Bisakah Rusia dan AS Menulis Ulang Sejarah yang Penuh dengan Tawar Menawar?

Minggu, 23 Februari 2025 - 18:40 WIB
loading...
Bisakah Rusia dan AS...
Rusia dan AS akan menulis ulang sejarah yang penuh dengan tawar menawar. Foto/X/@BronzePolitik
A A A
MOSKOW - Selama bertahun-tahun, hubungan Rusia -Amerika tampaknya berada dalam koma yang tidak dapat diubah. Diplomasi telah mati, disusul oleh permusuhan, sanksi, dan meningkatnya risiko konfrontasi militer. Banyak yang bersikeras bahwa tidak ada yang dapat memutus lintasan ini — Moskow dan Washington terkunci dalam jalur konflik yang tidak dapat diubah.

Namun saat ini, laju perubahannya sangat mencengangkan. Pertemuan tingkat tinggi baru-baru ini antara pejabat Rusia dan Amerika di Riyadh, diikuti oleh pernyataan terbaru Donald Trump, menunjukkan bahwa tidak ada yang dapat ditentukan sebelumnya dalam geopolitik.

Pergantian peristiwa ini mengingatkan kita pada adegan ikonik dari Terminator 2, di mana Sarah Connor mengukir "No fate" di atas meja kayu. Putranya, John, menjelaskan lebih lanjut tentang pemikiran tersebut: "Tidak ada takdir kecuali yang kita buat sendiri." Pesannya jelas — masa depan kita dibentuk oleh pilihan, bukan oleh takdir.

Selama bertahun-tahun, analis dan politisi di Rusia dan Barat bersikeras bahwa kebuntuan AS-Rusia tidak dapat dihindari. Beberapa ahli strategi Amerika memandang Rusia sebagai musuh yang tidak dapat ditebus, sementara "para patriot turbo" Rusia memperingatkan bahwa keterlibatan apa pun dengan Washington akan menjadi jebakan. Suara-suara yang lebih ekstrem di kedua belah pihak bahkan menyatakan bahwa konfrontasi tersebut hanya akan berakhir dengan bencana nuklir.

Namun, peristiwa yang terjadi sekarang menunjukkan sebaliknya. Jika tidak ada takdir selain yang kita buat, maka pilihan-pilihan yang ada di hadapan Moskow dan Washington saat ini memiliki signifikansi historis.

Bisakah Rusia dan AS Menulis Ulang Sejarah yang Penuh dengan Tawar Menawar?

1. Ilusi Barat yang Monolitik


Pembicaraan Riyadh telah mulai membongkar asumsi lama tentang apa yang seharusnya menjadi kesatuan "Barat kolektif". Selama bertahun-tahun, para pembuat kebijakan Rusia percaya bahwa politik global dikendalikan oleh satu struktur kekuatan "Anglo-Amerika" yang terpusat, yang beroperasi dengan lancar dari Washington hingga Brussels. Kenyataannya, seperti yang telah berulang kali ditunjukkan oleh era Trump, jauh lebih terfragmentasi.

"Amerika Trump bukanlah Amerika Joe Biden. Bahkan di dalam Washington, perpecahan yang dalam terlihat jelas. Sementara itu, Eropa Barat — yang telah lama dianggap sangat berpihak pada AS — kini mendapati dirinya berjuang dengan perselisihan internal dan kebencian atas tekanan Amerika," ungkap Andrey Kortunov, peneliti geopolitik Rusia, dilansir RT.

Baca Juga: Rusia Tetap Jadi Pemenang, Ukraina Kalah Memalukan

2. Memanfaatkan Peluang Perpecahanan Eropa dan AS

Bagi Rusia, fragmentasi ini merupakan sebuah peluang. Terurainya konsensus transatlantik menghadirkan peluang yang bahkan tidak ada setahun yang lalu.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ciptakan Krisis Energi...
Ciptakan Krisis Energi di Rusia, Drone Ukraina Serang Krimea dan Kilang Minyak Utama
Partai Pro-Barat Menang...
Partai Pro-Barat Menang Pemilu Armenia, Pukulan Telak bagi Rusia
7 Negara dengan Produksi...
7 Negara dengan Produksi Tank Tempur Terbanyak di Dunia, China dan Rusia Bersaing Ketat
Perlombaan Senjata Nuklir...
Perlombaan Senjata Nuklir Baru Telah Tiba, AS dan China Paling Ugal-ugalan
Inggris Makin Tak Berdaya!...
Inggris Makin Tak Berdaya! Seluruh Armada Kapal Selam Serang Tak Bisa Beroperasi
Eropa Memanas! Jet tempur...
Eropa Memanas! Jet tempur Prancis Tembak Jatuh Drone Rusia di Latvia
Netanyahu Blak-blakan...
Netanyahu Blak-blakan Bongkar Alasan Israel Gagalkan Gencatan Senjata AS-Iran!
AS Kembali Gempur Iran...
AS Kembali Gempur Iran Usai Insiden Helikopter Apache di Selat Hormuz
Trump Tuduh Iran Mengulur...
Trump Tuduh Iran Mengulur Waktu Kesepakatan Damai: Mereka Harus Bayar Mahal!
Rekomendasi
LM FEB UI Tekankan Pentingnya...
LM FEB UI Tekankan Pentingnya Merekayasa Human Performance di Era AI
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Bos Pertamina: Telah Mempertimbangkan Daya Beli Masyarakat
Canangkan Sensus Ekonomi...
Canangkan Sensus Ekonomi 2026 di Sulawesi Selatan, Kepala BPS RI Gaungkan Rumus TIR
Berita Terkini
Israel Kucurkan Rp917...
Israel Kucurkan Rp917 Miliar untuk Bangun 69 Permukiman Ilegal di Tepi Barat
Trump Murka, AS akan...
Trump Murka, AS akan Serang Iran dengan Sangat Keras Malam Ini
Iran Tinjau Lagi Perundingan...
Iran Tinjau Lagi Perundingan dengan AS setelah Eskalasi Terbaru
Hamas Kutuk Otoritas...
Hamas Kutuk Otoritas Palestina karena Koordinasi Keamanan dengan Israel
Didanai Maroko, Nikah...
Didanai Maroko, Nikah Massal Digelar untuk 40 Warga Gaza Penyandang Disabilitas dan Cedera
Iran Ungkap Proyektil...
Iran Ungkap Proyektil AS Hantam Tongkang Kargo Iran di Lepas Pantai Oman
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved