Gunakan Gaya Mafia, Jerman Intimidasi dan Lecehkan Pakar PBB untuk Palestina

Sabtu, 01 Maret 2025 - 12:49 WIB
loading...
Gunakan Gaya Mafia,...
Pelapor Khusus PBB untuk Palestina yang Diduduki, Francesca Albanese. Foto/palestine chronicle
A A A
BERLIN - Pelapor Khusus PBB untuk Palestina yang Diduduki, Francesca Albanese, menceritakan detail pengalaman terbarunya di Jerman selama wawancara eksklusif dengan Podcast FloodGate milik Palestine Chronicle pada hari Kamis (27/2/2025).

Pada tanggal 18 Februari, polisi Jerman mengepung acara di Berlin yang menampilkan Albanese, menyusul tekanan politik dan hukum yang kuat yang memaksa penyelenggara untuk pindah dua kali ke tempat yang semakin kecil.

Awalnya dijadwalkan berlangsung di Freie Universitat Berlin, acara tersebut awalnya dipindahkan karena tekanan, kemudian dipindahkan lagi setelah penolakan tambahan.

Albanese menggambarkan situasi tersebut sebagai bagian dari tindakan keras yang lebih luas terhadap kebebasan berbicara di Jerman, khususnya yang menyangkut Palestina.

Dia mengaku menghadapi ancaman penangkapan, pelecehan, dan intimidasi dari otoritas Jerman karena berbicara tentang genosida Israel dan kolonialisme pemukim Yahudi.

“Saya diancam akan ditangkap, dan itu sangat menegangkan karena saya tidak pernah diancam akan ditangkap. Saya seorang pengacara. Saya seharusnya tidak berada dalam situasi ini,” ujar dia, seraya menambahkan dia terhindar dari penahanan hanya karena kekebalan diplomatiknya sebagai pejabat PBB.

Meskipun berperan sebagai pakar PBB, Albanese mendapati dirinya berada di bawah tekanan luar biasa, termasuk intervensi oleh para politisi Jerman dan duta besar Israel, yang bertujuan menghalanginya berbicara di universitas.

Albanese membandingkan situasinya dengan Pelapor Khusus PBB Richard Bennett, yang telah melakukan perjalanan ke Afghanistan yang dikuasai Taliban tiga kali tanpa menghadapi ancaman seperti itu.

“Alasan mengapa (penangkapan) tidak terjadi adalah karena Perserikatan Bangsa-Bangsa menjelaskan dengan jelas bahwa saya memiliki hak istimewa dan kekebalan dalam menjalankan fungsi saya, dan Jerman akan membuat preseden negatif seperti itu,” jelas dia.

Taktik Gaya Mafia


Albanese menggambarkan bagaimana otoritas Jerman menggunakan taktik koersif untuk menghalangi acaranya, kampanye tekanan yang dia samakan dengan “taktik gaya mafia.”

“Ini bukan sekadar penyensoran. Ini intimidasi. Ini pelecehan. Ini taktik ala mafia,” tegas dia.

“Demokrasi macam apa ini ketika polisi mengintimidasi tempat dan penyelenggara hanya karena seseorang berani berbicara tentang Palestina?” tanya dia.

Melampaui Krisis Moral


Di luar cobaan pribadinya, Albanese membahas krisis moral Jerman yang semakin dalam terkait dukungannya yang tak tergoyahkan terhadap Israel.

“Saya pikir kita sudah melewati krisis moral. Ada pelukan antara Israel dan Jerman. Meskipun secara manusiawi saya memahami sebagian darinya, saya juga merasa muak. Itu bukan pelukan yang sehat,” tutur dia.

Menurut Albanese, keberpihakan politik ini telah menyebabkan penindasan yang meluas terhadap suara-suara pro-Palestina di Jerman.

Dia mencatat selama berbulan-bulan, polisi Jerman telah menahan, melecehkan, dan bahkan memukuli orang-orang yang berdiri dalam solidaritas dengan Palestina.

“Hasilnya adalah tidak ada seorang pun saat ini, bahkan lembaga pemikir, masyarakat sipil, organisasi hak asasi manusia, atau bahkan akademisi yang mau bersuara,” pungkas dia memperingatkan.

Baca juga: Bertengkar di Depan Media, Trump: Zelensky Belum Siap untuk Perdamaian
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Trump Desak Netanyahu...
Trump Desak Netanyahu Tarik Pasukan Israel dari Suriah dan Lebanon
Jerman akan Beli 50.000...
Jerman akan Beli 50.000 Drone Serang untuk Ukraina
Israel Menahan Mufti...
Israel Menahan Mufti Agung Yerusalem, Melarangnya Masuk Masjid Al-Aqsa Selama 1 Pekan
Setelah Warga Palestina...
Setelah Warga Palestina Diusir, Israel Robohkan Sekolah di Dusun Tepi Barat
Israel Minta Lampu Hijau...
Israel Minta Lampu Hijau AS untuk Serang Iran
Rencana Volkswagen Buat...
Rencana Volkswagen Buat Rudal dengan Rafael Israel Dihalangi Para Investor Qatar
Adara Ajak Masyarakat...
Adara Ajak Masyarakat Berkarya untuk Al-Aqsa dan Palestina melalui Art & Craft for Palestine
Iran Menggila! Markas...
Iran Menggila! Markas Jet Tempur F-18 AS di Pangkalan Udara Al-Azraq Yordania Dibombardir
AS Terus Gempur Iran,...
AS Terus Gempur Iran, Serangan Meluas Tak Hanya di Pesisir Selat Hormuz
Rekomendasi
Mantan Pimpinan KPK:...
Mantan Pimpinan KPK: Febrie Adriansyah dan Keluarga Harus Dapat Perlindungan Tingkat Tinggi
Pangeran William Kecewa...
Pangeran William Kecewa Inggris Tersingkir dari Piala Dunia
Usai Diduga Singgung...
Usai Diduga Singgung Syifa Hadju, Anjasmara Minta Maaf: Bukan Orang yang Kalian Kira
Berita Terkini
Pria Ini Ditusuk 15...
Pria Ini Ditusuk 15 Kali di Mal AS Hanya karena Beragama Islam
Anggota Politbiro Partai...
Anggota Politbiro Partai Komunis China Dipecat karena Korupsi Skala Besar dan Skandal Seks
Perang Iran Meluas,...
Perang Iran Meluas, AS Jual Senjata ke Arab Saudi dan Kuwait Total Rp36,2 Triliun
Profil Sheikh Hamad...
Profil Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani, Sosok di Balik Lompatan Qatar dari Negara Gurun Menjadi Raksasa Kaya Dunia
Kronologi Venezuela...
Kronologi Venezuela Simpan 31 Ton Emas di Bank of England tapi Tak Bisa Diambil
AS Perluas Serangan...
AS Perluas Serangan terhadap Iran, Pengeboman 90 Menit Sebabkan Ledakan di Mana-mana
Infografis
5 Buah Rendah Gula yang...
5 Buah Rendah Gula yang Aman untuk Diet, Tetap Manis dan Menyegarkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved