Analis: Ide Donald Trump Gusur Warga Gaza Mengancam Yordania dan Mesir
Senin, 27 Januari 2025 - 10:28 WIB
loading...
Para analis menilai ide Presiden As Donald Trump gusur warga Gaza ke Yordania dan Mesir merupakan tindakan mengancam dua negara Arab tesebut. Foto/Screengrab video Al Jazeera
A
A
A
GAZA - Gagasan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menggusur sementara warga Gaza ke Mesir dan Yordania merupakan langkah bermusuhan terhadap kedua sekutu Amerika tersebut dan bertujuan untuk melenyapkan perjuangan Palestina.
Penilaian itu disampaikan para analis Yordania kepada AFP, Senin (27/1/2025).
Trump pada hari Sabtu melontarkan gagasan “membersihkan" Gaza setelah lebih dari 15 bulan perang antara Israel dan Hamas telah mengubah wilayah Palestina itu menjadi "lokasi pembongkaran".
"Saya lebih suka terlibat dengan beberapa negara Arab dan membangun perumahan di lokasi yang berbeda di mana mereka mungkin dapat hidup dengan damai untuk perubahan," kata Trump.
Baca Juga: Ini Respons Israel dan Hamas soal Trump Ingin Gusur Warga Gaza ke Yordania dan Mesir
Dia mengatakan pemindahan warga Gaza ke negara tetangga; Mesir dan Yordania, dapat dilakukan sementara atau bisa juga jangka panjang.
Bagi Oraib Rantawi, direktur Pusat Studi Politik Al-Quds di Amman, gagasan tersebut merupakan "posisi bermusuhan" dari pemerintahan baru AS terhadap Palestina, Yordania, dan Mesir.
Penilaian itu disampaikan para analis Yordania kepada AFP, Senin (27/1/2025).
Trump pada hari Sabtu melontarkan gagasan “membersihkan" Gaza setelah lebih dari 15 bulan perang antara Israel dan Hamas telah mengubah wilayah Palestina itu menjadi "lokasi pembongkaran".
"Saya lebih suka terlibat dengan beberapa negara Arab dan membangun perumahan di lokasi yang berbeda di mana mereka mungkin dapat hidup dengan damai untuk perubahan," kata Trump.
Baca Juga: Ini Respons Israel dan Hamas soal Trump Ingin Gusur Warga Gaza ke Yordania dan Mesir
Dia mengatakan pemindahan warga Gaza ke negara tetangga; Mesir dan Yordania, dapat dilakukan sementara atau bisa juga jangka panjang.
Bagi Oraib Rantawi, direktur Pusat Studi Politik Al-Quds di Amman, gagasan tersebut merupakan "posisi bermusuhan" dari pemerintahan baru AS terhadap Palestina, Yordania, dan Mesir.
Lihat Juga :