Kerasnya Saudi pada Israel Mengingatkan pada Raja Faisal yang Gebuk AS dengan Embargo Minyak

Kamis, 13 Februari 2025 - 15:31 WIB
loading...
Kerasnya Saudi pada...
Para petinggi Arab Saudi mulai bersuara keras pada Israel dan AS yang ingin mengusir rakyat Palestina dari Gaza. Foto/SPA
A A A
RIYADH - Selama dua pekan ini, suara-suara keras dari petinggi Kerajaan Arab Saudi muncul untuk melawan kekurangajaran Israel dan rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang ingin mencaplok Gaza.

Reaksi keras mereka mengingatkan dunia pada almarhum Raja Faisal bin Abdulaziz al-Saud, raja yang terkenal anti-Zionis Israel dan pernah menyengsarakan Amerika Serikat dengan melakukan embargo minyak—yang saat itu sebagai respons karena Amerika pro-Israel.

Pada pekan lalu, pangeran senior Kerajaan Arab Saudi, Turki al-Faisal, dengan lantang menentang rencana Trump mengambil alih Jalur Gaza, Palestina.

Baca Juga: Pangeran Arab Saudi Ini Berani Melawan Rencana Trump Caplok Gaza, Menyebutny Pembersihan Etnis

Dia menyebut rencana itu sebagai bentuk pembersihan etnis. "Apa yang keluar dari Trump tidak dapat dicerna. Saya dengan hormat menolak untuk menambahkan lebih banyak komentar yang tidak sopan terhadap itu, tetapi adalah fantasi untuk berpikir bahwa pembersihan etnis di abad ke-21 dapat dimaafkan oleh komunitas dunia yang tidak menanggapinya," kata Pangeran Turki al-Faisal kepada CNN.

Pangeran tersebut tak lain adalah putra almarhum Raja Faisal yang terkenal berani mengobarkan perlawanan pada Israel dan AS.

Selama konferensi pers pada Selasa malam pekan lalu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Trump mengatakan Gaza adalah lokasi pembongkaran dan warga Palestina yang tinggal di sana harus dikirim ke berbagai negara agar dapat menjalani kehidupan yang lebih baik. Dia juga mengisyaratkan bahwa pasukan AS dapat dikerahkan jika diperlukan.

Netanyahu dan pemerintahannya menyambut baik rencana Trump, yang dengan cepat dikutuk oleh masyarakat internasional, termasuk Arab Saudi dan seluruh dunia Arab. Pangeran Turki al-Faisal, yang sebelumnya juga merupakan duta besar Arab Saudi untuk AS, mengatakan masalah di Palestina bukanlah warga Palestina.

"Ini adalah pendudukan Israel, dan ini telah jelas dan dipahami oleh semua orang," katanya.

Sementara AS dan Israel telah menyatakan harapan mereka untuk normalisasi antara Arab Saudi dan Israel, Riyadh telah berulang kali menekankan posisinya: tidak akan ada hubungan seperti itu tanpa negara Palestina yang didasarkan pada perbatasan tahun 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. AS telah mengadopsi posisi yang sama selama beberapa dekade.

“Semua hal ini merupakan kebijakan Amerika hingga kata-kata terakhir yang dipilih Trump untuk digunakan dalam mengeklaim bahwa dia ingin memperbaiki keadaan padahal sebenarnya hal itu akan mengubah keadaan menjadi lebih banyak konflik dan pertumpahan darah,” kata Pangeran Turki al-Faisal.

Trump mengatakan bahwa dia bersedia mengunjungi Riyadh untuk salah satu perjalanan luar negeri pertamanya jika kerajaan tersebut menginvestasikan sejumlah uang di AS. Arab Saudi menjanjikan jumlah yang lebih tinggi dari yang diinginkan presiden AS.

“Jika dia benar-benar datang [ke Arab Saudi], dia akan mendapat teguran dari para pemimpin di sini tentang ketidakbijaksanaan dari apa yang dia usulkan dan kelaliman dan ketidakadilan nyata yang benar-benar ditandai dan sepenuhnya ditempatkan dalam usulan pembersihan etnis ini tidak hanya dari Gaza tetapi juga apa yang terjadi di Tepi Barat,” kata imbuh pangeran tersebut.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Apa Itu Front Kedelapan...
Apa Itu Front Kedelapan Israel? Propaganda Digital terhadap Politikus Pro-Palestina
Tiru Israel, Taiwan...
Tiru Israel, Taiwan Gunakan AI untuk Rekrut Informan dan Whistleblower China
Beijing: Asing Mata-matai...
Beijing: Asing Mata-matai China, Gunakan Kura-kura dan Ikan yang Dipasang Sensor
Pemimpin Oposisi Zionis:...
Pemimpin Oposisi Zionis: Kesepakatan Damai AS-Iran Berarti Tak Satu Pun Tujuan Perang Israel Tercapai
Uni Emirat Arab Bayar...
Uni Emirat Arab Bayar Iran Rp355,5 Triliun agar Berhenti Menyerang
AS Habisi Bos Geng Tren...
AS Habisi Bos Geng Tren de Aragua, Markasnya di Venezuela Dibom hingga Berkeping-keping
5 Negara Produsen Jet...
5 Negara Produsen Jet Tempur Terbesar di Dunia
China Hadapi “Epidemi”...
China Hadapi “Epidemi” Baru, Lonjakan Kematian Usia Muda Picu Kekhawatiran Publik
Ini Isi Perjanjian Damai...
Ini Isi Perjanjian Damai AS-Iran yang Diklaim Trump, Tak Ada Ganti Rugi Perang
Rekomendasi
Jerman vs Curacao: Sang...
Jerman vs Curacao: Sang Debutan Jadi Ujian Perdana Die Mannschaft
Audisi Miss Indonesia...
Audisi Miss Indonesia 2026 Yogyakarta Makin Ketat, Ini Kriteria yang Dicari Para Juri
WNI Dianiaya di Malaysia,...
WNI Dianiaya di Malaysia, Kemlu Sebut 4 Pelaku Sudah Diamankan
Berita Terkini
Berlatih di Tijuana,...
Berlatih di Tijuana, Timnas Iran Dikawal 300 Pasukan Elite Meksiko
Jika Dicairkan, Aset...
Jika Dicairkan, Aset Beku Iran Jadi Oksigen Segar untuk Kebangkitan Ekonomi Iran
Militerisasi Jepang...
Militerisasi Jepang dan Bahaya Radiasi Radio Aktif
Drone Hizbullah Hantam...
Drone Hizbullah Hantam Israel, IDF Bombardir Lebanon
Inggris Caplok Armada...
Inggris Caplok Armada Bayangan Rusia, Akankah Picu Perang Besar?
Ini Gaun Emas Termahal...
Ini Gaun Emas Termahal di Dunia! Beratnya 10 Kg, Harganya Rp24 Miliar
Infografis
Perang AS-Israel vs...
Perang AS-Israel vs Iran Telah Mengungkap Kelemahan Militer Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved