Bos Pentagon: Trump Tak Khianati Ukraina dalam Perang Melawan Rusia
Jum'at, 14 Februari 2025 - 08:11 WIB
loading...
Pentagon menepis anggapan bahwa Presiden AS Donald Trump mengkhianati Ukraina dalam perang melawan Rusia. Foto/New York Times
A
A
A
WASHINGTON - Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) atau bos Pentagon Pete Hegseth mengatakan Presiden Donald Trump tidak mengkhianati Ukraina dalam perang melawan Rusia.
Sebaliknya, kata Hegseth, Trump mengupayakan perdamaian dengan berbicara kepada Presiden Rusia Vladimir Putin.
Komentar tersebut menyusul percakapan pertama yang diketahui antara para pemimpin AS dan Rusia sejak perang Ukraina pecah hampir tiga tahun lalu.
Baca Juga: Bahas Perang Ukraina, AS dan Rusia Lakukan Pertemuan Tingkat Tinggi di Munich
Dalam sebuah wawancara dengan The Economist beberapa jam sebelum panggilan telepon antara Putin dan Trump pada hari Rabu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan bahwa setiap pembicaraan damai yang mengecualikan Kyiv akan menjadi pengkhianatan yang berbahaya.
Hegseth menolak klaim tersebut pada hari Kamis menjelang pertemuan para menteri pertahanan NATO di Brussels.
"Tidak ada pengkhianatan di sana. Ada pengakuan bahwa seluruh dunia dan Amerika Serikat berinvestasi dan tertarik pada perdamaian," kata kepala Pentagon tersebut, yang dilansir Russia Today, Jumat (14/2/2025).
Setelah percakapannya selama 90 menit dengan Putin, Trump mengatakan negosiasi untuk mengakhiri perang Ukraina akan dimulai segera, menambahkan bahwa dia mungkin akan bertemu dengan Putin di Arab Saudi untuk pembicaraan lebih lanjut.
Moskow tidak mengonfirmasi atau membantah pernyataan tentang kemungkinan lokasi pertemuan puncak tersebut.
Putin mendukung pandangan Trump bahwa sudah waktunya bagi Rusia dan AS untuk bekerja sama, menurut Kremlin dalam siaran pers setelah panggilan telepon tersebut.
Putin menegaskan kembali perlunya mengatasi akar penyebab perang Ukraina dan sepakat bahwa penyelesaian jangka panjang dapat dicapai melalui perundingan damai.
Sebelum panggilan telepon, Hegseth menguraikan posisi negosiasi AS, dengan menyatakan bahwa Kyiv harus menerima bahwa kembali ke perbatasan Ukraina sebelum 2014 adalah tidak realistis.
Dia juga mengakui bahwa keanggotaan NATO untuk Ukraina bukanlah hasil yang layak dari negosiasi dan mengesampingkan pasukan penjaga perdamaian AS di negara itu.
Setelah panggilan teleponnya dengan Putin, Trump juga menelepon Zelensky untuk membahas penyelesaian damai, di antara isu-isu lainnya.
Presiden AS itu mengatakan percakapan dengan pemimpin Ukraina telah berjalan sangat baik, dan bahwa Zelensky ingin berdamai.
Zelensky sebelumnya bersikeras bahwa perjanjian apa pun harus menegakkan integritas teritorial Kyiv.
Namun, minggu lalu, dia akan mempertimbangkan pertukaran wilayah jika Trump berhasil membawa Ukraina dan Rusia ke meja perundingan.
Rusia menegaskan bahwa setiap perundingan perdamaian harus mengakui kenyataan di lapangan dan telah mengesampingkan pertukaran wilayah dengan Kyiv.
Sebaliknya, kata Hegseth, Trump mengupayakan perdamaian dengan berbicara kepada Presiden Rusia Vladimir Putin.
Komentar tersebut menyusul percakapan pertama yang diketahui antara para pemimpin AS dan Rusia sejak perang Ukraina pecah hampir tiga tahun lalu.
Baca Juga: Bahas Perang Ukraina, AS dan Rusia Lakukan Pertemuan Tingkat Tinggi di Munich
Dalam sebuah wawancara dengan The Economist beberapa jam sebelum panggilan telepon antara Putin dan Trump pada hari Rabu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan bahwa setiap pembicaraan damai yang mengecualikan Kyiv akan menjadi pengkhianatan yang berbahaya.
Hegseth menolak klaim tersebut pada hari Kamis menjelang pertemuan para menteri pertahanan NATO di Brussels.
"Tidak ada pengkhianatan di sana. Ada pengakuan bahwa seluruh dunia dan Amerika Serikat berinvestasi dan tertarik pada perdamaian," kata kepala Pentagon tersebut, yang dilansir Russia Today, Jumat (14/2/2025).
Setelah percakapannya selama 90 menit dengan Putin, Trump mengatakan negosiasi untuk mengakhiri perang Ukraina akan dimulai segera, menambahkan bahwa dia mungkin akan bertemu dengan Putin di Arab Saudi untuk pembicaraan lebih lanjut.
Moskow tidak mengonfirmasi atau membantah pernyataan tentang kemungkinan lokasi pertemuan puncak tersebut.
Putin mendukung pandangan Trump bahwa sudah waktunya bagi Rusia dan AS untuk bekerja sama, menurut Kremlin dalam siaran pers setelah panggilan telepon tersebut.
Putin menegaskan kembali perlunya mengatasi akar penyebab perang Ukraina dan sepakat bahwa penyelesaian jangka panjang dapat dicapai melalui perundingan damai.
Sebelum panggilan telepon, Hegseth menguraikan posisi negosiasi AS, dengan menyatakan bahwa Kyiv harus menerima bahwa kembali ke perbatasan Ukraina sebelum 2014 adalah tidak realistis.
Dia juga mengakui bahwa keanggotaan NATO untuk Ukraina bukanlah hasil yang layak dari negosiasi dan mengesampingkan pasukan penjaga perdamaian AS di negara itu.
Setelah panggilan teleponnya dengan Putin, Trump juga menelepon Zelensky untuk membahas penyelesaian damai, di antara isu-isu lainnya.
Presiden AS itu mengatakan percakapan dengan pemimpin Ukraina telah berjalan sangat baik, dan bahwa Zelensky ingin berdamai.
Zelensky sebelumnya bersikeras bahwa perjanjian apa pun harus menegakkan integritas teritorial Kyiv.
Namun, minggu lalu, dia akan mempertimbangkan pertukaran wilayah jika Trump berhasil membawa Ukraina dan Rusia ke meja perundingan.
Rusia menegaskan bahwa setiap perundingan perdamaian harus mengakui kenyataan di lapangan dan telah mengesampingkan pertukaran wilayah dengan Kyiv.
(mas)
Lihat Juga :