Ukraina Sudah Kehabisan Rudal Patriot AS untuk Melawan Rusia

Kamis, 20 Februari 2025 - 06:56 WIB
loading...
Ukraina Sudah Kehabisan...
Ukraina sudah kehabisan rudal untuk sistem pertahanan udara Patriot yang dipasok AS guna melawan invasi Rusia. Foto/US Army
A A A
KYIV - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan pasukan militernya sudah kehabisan rudal untuk sistem pertahanan udara Patriot yang dipasok Amerika Serikat (AS).

Kondisi ini membuat Ukraina semakin kewalahan dalam perang melawan invasi Rusia.

Zelensky mengungkapkan kesusahan tersebut dalam konferensi pers di Kyiv pada hari Rabu, seminggu setelah pemerintahan Presiden AS Donald Trump menuntut Kyiv membayar kembali ratusan miliar bantuan AS yang diberikan dengan kekayaan mineral Ukraina, serta bergerak untuk meredakan konflik.

Baca Juga: Trump ke Ukraina: Anda Seharusnya Tidak Pernah Memulai Perang Melawan Rusia

Trump membekukan bantuan AS untuk Ukraina sambil menunggu peninjauan segera setelah pelantikannya sebagai presiden bulan lalu.

Zelensky mengatakan bahwa dia telah meminta lisensi bagi Ukraina untuk memproduksi rudal Patriot sendiri jika pasokan langsung dari Amerika tidak memungkinkan, dan mengeluhkan kekurangan amunisi.

Menurutnya, para perwira Ukraina telah menghubunginya untuk memperingatkan bahwa persediaan rudal pertahanan udara mereka telah habis.

“Pukul tiga, empat, lima pagi, komandan utama menelepon saya dan berkata, kami tidak memiliki rudal untuk Patriot. Dan mengatakan bahwa ada delapan rudal di langit. Namun, kami tidak memiliki rudal,” katanya, yang dilansir Russia Today.

Zelensky kemudian meminta 20 baterai sistem pertahanan udara Patriot lagi, dengan menyebutkan bahwa anggota angkatan bersenjata AS tidak akan diminta untuk mengoperasikannya, karena Washington telah menunjukkan keengganan untuk mengerahkan pasukan ke Ukraina.

Ketika ditanya tentang penolakannya untuk menandatangani kesepakatan yang akan memberikan Washington akses ke sumber daya mineral Ukraina, Zelensky menjawab bahwa dokumen yang disajikan oleh perwakilan AS tidak menyebutkan tentang jaminan keamanan untuk Ukraina.

"Dokumen itu jelas hanya dalam satu hal. Kami harus memberikan 50%,” kata Zelensky.

Juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih Brian Hughes mengatakan kepada AP bahwa pemimpin Ukraina bersikap picik dalam menolak kesempatan yang ditawarkan pemerintahan Trump.

Kesepakatan yang disajikan itu benar-benar kolonial, tulis AP, mengutip mantan pejabat senior Ukraina.

Minggu lalu, Trump mengatakan dia menuntut ekuivalen dengan mineral tanah langka Ukraina senilai USD500 miliar, sebagai imbalan atas bantuan lebih dari USD300 miliar yang diberikan AS kepada Kyiv.

Berbicara kepada pers setelah selesainya pembicaraan bilateral Rusia-AS di Riyadh, Trump mengatakan dia kecewa tentang konflik yang tidak diselesaikan secara diplomatis dalam tiga tahun.

Ketika ditekan, presiden AS itu mengatakan Ukraina tidak dalam posisi untuk mengeluh karena tidak diundang ke meja perundingan.

"Hari ini saya mendengar, 'Kami tidak diundang'. Nah, Anda sudah berada di sana selama tiga tahun, Anda seharusnya mengakhirinya," katanya.

Pembicaraan di Riyadh berakhir dengan kesepakatan antara pejabat AS dan Rusia untuk melanjutkan upaya mengakhiri perang dan memulihkan hubungan diplomatik.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
10 Kali Amerika Serikat...
10 Kali Amerika Serikat dan Iran Duduk di Meja Perundingan, tapi Perang Terus Berlanjut, Ini Penyebabnya
Biden Sebut Trump Pencundang,...
Biden Sebut Trump Pencundang, Narsis, dan Sombong
Langka, Putin Akui Rusia...
Langka, Putin Akui Rusia Krisis Bahan Bakar akibat Serangan Ukraina
Begini Cara Bos FIFA...
Begini Cara Bos FIFA Gunakan Geopolitik di Panggung Piala Dunia
Putin: Barat Coba Kacaukan...
Putin: Barat Coba Kacaukan Rusia karena Tak Mampu Mengalahkannya di Medan Perang
Media Pro-IRGC: Iran...
Media Pro-IRGC: Iran Mutlak Harus Memiliki Bom Nuklir
Toyota dan Nissan Sebut...
Toyota dan Nissan Sebut Mobil yang Diproduksi di AS Berkualitas Lebih Rendah dari Jepang
AS Lancarkan Serangan...
AS Lancarkan Serangan Baru ke Iran, Sasar Pertahanan Udara hingga Fasilitas Drone
AS dan Iran Sepakat...
AS dan Iran Sepakat Hentikan Serangan, Berunding di Qatar 30 Juni
Rekomendasi
Di Tengah Salat, Arah...
Di Tengah Salat, Arah Kiblat Berubah! Begini Sejarah Kakbah Menjadi Kiblat Umat Islam
Jro Bima, Memperluas...
Jro Bima, Memperluas Pengabdian untuk Bali lewat Jalur Politik
Roy Suryo Ngamuk Sidang...
Roy Suryo Ngamuk Sidang Praperadilannya Disusupi Termul
Berita Terkini
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Darat dan Udara ke Afghanistan, 29 Tentara Taliban Tewas
Israel Akui Genosida...
Israel Akui Genosida Armenia, Dikecam karena Juga Lakukan Genosida Gaza
1.300 Orang Tewas Akibat...
1.300 Orang Tewas Akibat Gelombang Panas di Eropa
10 Kali Amerika Serikat...
10 Kali Amerika Serikat dan Iran Duduk di Meja Perundingan, tapi Perang Terus Berlanjut, Ini Penyebabnya
Pria Misterius Dijuluki...
Pria Misterius Dijuluki 'Batman' Diburu Polisi karena Ikat Para Maling Motor di Tiang Lampu
Biden Sebut Trump Pencundang,...
Biden Sebut Trump Pencundang, Narsis, dan Sombong
Infografis
3 Alasan Greenland Jadi...
3 Alasan Greenland Jadi Kunci AS untuk Perang Nuklir Melawan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved