Hamas Murka Israel Langgar Gencatan Senjata Jelang Pertukaran Sandera Berikutnya

Sabtu, 08 Februari 2025 - 08:01 WIB
loading...
Hamas Murka Israel Langgar...
Pengemudi truk Palestina dan kendaraan PBB menunggu di dekat gerbang perbatasan Rafah di sisi Gaza untuk menyeberangi sisi Mesir, pada 14 Mei 2024. Foto/Hani Alshaer/Anadolu Agency
A A A
GAZA - Hamas menuduh Israel melakukan beberapa pelanggaran perjanjian gencatan senjata pada hari Jumat (7/2/2025).

Pernyataan itu muncul sehari sebelum jadwal pertukaran tiga sandera Israel dengan tahanan Palestina dalam tahap terakhir dari kesepakatan rapuh yang bertujuan mengakhiri perang di Gaza, Reuters melaporkan.

Selain menunda masuknya ratusan truk yang membawa makanan dan perlengkapan kemanusiaan lainnya, Hamas mengatakan Israel hanya mengizinkan masuk sebagian kecil tenda dan rumah mobil yang dibutuhkan untuk menyediakan tempat berlindung bagi orang-orang yang kembali ke rumah mereka yang dibom.

“Hampir tiga pekan setelah dimulainya gencatan senjata, situasi kemanusiaan yang mengerikan di Gaza terus memburuk secara berbahaya," tegas Hamas.

Pernyataan tersebut, yang dikeluarkan saat kelompok tersebut dijadwalkan mengumumkan identitas ketiga sandera yang akan dibebaskan pada hari Sabtu, menggarisbawahi rapuhnya kesepakatan yang dicapai bulan lalu dengan mediator Mesir dan Qatar dan didukung Amerika Serikat.

Pengumuman nama-nama tersebut ditunda pada hari Jumat menyusul tuduhan Hamas, tetapi tidak segera jelas apakah penundaan tersebut akan menunda pertukaran yang dijadwalkan pada hari Sabtu.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pada hari Selasa bahwa dia ingin memindahkan penduduk Gaza ke negara ketiga seperti Mesir atau Yordania dan menempatkan daerah kantong pantai di bawah kendali AS untuk dikembangkan menjadi "Riviera Timur Tengah".

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendukung visi Trump untuk Gaza sebagai rencana yang "luar biasa", tetapi rencana tersebut langsung ditolak negara-negara Arab, kelompok-kelompok Palestina termasuk Hamas dan Otoritas Palestina, dan banyak warga Gaza, yang mengatakan mereka akan membangun kembali rumah dan restoran mereka sendiri.

Namun, para pemimpin Israel telah mengulangi pernyataan bahwa warga Gaza yang ingin pergi harus dapat pergi dan Menteri Pertahanan, Israel Katz, memerintahkan tentara pada hari Kamis untuk menyiapkan rencana guna memungkinkan keberangkatan penduduk Gaza yang ingin pergi.

Sejauh ini, 13 sandera Israel dari 33 anak-anak, wanita, dan pria lanjut usia yang akan dibebaskan pada tahap pertama perjanjian selama 42 hari telah pulang dan ratusan tahanan Palestina telah dibebaskan sebagai gantinya. Lima sandera Thailand juga telah dipulangkan.

Pekerjaan pada tahap kedua perjanjian multi-tahap, yang bertujuan mengamankan pembebasan sekitar 60 sandera pria dan penarikan pasukan Israel dari Gaza, telah dimulai dan tim negosiasi Israel diperkirakan akan terbang pada hari Sabtu ke Doha, media Israel melaporkan pada Jumat.

Namun tuduhan yang dilontarkan Hamas terhadap Israel menunjukkan betapa sedikitnya kepercayaan antara kedua belah pihak setelah lebih dari 15 bulan episode paling berdarah dalam konflik yang telah berlangsung selama beberapa dekade.

Militer Israel mengatakan, pada Jumat, bahwa para komandan sedang melakukan penilaian situasional menjelang tahap berikutnya dari perjanjian yang saat ini sedang dibahas, dengan pasukan dikerahkan di berbagai titik di sekitar Jalur Gaza.

Manipulasi yang Jelas


Hamas mengatakan hanya 8.500 truk dari 12.000 truk yang seharusnya tiba sejauh ini telah memasuki Jalur Gaza, sebagian besar berisi makanan dan barang-barang sekunder termasuk keripik dan cokelat, bukan kebutuhan mendesak lainnya.

