Inggris dan Prancis Siap Pimpin Koalisi untuk Kerahkan Tentara ke Ukraina
Senin, 03 Maret 2025 - 06:57 WIB
loading...
A
A
A
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa pasukan Eropa hanya akan dikerahkan setelah situasi di darat aman bagi mereka.
Dia mengusulkan gencatan senjata sementara di udara, di laut, dan di infrastruktur energi selama sebulan—sebuah gagasan yang sebelumnya dikecam Moskow sebagai taktik Barat untuk mempersenjatai kembali dan memperkuat Kyiv.
“Tidak akan ada pasukan Eropa di tanah Ukraina dalam beberapa minggu mendatang,” kata Macron dalam sebuah wawancara dengan Le Figaro.
“Pertanyaannya adalah bagaimana kita dapat menggunakan waktu ini untuk mencoba mendapatkan gencatan senjata, dengan negosiasi yang akan memakan waktu beberapa minggu, dan kemudian, ketika perdamaian ditandatangani, pengerahan pasukan," paparnya.
Moskow telah berulang kali mengesampingkan gencatan senjata sementara yang mirip dengan perjanjian Minsk yang gagal, bersikeras pada kesepakatan permanen yang mengikat secara hukum yang mengatasi akar penyebab konflik.
Mantan Kanselir Jerman Angela Merkel mengakui pada 2022 bahwa gencatan senjata berdasarkan Perjanjian Minsk, yang seolah-olah dimaksudkan untuk membekukan konflik antara Kyiv dan Republik Rakyat Donetsk dan Luhansk, sebenarnya hanyalah upaya untuk memberi Ukraina waktu guna membangun kekuatannya.
Pertemuan puncak darurat di London dihadiri oleh beberapa pemimpin Eropa, termasuk Starmer, Macron, Kanselir Jerman Olaf Scholz, Perdana Menteri Polandia Donald Tusk, dan lainnya, bersama dengan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, dan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte.
Dia mengusulkan gencatan senjata sementara di udara, di laut, dan di infrastruktur energi selama sebulan—sebuah gagasan yang sebelumnya dikecam Moskow sebagai taktik Barat untuk mempersenjatai kembali dan memperkuat Kyiv.
“Tidak akan ada pasukan Eropa di tanah Ukraina dalam beberapa minggu mendatang,” kata Macron dalam sebuah wawancara dengan Le Figaro.
“Pertanyaannya adalah bagaimana kita dapat menggunakan waktu ini untuk mencoba mendapatkan gencatan senjata, dengan negosiasi yang akan memakan waktu beberapa minggu, dan kemudian, ketika perdamaian ditandatangani, pengerahan pasukan," paparnya.
Moskow telah berulang kali mengesampingkan gencatan senjata sementara yang mirip dengan perjanjian Minsk yang gagal, bersikeras pada kesepakatan permanen yang mengikat secara hukum yang mengatasi akar penyebab konflik.
Mantan Kanselir Jerman Angela Merkel mengakui pada 2022 bahwa gencatan senjata berdasarkan Perjanjian Minsk, yang seolah-olah dimaksudkan untuk membekukan konflik antara Kyiv dan Republik Rakyat Donetsk dan Luhansk, sebenarnya hanyalah upaya untuk memberi Ukraina waktu guna membangun kekuatannya.
Pertemuan puncak darurat di London dihadiri oleh beberapa pemimpin Eropa, termasuk Starmer, Macron, Kanselir Jerman Olaf Scholz, Perdana Menteri Polandia Donald Tusk, dan lainnya, bersama dengan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, dan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte.
Lihat Juga :