Jenderal Uni Eropa Minta Tentara Dikerahkan ke Greenland, Rusia Dijadikan Alasannya

Minggu, 26 Januari 2025 - 06:56 WIB
loading...
Jenderal Uni Eropa Minta...
Ketua Komite Militer Uni Eropa Jenderal Robert Brieger minta Uni Eropa kerahkan tentara militer ke Greenland. Foto/eda.europa.eu
A A A
BRUSSELS - Ketua Komite Militer Uni Eropa (EUMC) Jenderal Robert Brieger mengatakan Uni Eropa harus mengerahkan tentara militer ke Greenland. Pentingnya geopolitik Greenland dan ketegangan dengan Rusia dan China menjadi alasan atas seruannya.

Seruan Jenderal Brieger muncul saat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bermaksud membeli pulau itu.

"Sangat masuk akal untuk tidak hanya menempatkan pasukan AS di Greenland, seperti yang terjadi hingga saat ini, tetapi juga untuk mempertimbangkan penempatan tentara Uni Eropa di sana di masa mendatang," kata Brieger kepada Die Welt pada hari Sabtu, merujuk pada pangkalan militer utama AS yang telah ada di sana sejak awal 1940-an.

“Pengerahan semacam itu akan mengirimkan sinyal yang kuat dan dapat berkontribusi pada stabilitas di kawasan tersebut,” kata mantan kepala staf militer Austria tersebut, yang saat ini memimpin badan yang mencakup kepala staf militer negara-negara anggota Uni Eropa.

Baca Juga: Denmark: Greenland Mungkin Bisa Merdeka, tapi Mustahil Gabung AS

Brieger mengatakan bahwa meskipun wilayah otonomi Denmark tersebut secara hukum bukan bagian dari blok Uni Eropa, orang Eropa—seperti halnya AS—memiliki kepentingan di Greenland.

Jenderal tersebut mengutip deposit bahan baku yang melimpah di pulau tersebut dan kedekatannya dengan rute perdagangan internasional, menyebutnya sebagai wilayah yang sangat penting dari sudut pandang geopolitik. Dia juga menggambarkan wilayah tersebut sebagai “sangat relevan dari perspektif kebijakan keamanan”.

Merujuk pada klaim AS atas pulau tersebut, Brieger mengatakan bahwa dia berharap Washington menghormati integritas teritorial negara-negara lain dan Piagam PBB.

Sebaliknya, sang jenderal menarik perhatian pada potensi ketegangan dengan Rusia dan mungkin China di wilayah tersebut jika lapisan es kutub terus mencair karena perubahan iklim.

Greenland baru-baru ini menjadi berita utama karena Trump telah berulang kali mengeklaim bahwa kepemilikan pulau Arktik Denmark yang kaya mineral itu diperlukan untuk keamanan nasional AS. Awal bulan ini, dia menolak untuk mengesampingkan solusi militer untuk merebut pulau tersebut.

Brussels menanggapi komentar Trump dengan menggambarkan potensi serangan AS sebagai masalah yang sangat teoritis. Keinginan Trump untuk memperoleh pulau tersebut dilaporkan telah memicu kekhawatiran di Kopenhagen.

Pada hari Jumat, Financial Times melaporkan bahwa cara agresif presiden AS dalam mendorong gagasan tersebut melalui panggilan telepon dengan Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen awal bulan ini memicu kepanikan di ibu kota negara Nordik tersebut.

Sumber surat kabar tersebut menggambarkan percakapan selama 45 menit itu sebagai "mengerikan" dan membandingkannya dengan "mandi air dingin”.

Frederiksen dilaporkan menegaskan kembali sikap Denmark bahwa pulau itu tidak untuk dijual.

Awal minggu ini, seorang politikus Denmark, Anders Vistisen, berbicara di parlemen Uni Eropa di Strasbourg dan mengatakan kepada Trump untuk "pergi saja”, menyuarakan penentangannya terhadap gagasan AS untuk mengakuisisi Greenland.

Beberapa anggota Partai Republik di Kongres AS setidaknya telah mempertimbangkan gagasan Trump tersebut.

Anggota Kongres dari Partai Republik Andy Ogles mengajukan rancangan undang-undang (RUU) untuk mengizinkan Trump mengakuisisi Greenland, dengan mengatakan AS harus menjadi "predator dominan”. Dia menjuluki RUU tersebut “Make Greenland Great Again”.

Carla Sands, mantan duta besar Trump untuk Denmark, juga secara terbuka mendukung usulan tersebut, dengan menyatakan bahwa Denmark tidak dapat mempertahankan pulau tersebut secara memadai dan menyarankan bahwa kendali AS akan menjadi "solusi yang masuk akal”.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rudal Ukraina Hancurkan...
Rudal Ukraina Hancurkan Pabrik Senjata Rusia
Jet Tempur China dan...
Jet Tempur China dan Rusia Kompak Masuk ke Zona Pertahanan Udara Korsel
Ukraina Berusaha Rebut...
Ukraina Berusaha Rebut Kesempatan Pertama untuk Menang, tapi Kenapa Selalu Gagal?
Lebih dari 50.000 Orang...
Lebih dari 50.000 Orang Dilaporkan Hilang akibat Gempa Venezuela
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan...
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan di Teluk yang Rusak Akibat Serangan Iran ke Israel
Lebanon dan Israel Tandatangani...
Lebanon dan Israel Tandatangani Kesepakatan Kerangka Kerja untuk Akhiri Perang
10 Negara dengan Biaya...
10 Negara dengan Biaya Hidup Termahal di Dunia pada 2026, Ada Tetangga Indonesia
Update Korban Gempa...
Update Korban Gempa Venezuela: 235 Orang Tewas dan 70.000 Keluarga Terdampak
2 Gempa Dahsyat M7,2-7,5...
2 Gempa Dahsyat M7,2-7,5 Guncang Venezuela, 32 Orang Tewas 700 Luka
Rekomendasi
Saatnya Muktamar NU...
Saatnya Muktamar NU Hadirkan Kepemimpinan yang Tak Lagi Wariskan Pertengkaran Berkepanjangan
Jalur Hormuz Mulai Stabil,...
Jalur Hormuz Mulai Stabil, Saudi Aramco Kembali Ekspor Minyak setelah Mandek 4 Bulan
MEKAR Kembangkan Ekosistem...
MEKAR Kembangkan Ekosistem Pembiayaan Produktif
Berita Terkini
Penasihat Mojtaba Khamenei:...
Penasihat Mojtaba Khamenei: Iran Akan Selalu Cepat dan Tegas Setiap Serangan AS
Rudal Ukraina Hancurkan...
Rudal Ukraina Hancurkan Pabrik Senjata Rusia
UEA Keluarkan Alarm...
UEA Keluarkan Alarm Rudal Iran, Beberapa Detik Kemudian Dicabut, Pemerintah Minta Maaf
Pesawat Tabrak Gedung...
Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi di China, 1 Jam Setelahnya Tampak Normal
Jet Tempur China dan...
Jet Tempur China dan Rusia Kompak Masuk ke Zona Pertahanan Udara Korsel
Balas Serangan AS, Iran...
Balas Serangan AS, Iran Gempur Bahrain
Infografis
Uni Eropa Mempertimbangkan...
Uni Eropa Mempertimbangkan Kembali Pakai Gas Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved