alexametrics

Sejumlah Larangan Aneh di Masa Kekaisaran Rusia

loading...
Sejumlah Larangan Aneh di Masa Kekaisaran Rusia
Tsar Rusia. FOTO/RBTH
A+ A-
MOSKOW - Kekaisaran Rusia, yang berdiri hingga tahun 1917 menciptakan sejumlah larangan aneh pada masa kejayaan mereka. Kekaisran Rusia berdiri setidaknya selama dua abad, sebelum akhirnya runtuh pada 1918.

Melansir RBTH, larangan pertama adalah larangan berjalan-jalan dengan beruang di jalanan. Berjalan-jalan dengan beruang terlatih yang bisa melakukan atraksi, sangat populer di zaman Ketsaran Rusia. Namun pada 1867, Komite Menteri Kekaisaran Rusia mengeluarkan undang-undang yang mengakhiri hal itu.

Menurut hukum, alasan pertama adalah hal ini dianggap kekejaman terhadap hewan dan kedua mendorong perilaku gaya hidup gelandangan dan cabul pada pelatih beruang. Setelah ditetapkan sebagai pelanggaran, aktivitas itu perlahan-lahan mulai menghilang.



Larangan kedua adalah bermain kartu dan dadu. Tsar Alexis, yang berkuasa dari tahun 1629 hingga 1676 sangat menyukai permainan asing, seperti catur, halma, dan dadu. Tetapi anehnya, ia melarang rakyatnya untuk memainkan permainan-permainan tersebut.

Menurut Sobornoye Ulozheniye (Kode Dewan) tahun 1649, "kartu dan dadu" dinyatakan sebagai tindak pidana yang setara dengan pencurian. Hal itu bisa mengarah pada hukuman fisik, mutilasi atau penghinaan.

Ketiga adalah larangan memakan sapi muda. Di masa itu, memotong dan memakan sapi dilarang di Rusia, karena termasuk makanan langka dan dianggap sebuah tindakan gila membunuh sapi yang dapat menghasilkan susu. Membunuh anak sapi juga dianggap sebagai perbuatan jahat.

"Memakan daging sapi muda bahkan lebih buruk daripada memakan daging manusia," kata seorang penjelajah Swedia, Peter Petreius.

Sementara penjelajah asal Jerman, Jacob Reutenfels menulis, bahwa Ivan 'Yang Mengerikan' pernah memerintahkan tiga pekerja non-Rusia untuk dibakar hidup-hidup, karena mereka kedapatan memotong dan memakan seekor anak sapi.

Keempat adalah larangan untuk memelihara janggut. Pyotr Yang Agung, yang berkuasa dari tahun 1682 hingga 1725, menilai bahwa untuk memudahkan orang asing berbisnis dengan orang Rusia, penduduk setempat harus mengubah penampilan mereka yang tampak asing dengan janggut dan pakaian yang tampak aneh!

Pada 1705, Pyotr mengeluarkan hukum yang mengatakan bahwa setiap orang harus mencukur janggut mereka, kecuali budak petani. Namun, bagi mereka yang ingin tetap memlihara janggut mereka, sejak 1715, harus membayar biaya yang sangat besar dan Pelanggar hukum dijatuhi hukuman kerja paksa.

Pajak janggut baru dicabut pada 1772, karena pada saat itu mode telah berubah dan pedagang dan warga Rusia pada umumnya telah berhenti memelihara janggut, kecuali petani dan pendeta.

Kelima adalah larangan untuk membahas atau menggunakan sesuatu yang berhubungan dengan Revolusi Prancis. Pavel I yang naik tahta setelah ibunya Ekaterina II, khawatir bahwa setelah Revolusi Prancis pergolakan juga dapat menular ke Rusia. Pavel adalah teman pribadi Louis XVI dan istrinya Marie Antoinette, jadi dia sangat ketakutan ketika mengetahui eksekusi mereka.

Pavel akhirnya melarang penggunaan asesoris yang berbau Prancis, seperti topi bundar, wig, kumis panjang, rompi, dasi tebal, dah bahkan melarang beberapa kata!

Larangan berikutnya adalah mengkomsumsi tembakau. Tembakau baru masuk ke Moskow baru pada abad ke-16, yang dibawa oleh pedagang Inggris. Orang Rusia pun dengan cepat menyukainya. Mereka semua mulai mengunyah dan menghisap daun tembakau.

Namun, pada 1634, Moskow terbakar. Seperti yang dinyatakan dalam penyelidikan resmi, kebakaran itu disebabkan oleh bara yang jatuh dari pipa rokok seseorang. Sejak itu, tembakau pun dilarang.

Para imam ortodoks juga percaya bahwa merokok itu tidak saleh, karena asap pada umumnya dikaitkan dengan roh-roh jahat. Merokok bahkan dapat dihukum dengan pengasingan ke Siberia dan sejumlah hukuman mengerikan lainnya.
(esn)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak