Salwan Momika Si Pembakar Al-Quran Ditembak Mati saat Live TikTok, Swedia Salahkan Kekuatan Asing
Jum'at, 31 Januari 2025 - 07:30 WIB
loading...
A
A
A
Pembakaran kitab suci, oleh Momika dan yang lainnya, mempersulit masuknya Swedia ke NATO. Turki menangguhkan pembicaraan dengan Swedia mengenai aplikasi NATO pada Januari 2023 setelah Rasmus Paludan, seorang aktivis Swedia-Denmark yang telah dihukum karena pelecehan rasis, membakar salinan Al-Quran di luar Kedutaan Turki di Stockholm.
Swedia akhirnya bergabung dengan NATO pada Maret 2024, hampir setahun setelah Finlandia, meskipun kedua negara Nordik tersebut mengajukan aplikasi secara bersamaan.
Pada bulan April 2023, Momika mengatakan kepada surat kabar Aftonbladet bahwa dia tidak ingin menimbulkan masalah bagi Swedia. "Saya tidak ingin merugikan negara yang telah menerima saya dan menjaga martabat saya," katanya.
Namun, protesnya justru membuat pemerintah pusing.
Meskipun Momika mendapatkan perlindungan polisi selama protes dan saat menghadiri pengadilan, pengacaranya; Anna Roth, mengatakan kepada kantor berita nasional Swedia; TT, bahwa sejauh pengetahuannya, Momika tidak mendapatkan perlindungan di rumah. "Dia sangat menyadari bahwa ada ancaman besar terhadapnya. Ada harga yang harus dibayar untuk kepalanya," kata Roth.
Pada bulan Maret 2024, Momika meninggalkan Swedia untuk mencari suaka di Norwegia, dan mengatakan kepada Agence France-Presse bahwa kebebasan berekspresi dan perlindungan hak asasi manusia di Swedia adalah "kebohongan besar". Norwegia mendeportasinya kembali ke Swedia hanya beberapa minggu kemudian.
Badan migrasi Swedia ingin mendeportasi Momika karena memberikan informasi palsu pada aplikasi izin tinggalnya, tetapi tidak dapat melakukannya karena dianggap dapat menghadapi penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi di Irak.
Swedia akhirnya bergabung dengan NATO pada Maret 2024, hampir setahun setelah Finlandia, meskipun kedua negara Nordik tersebut mengajukan aplikasi secara bersamaan.
Pada bulan April 2023, Momika mengatakan kepada surat kabar Aftonbladet bahwa dia tidak ingin menimbulkan masalah bagi Swedia. "Saya tidak ingin merugikan negara yang telah menerima saya dan menjaga martabat saya," katanya.
Namun, protesnya justru membuat pemerintah pusing.
Meskipun Momika mendapatkan perlindungan polisi selama protes dan saat menghadiri pengadilan, pengacaranya; Anna Roth, mengatakan kepada kantor berita nasional Swedia; TT, bahwa sejauh pengetahuannya, Momika tidak mendapatkan perlindungan di rumah. "Dia sangat menyadari bahwa ada ancaman besar terhadapnya. Ada harga yang harus dibayar untuk kepalanya," kata Roth.
Pada bulan Maret 2024, Momika meninggalkan Swedia untuk mencari suaka di Norwegia, dan mengatakan kepada Agence France-Presse bahwa kebebasan berekspresi dan perlindungan hak asasi manusia di Swedia adalah "kebohongan besar". Norwegia mendeportasinya kembali ke Swedia hanya beberapa minggu kemudian.
Badan migrasi Swedia ingin mendeportasi Momika karena memberikan informasi palsu pada aplikasi izin tinggalnya, tetapi tidak dapat melakukannya karena dianggap dapat menghadapi penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi di Irak.
(mas)
Lihat Juga :