terluka dan Tewas Akibat Perang Iran?
Eropa Bagai Neraka Akibat...
Eropa Bagai Neraka Akibat Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas, Ini 5 Faktanya
Putin Klaim Armada Kapal...
Putin Klaim Armada Kapal Pemecah Es Rusia Tak Memiliki Pesaing
Infografis
Jadi Kawan Israel, Maroko...
Jadi Kawan Israel, Maroko Negara Arab Pertama yang Terima F-35 AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved