Kisah Singapura: Dulu Menangis saat Dibuang Malaysia, Kini Jadi Negara Kaya

Selasa, 04 Maret 2025 - 15:32 WIB
loading...
A A A

Air Mata Lee Kuan Yew Tumpah


Pada 9 Agustus 1965, Perdana Menteri Malaysia Tunku Abdul Rahman dengan berat hati memutuskan bahwa satu-satunya cara untuk menjaga stabilitas di Malaysia adalah dengan membuang Singapura.

Tanpa referendum atau pilihan lain, Parlemen Malaysia dengan suara bulat memilih untuk mengeluarkan Singapura dari federasi.

Lee Kuan Yew, yang saat itu menjadi Perdana Menteri Singapura, merasa terpukul dengan keputusan tersebut. Dalam konferensi pers yang kini menjadi salah satu momen paling ikonik dalam sejarah Singapura, dia tidak mampu menahan emosinya dan menangis di depan kamera.

"Bagi saya, ini adalah momen yang menyedihkan. Sepanjang hidup saya, sepanjang hidup saya sebagai orang dewasa, saya percaya pada penggabungan dan penyatuan kedua wilayah ini. Anda lihat, sepanjang hidup saya sebagai orang dewasa...Saya percaya pada hal ini. Saya telah berusaha untuk itu. Saya telah kecewa," kata Lee Kuan Yew saat itu, sembari meneteskan air mata, seperti dikutip dari buku "Lee Kuan Yew: The Man and His Ideas" karya Fook Kwang Han, Warren Fernandez, dan Sumiko Tan.

Lee Kuan Yew menangis karena saat dibuang Malaysia, kondisi Singapura adalah wilayah yang miskin sumber daya alam, memiliki pengangguran tinggi, serta kekurangan air dan bahan pangan.

Lee Kuan Yew Sulap Singapura Jadi Negara Kaya


Meskipun dihadapkan pada tantangan besar, Lee Kuan Yew dan timnya tidak menyerah. Mereka mengembangkan strategi jangka panjang untuk membangun Singapura menjadi negara yang modern dan sejahtera.

Berikut beberapa langkah utama yang diambil Lee Kuan Yew:


1. Pembangunan Infrastruktur dan Urbanisasi


Singapura memprioritaskan pembangunan infrastruktur yang efisien. Pemerintah membangun jalan raya, pelabuhan, serta bandara yang modern untuk menarik investasi asing.

Selain itu, Lee Kuan Yew meluncurkan program perumahan massal melalui Housing Development Board (HDB) yang memastikan setiap warga memiliki rumah yang layak.

2. Menarik Investasi Asing


Sadar bahwa Singapura tidak memiliki sumber daya alam, pemerintah fokus menjadikan negara ini sebagai pusat perdagangan dan manufaktur.

Lee Kuan Yew bekerja sama dengan Dr Goh Keng Swee, seorang ekonom jenius yang merancang strategi menarik investasi asing.

Singapura menawarkan kebijakan pajak yang kompetitif, tenaga kerja yang terampil, serta lingkungan yang aman dan bersih bagi perusahaan multinasional. Perusahaan seperti Hewlett-Packard, Shell, dan General Electric mulai berinvestasi di negara ini sejak akhir 1960-an.


3. Reformasi Ekonomi dan Pendidikan


Pendidikan menjadi pilar utama pembangunan Singapura. Pemerintah membangun sekolah-sekolah dengan kurikulum berbasis sains dan teknologi untuk memastikan generasi muda memiliki keterampilan yang dibutuhkan di pasar global.

Selain itu, pemerintah juga melakukan diversifikasi ekonomi dengan berinvestasi di berbagai sektor seperti perbankan, teknologi, dan industri maritim.


4. Anti-Korupsi dan Tata Kelola yang Efisien


Lee Kuan Yew dan timnya menerapkan kebijakan "zero tolerance" terhadap korupsi. Institusi seperti Corrupt Practices Investigation Bureau (CPIB) dibentuk untuk memastikan transparansi di dalam pemerintahan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Indonesia Cs Serukan...
Indonesia Cs Serukan Korut Denuklirisasi, Adik Kim Jong-un: Bodoh dan Tolol!
Selama 30 Tahun, Kakek...
Selama 30 Tahun, Kakek di Singapura Ini Perkosa 11 Gadis, Termasuk Anak, Cucu, hingga Keponakan
Trump Kenakan Tarif...
Trump Kenakan Tarif Besar-besaran pada Indonesia dan 59 Negara Lainnya, Ini Daftarnya
Malaysia Tak Takut Ancaman...
Malaysia Tak Takut Ancaman AS, PM Anwar Ibrahim Tetap Akan Usir Seluruh Warga Israel
Daftar Teroris Indonesia...
Daftar Teroris Indonesia yang Pernah Diburu Interpol, Nomor 1 Buron Internasional Bertahun-tahun
AS Ancam Malaysia setelah...
AS Ancam Malaysia setelah Anwar Ibrahim Ingin Usir Seluruh Warga Israel
Mantan Ketua MK Sebut...
Mantan Ketua MK Sebut Kondisi Indonesia Suram: Hukum Sangat Tajam ke Bawah, tapi Tumpul ke Atas
Penyebaran Sangat Cepat,...
Penyebaran Sangat Cepat, Wabah Ebola di RD Kongo Catat 3.200 Kasus dan 1.405 Kematian
Perang Makin Sengit!...
Perang Makin Sengit! Iran Tak Segan-Segan Ledakkan Wilayahnya, Tak Rela Dikuasai AS
Rekomendasi
Cara Islam Mengelola...
Cara Islam Mengelola Konflik Rumah Tangga: Teladan Rasulullah, Fatimah, dan Ali bin Abi Thalib
7 Tahun Pimpin BI Sebelum...
7 Tahun Pimpin BI Sebelum Mundur, Perry Warjiyo Punya Karir Panjang dan Cemerlang
Angela Tanoesoedibjo...
Angela Tanoesoedibjo Minta Kader Perindo Peka Kondisi Sosial, Singgung Kasus Pencuri Ayam Tewas di Bali
Berita Terkini
Jeda Perang dan Gencatan...
Jeda Perang dan Gencatan Senjata Selalu Menguntungkan Iran, Ini 4 Alasannya
Tak Mau Tarik Pasukan...
Tak Mau Tarik Pasukan Zionis, Israel Justru Izinkan Tentara Maroko dan Uganda Berjaga di Rafah
Mengapa Pentagon Diam-diam...
Mengapa Pentagon Diam-diam Ubah Jumlah Tentara yang Terluka dan Tewas Akibat Perang Iran?
Eropa Bagai Neraka Akibat...
Eropa Bagai Neraka Akibat Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas, Ini 5 Faktanya
Putin Klaim Armada Kapal...
Putin Klaim Armada Kapal Pemecah Es Rusia Tak Memiliki Pesaing
Houthi dan Milisi Irak...
Houthi dan Milisi Irak Kompak Serang Arab Saudi, Riyadh: Agresor Itu Didukung Iran
Infografis
5 Negara Terancam setelah...
5 Negara Terancam setelah Donald Trump Kembali Jadi Presiden AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved