alexametrics

Pemilu Primer New Hampshire: Trump Kalahkan Rekor Obama-Bush-Clinton

loading...
Pemilu Primer New Hampshire: Trump Kalahkan Rekor Obama-Bush-Clinton
Perolehan suara Donald Trump dalam pemilu primer di New Hampshire mengalahkan rekor yang pernah diraih Barack Obama, Goerge W Bush dan Bill Clinton. Foto/Twitter @realDonaldTrump
A+ A-
WASHINGTON - Presiden Donald Trump, bakal calon presiden petahana dari Partai Republik Amerika Serikat (AS) membuat rekor luar biasa dalam pemilu primer di New Hampshire. Rekor perolehan suaranya bahkan mengalahkan jumlah pemilih yang pernah diraih tiga pendahulunya, Barack Obama, George Walker Bush dan William Jefferson Clinton atau Bill Clinton.

Dalam pemilu primer di wilayah itu, Trump menang telak dari para rivalnya sesama Partai Republik. Dia meraih total suara 130.805 atau 84 persen. Para rivalnya, Bill Weld hanya memperoleh 9 persen dan 6 persen pemilih lainnya diperoleh kandidat lain.

Rekor jumlah pemilih Trump yang luar biasa ini menjadi tanda peringatan untuk calon presiden dari Partai Demokrat.



Pemilu primer tidak mewajibkan warga Amerika memberikan suaranya. Namun, hasilnya menjadi indikator antusiasme para pemilih negara itu untuk pemilu November mendatang sekaligus dukungan pada sosok calon presiden.

Sekadar perbandingan, Barack Obama dalam pemilu primer Partai Demokrat di New Hampshire tahun 2012 meraih total suara 49.080. George W. Bush dari Partai Republik mendapat total suara 53.962 pada 2004. Bill Clinton memiliki rekor 76.797 suara pada 1996.

Tidak ada satu pun dari rekor Obama, Bush dan Clinton yang mendekati apa yang diraih oleh Trump di wilayah itu. Lebih dari 100.000 orang memilih untuk memberikan suara, menerjang garis panjang dan kondisi cuaca dingin.

Apa yang terjadi di New Hampshire adalah pertanda bahwa pendukung Trump bersemangat dan antusias tentang pemilu pada bulan November mendatang.

Di kubu Partai Demokrat, pemilu primer di wilayah itu dimenangkan Bernie Sanders yang meraih suara terbanyak 77.122. Saingan terdekatnya, Pete Buttigieg, mendapat 72.729 suara. Namun, peroleh suara kedua bakal calon presiden dari Partai Demokrat itu tak ada yang mendekati angka perolehan Trump.

Dalam pidato kemenangannya, Sanders berargumen bahwa dia adalah sosok Demokrat yang dapat menginspirasi tingkat antusiasme tertinggi dalam pemilih partai—terutama di kalangan kaum muda—dan karena itu mendorong jumlah pemilih yang tinggi dalam pemilihan umum (pemilu) November mendatang.

"Kami memiliki gerakan akar rumput yang belum pernah terjadi sebelumnya dari pantai ke pantai jutaan orang," katanya.

“Kami sedang menyusun gerakan politik multi-generasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, multi-generasi," paparnya, seperti dikutip news.com.au, Jumat (14/2/2020).

"Ini adalah gerakan yang menuntut agar kita akhirnya memiliki ekonomi dan pemerintahan yang bekerja untuk kita semua, bukan kontributor kampanye yang kaya," ujarnya.

Buttigieg mengambil pendekatan yang berbeda, membingkai dirinya sebagai kandidat yang dapat meyakinkan orang independen dan bahkan beberapa pendukung Partai Republik untuk memilih calon presiden Partai Demokrat.

"Ternyata banyak dari kalian. Demokrat yang keras. Independen tidak mau tinggal di sela-sela. Dan bahkan beberapa mantan Republikan yang baru siap memilih sesuatu yang baru. Siap untuk memilih politik yang ditentukan oleh berapa banyak kita menarik, bukan berapa banyak kita mendorong," katanya.

"Kami akan menyambut sekutu baru untuk gerakan kami di setiap langkah," ujarnya.

Ketika kubu Demokrat berdebat tentang strategi pemilihan mereka, Trump sudah memutuskan. Ini semua tentang jumlah pemilih, dan terlihat berfungsi.
(mas)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak