Malaysia Airlines MH370 Dicari di Area Terburuk di Dunia, Setiap Kesalahan Akan Jadi Bencana
Senin, 03 Maret 2025 - 09:32 WIB
loading...
Malaysia Airlines Penerbangan 370 atau MH370 akan dicari di area berbahaya di Samudra Hindia, salah satu medan terburuk di dunia. Pesawat ini hilang bersama 239 orang di dalamnya pada 8 Maret 2014. Foto/DNA India
A
A
A
SYDNEY - Pencarian baru untuk Malaysia Airlines Penerbangan 370 (MH370) akan dilakukan di area luas dan berbahaya di Samudra Hindia, salah satu medan terburuk di dunia.
Pakar Angkatan Laut memperingatkan bahwa setiap kesalahan dalam misi pencarian akan berubah menjadi bencana sangat cepat bagi tim pencari.
Pemerintah Malaysia telah memutuskan untuk melanjutkan pencarian pesawat MH370.
Pesawat Boeing 777 itu menghilang misterius selama penerbangan terjadwal dari Kuala Lumpur menuju Beijing pada 8 Maret 2014 dengan 239 orang (227 penumpang dan 12 awak) di dalamnya.
Baca Juga: Malaysia Airlines MH370 Dicari Lagi setelah Lenyap Misterius Hampir 11 Tahun
Pada 8 Maret 2025 nanti, akan menjadi tahun ke-11 hilangnya pesawat MH370.
Pencarian awal telah mencakup wilayah seluas 3 juta kilometer persegi di atas permukaan air dan lebih dari 120.000 kilometer persegi di bawah permukaan laut.
Menteri Perhubungan Malaysia Anthony Loke mengonfirmasi pada Selasa pekan lalu bahwa sebuah perusahaan swasta kembali mencari MH370, dengan wilayah pencarian baru sekitar 1.500 kilometer sebelah barat Perth.
Kali ini, pencarian akan menggunakan teknologi yang lebih canggih untuk memetakan gambaran dasar laut secara menyeluruh.
Perusahaan robotika laut Inggris—Amerika Serikat; Ocean Infinity—yang sebelumnya mencari pesawat tersebut—telah mengirimkan kapal induknya, Armada 7806, untuk ekspedisi baru tersebut.
Perusahaan itu juga akan menggunakan pesawat nirawak (drone) bawah air yang dikendalikan dari jarak jauh dalam upaya untuk menemukan reruntuhan pesawat MH370.
Drone tersebut mampu menyelidiki hingga kedalaman enam kilometer, dan dapat memindai dasar laut hingga 100 jam dalam satu waktu.
Area seluas 15.000 kilometer persegi akan dieksplorasi, berdasarkan data yang dikumpulkan oleh sejumlah peneliti independen selama 10 tahun terakhir.
Jika ditemukan anomali, drone akan dikerahkan kembali untuk menangkap gambar sonar.
Mantan perwira Angkatan Laut Australia Peter Waring, yang ikut serta dalam pencarian awal MH370 11 tahun lalu, mengatakan kepada 60 Minutes pada Minggu malam bahwa Ocean Infinity menggunakan teknologi canggih.
Pakar Angkatan Laut memperingatkan bahwa setiap kesalahan dalam misi pencarian akan berubah menjadi bencana sangat cepat bagi tim pencari.
Pemerintah Malaysia telah memutuskan untuk melanjutkan pencarian pesawat MH370.
Pesawat Boeing 777 itu menghilang misterius selama penerbangan terjadwal dari Kuala Lumpur menuju Beijing pada 8 Maret 2014 dengan 239 orang (227 penumpang dan 12 awak) di dalamnya.
Baca Juga: Malaysia Airlines MH370 Dicari Lagi setelah Lenyap Misterius Hampir 11 Tahun
Pada 8 Maret 2025 nanti, akan menjadi tahun ke-11 hilangnya pesawat MH370.
Pencarian awal telah mencakup wilayah seluas 3 juta kilometer persegi di atas permukaan air dan lebih dari 120.000 kilometer persegi di bawah permukaan laut.
Menteri Perhubungan Malaysia Anthony Loke mengonfirmasi pada Selasa pekan lalu bahwa sebuah perusahaan swasta kembali mencari MH370, dengan wilayah pencarian baru sekitar 1.500 kilometer sebelah barat Perth.
Kali ini, pencarian akan menggunakan teknologi yang lebih canggih untuk memetakan gambaran dasar laut secara menyeluruh.
Perusahaan robotika laut Inggris—Amerika Serikat; Ocean Infinity—yang sebelumnya mencari pesawat tersebut—telah mengirimkan kapal induknya, Armada 7806, untuk ekspedisi baru tersebut.
Perusahaan itu juga akan menggunakan pesawat nirawak (drone) bawah air yang dikendalikan dari jarak jauh dalam upaya untuk menemukan reruntuhan pesawat MH370.
Drone tersebut mampu menyelidiki hingga kedalaman enam kilometer, dan dapat memindai dasar laut hingga 100 jam dalam satu waktu.
Area seluas 15.000 kilometer persegi akan dieksplorasi, berdasarkan data yang dikumpulkan oleh sejumlah peneliti independen selama 10 tahun terakhir.
Jika ditemukan anomali, drone akan dikerahkan kembali untuk menangkap gambar sonar.
Mantan perwira Angkatan Laut Australia Peter Waring, yang ikut serta dalam pencarian awal MH370 11 tahun lalu, mengatakan kepada 60 Minutes pada Minggu malam bahwa Ocean Infinity menggunakan teknologi canggih.
Lihat Juga :