Mengukur Kesiapan Yordania Berperang dengan Israel jika Warga Palestina Diusir Tanah Airnya
Senin, 10 Februari 2025 - 02:20 WIB
loading...
A
A
A
Banjir pengungsi akan mengganggu keseimbangan etnis yang rapuh di negara itu. Lebih dari 2 juta warga Yordania terdaftar sebagai pengungsi Palestina. Perkiraan lain menyebutkan angkanya jauh lebih tinggi, mungkin mayoritas penduduk.
Sumber-sumber mengatakan bahwa Yordania khawatir masuknya pengungsi akan menyebabkan pertikaian sipil baru. Penduduk Yordania telah marah dengan konflik di Gaza, dan pengungsi dari Gaza dan Tepi Barat akan menjadi faktor destabilisasi tambahan.
Pada hari Sabtu, para diplomat tinggi dari Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Qatar menolak pemindahan paksa warga Palestina selama pertemuan di Kairo.
"Kami menegaskan penolakan kami terhadap [setiap upaya] untuk mengkompromikan hak-hak Palestina yang tidak dapat dicabut, baik melalui kegiatan permukiman, atau penggusuran atau pencaplokan tanah atau dengan mengosongkan tanah dari pemiliknya… dalam bentuk apa pun atau dalam keadaan atau pembenaran apa pun," kata negara-negara tersebut dalam sebuah pernyataan bersama.
Berbagai versi usulan Trump untuk mengekspor warga Palestina ke Yordania sudah ada sejak apa yang disebut Rencana Allon, yang dinamai menurut politisi Israel Yigal Allon. Setelah perang 1967, Allon menyerukan aneksasi sebagian besar wilayah Tepi Barat.
6. Menjaga Masjid Al Aqsa
Bani Hasyim juga merupakan penjaga tempat-tempat suci Islam dan Kristen di Yerusalem. Setiap langkah untuk menghancurkan Kubah Batu atau Masjid Al-Aqsa untuk membangun kuil Yahudi ketiga - tujuan yang diidam-idamkan banyak kelompok sayap kanan di Israel - juga akan menjadi casus belli, kata sumber tersebut.
Yang mengkhawatirkan, bahkan Pete Hegseth, menteri pertahanan baru Trump, telah dengan gegabah menyerukan pembangunan kuil Yahudi ketiga di lokasi Masjid Al-Aqsa di Yerusalem.
5. Tidak Ingin Menampung Faksi Palestina yang Jadi Ancaman
Banjir pengungsi yang cepat ke Yordania selama Nakba pada tahun 1948 dan sekali lagi pada tahun 1967 menyebabkan September Hitam pada tahun 1970, ketika dinasti Hashemite menghancurkan faksi-faksi Palestina yang dikhawatirkan berusaha mengambil alih negara.Sumber-sumber mengatakan bahwa Yordania khawatir masuknya pengungsi akan menyebabkan pertikaian sipil baru. Penduduk Yordania telah marah dengan konflik di Gaza, dan pengungsi dari Gaza dan Tepi Barat akan menjadi faktor destabilisasi tambahan.
Pada hari Sabtu, para diplomat tinggi dari Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Qatar menolak pemindahan paksa warga Palestina selama pertemuan di Kairo.
"Kami menegaskan penolakan kami terhadap [setiap upaya] untuk mengkompromikan hak-hak Palestina yang tidak dapat dicabut, baik melalui kegiatan permukiman, atau penggusuran atau pencaplokan tanah atau dengan mengosongkan tanah dari pemiliknya… dalam bentuk apa pun atau dalam keadaan atau pembenaran apa pun," kata negara-negara tersebut dalam sebuah pernyataan bersama.
Berbagai versi usulan Trump untuk mengekspor warga Palestina ke Yordania sudah ada sejak apa yang disebut Rencana Allon, yang dinamai menurut politisi Israel Yigal Allon. Setelah perang 1967, Allon menyerukan aneksasi sebagian besar wilayah Tepi Barat.
6. Menjaga Masjid Al Aqsa
Bani Hasyim juga merupakan penjaga tempat-tempat suci Islam dan Kristen di Yerusalem. Setiap langkah untuk menghancurkan Kubah Batu atau Masjid Al-Aqsa untuk membangun kuil Yahudi ketiga - tujuan yang diidam-idamkan banyak kelompok sayap kanan di Israel - juga akan menjadi casus belli, kata sumber tersebut.
Yang mengkhawatirkan, bahkan Pete Hegseth, menteri pertahanan baru Trump, telah dengan gegabah menyerukan pembangunan kuil Yahudi ketiga di lokasi Masjid Al-Aqsa di Yerusalem.
(ahm)
Lihat Juga :