“Ini menunjukkan manipulasi yang jelas terhadap prioritas bantuan dan tempat berlindung,” ungkap Hamas.

“Selain itu, hanya 10% dari 200.000 tenda dan 60.000 karavan yang dibutuhkan untuk menyediakan tempat berlindung telah tiba, meninggalkan ratusan ribu orang dalam cuaca musim dingin yang keras,” papar Hamas.

Terakhir, alat berat yang dibutuhkan untuk membersihkan jutaan ton puing dan mengevakuasi ribuan jenazah yang diperkirakan terkubur belum tiba.

Israel telah menolak tuduhan mereka menunda-nunda mengizinkan masuknya pasokan bantuan sebagai “klaim yang sama sekali tidak berdasar” dan mengatakan telah mengizinkan masuknya ribuan truk, termasuk tenda dan tempat berlindung.

Namun, ratusan ribu orang terjebak di tenda-tenda dan tempat berlindung darurat lainnya yang sudah usang karena digunakan selama berbulan-bulan saat pertempuran berkecamuk tahun lalu.

Sejauh ini, meskipun kedua belah pihak menuduh adanya pelanggaran gencatan senjata, gencatan senjata tetap berlaku, sehingga masih ada jalan mengakhiri perang dan membangun kembali Gaza yang kini telah hancur.

Orang-orang bersenjata yang dipimpin Hamas menyerang Israel pada 7 Oktober 2023, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera lebih dari 250 orang dalam jumlah korban jiwa terbesar dalam satu hari sejak berdirinya negara Israel pada tahun 1948.

Namun, sejak saat itu, Haaretz mengungkapkan helikopter dan tank tentara Israel telah menewaskan banyak dari 1.139 tentara dan warga sipil yang diklaim Israel telah dibunuh Perlawanan Palestina.

Israel melancarkan genosida yang menewaskan lebih dari 47.000 warga Palestina, menurut otoritas kesehatan Gaza dan menghancurkan daerah kantong tersebut.

Baca juga: Mesir Tolak Terima 20 Warga Palestina yang Dibebaskan Israel
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Netanyahu Ingin Israel...
Netanyahu Ingin Israel Bebaskan Diri dari Ketergantungan Persenjataan pada AS
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
AS Mediasi Perundingan...
AS Mediasi Perundingan Lebanon-Israel, Bahas Kemungkinan Penarikan Zionis dari Lebanon Selatan
Trump Ancam Tak Tolong...
Trump Ancam Tak Tolong Negara-negara NATO karena Tolak Bantu AS Melawan Iran
Siapa Ahmed Wishah?...
Siapa Ahmed Wishah? Jurnalis Al Jazeera yang Dibunuh Israel
Trump Ancam Serang Iran...
Trump Ancam Serang Iran Sangat Keras Jika Tak Kendalikan Hizbullah!
Infantino Pastikan Trump...
Infantino Pastikan Trump Hadiri Final Piala Dunia 2026
Dampak Kunjungan Trump,...
Dampak Kunjungan Trump, China Perketat Pembatasan Aktivis dan Pengawasan Domestik
Kesal! Trump: AS Bayar...
Kesal! Trump: AS Bayar Mahal untuk Lindungi Eropa dari Serangan Rusia
Rekomendasi
Inggris vs Ghana 0-0,...
Inggris vs Ghana 0-0, Laga Hambar di Boston
Asfinawati: Ujaran Kebencian...
Asfinawati: Ujaran Kebencian dalam HAM Menyangkut Ras hingga Agama Bukan Orang per Orang
Ketua PMI DKI Jakarta:...
Ketua PMI DKI Jakarta: Relawan Muda Garda Terdepan yang Siap Go Internasional
Berita Terkini
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Awas, AI dalam Beberapa...
Awas, AI dalam Beberapa Bulan Lagi Bisa Lumpuhkan Pemerintahan di Berbagai Negara
Netanyahu Ingin Israel...
Netanyahu Ingin Israel Bebaskan Diri dari Ketergantungan Persenjataan pada AS
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
Infografis
Kehebatan Rudal Sijjil,...
Kehebatan Rudal Sijjil, Senjata Andalan Iran Hancurkan Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved